Translate

Selasa, 10 Juli 2018

PENJARA ITU BERNAMA KELUH KESAH Oleh: SAOR R.S.S.S. PANJAITAN


PENJARA ITU BERNAMA KELUH KESAH

Saor R.S.S.S. Panjaitan

Keluh kesah adalah penjara bagi pikiran yang bebas dan kreatif  #SP#101017#

 







Sudah lama saya berniat untuk membuat berbagai tulisan yang didasarkan atas berbagai quotes yang selama ini saya posting di media Facebook. Sudah ribuan quotes sejak 4 Januari 2017, namun belum satupun yang sempat untuk dijadikan tulisan meskipun niat dan semangat sudah membara sejak setahun lalu bahkan diawal mengalirnya berbagai quotes dari samudera pikiran ke dunia nyata.

Saya tidak ingin berdalih terlalu sibuk sehingga belum juga mengejawantahkan quote-quote tersebut ataupun kehabisan kata-kata tertulis untuk menguraikannya. Yang pasti malas memulai atau hobi menunda-nunda lebih pantas saya ungkapkan sebagai alasan obyektif belum juga terealisasinya tulisan-tulisan tersebut, ataupun juga sebagaimana judul tulisan pertama ini yaitu penjara keluh kesah mungkin menjadi sipir penahan kebebasan dan kreatifitas diri dalam mengalirkan berbagai tulisan untuk dinikmati dan dikritisi oleh khalayak pecinta hikmat.

Tulisan pertama saya mulai dengan menelusuri quote mana kira-kira yang dapat menuntun saya dengan sabar untuk berkarya melalui tulisan meskipun harus tertatih-tatih di padang gurun referensi.

Akhirnya terpilih quote yang diposting pada 10 Oktober 2017 tentang keluh kesah. Di tanggal itu sendiri sebenarnya ada 8 quotes tentang keluh kesah, namun saya memilih quote ini untuk menggambarkan sekaligus menegaskan bahwa keluh kesah memang rawan menjadi penjara bagi kebebasan berpikir dan berkreatifitas.

Keluh kesah adalah suatu perasaan susah, gelisah atapun tidak senang yang diwujudkan dengan suara mengaduh, menarik napas dan bentuk lainnya yang sejenis.

Penyebab dari perasaan tersebut bisa saja karena sakitnya raga ataupun jiwa secara medis maupun spiritual ataupun hal-hal lainnya yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari.

Ada segolongan orang yang hanya karena tidak mempunyai mobil dia terus berkeluh kesah padahal memiliki motor. Ada juga yang mengeluhkan mahalnya uang sekolah anak di bangku SMA padahal kenyataannya berhasil menyekolahkan anak melewati TK, SD dan SMP.

Ada lagi segolongan lainnya yang mengeluhkan kenaikan harga telur dan menceritakannya kemana-mana termasuk di media sosial sementara di rumahnya lebih sering memakan ikan sekelas Salmon, fillet Tuna ataupun Beef Teriyaki, Beef Bacon bahkan sampai olahan Mr. Krabs dan Squidward Tentacles teman-teman bercandanya SpongeBob! atau kalaupun lagi malas masak biasanya ‘jajan’ baik untuk lunch maupun dinner dengan Donburi Chicken Mayo Rice atau ‘dada montok’ fried Chicken di outlet-outlet Kolonel Sanders dimana saat prosesinya tidak melupakan gadget mulai dari Xiaomi Redmi 5A sampai Huawei Mate 9 Porsche Design 256 GB Black yang memakai kamera Leica generasi kedua berlisensi dengan resolusi kamera 12 MP dan kamera monochrome 20 MP f/2.2, autofocus dan dilengkapi LED flash yang dibandrol seharga dua puluh lima juta rupiah! untuk mendokumentasikan dan sesegera mungkin di-share mulai dari Facebook, Line sampai Instagram.

Ada lagi golongan yang mengeluhkan sampai mengutuki tanpa logika dan hati nurani pemimpin bangsanya sendiri yang terpilih secara demokratis. Mereka mengklaim diri paling benar dan suci yang membuktikan diri dengan kegemaran berputih ria, mencatut ayat-ayat langit dan unjuk gigi berderet-deret di jalanan dengan speaker, dan menggagahkan diri dengan bambu berbendera yang seakan-akan senapan S2 varian 4, padahal yang diteriakkannya patut diduga melulu adalah titipan yang bersayapkan uang dan pengisi perut aneka bungkus nasi dengan menu khas dari rumah makan kelas pinggiran jalan dari para oknum penggila kekuasaan yang tak rela lapak-lapak sekelas milyaran dollar mereka digusur tanpa kompromi. Keluh kesah golongan ini begitu hitam, pahit dan membusukkan peradaban dan urat malu bangsa ini di tengah-tengah komunitas internasional maupun jalannya sejarah peradaban kemanusiaan.

Sementara di pinggir sebuah danau nan elok dan sejuk yang jika dilihat dari jendela pesawat Qatar Airways yang melintas di atasnya laksana kepingan sorga yang jatuh ke bumi, sesosok perempuan yang sebenarnya terkategori renta baik raga maupun pemikirannya berkeluh kesah dan meledakkan keluh kesahnya dengan emosi level kaisar Nero sembari pongah sesumbar mengklaim bahwa keluh kesah dan tuntutannya adalah mewakili keluarga korban kapal Sinar Bangun di danau Toba yang penuh dengan pesona magis itu. Saya pribadi tidak rela dikatakan korban Danau Toba karena danau itu sendiri hanya menggeliatkan dirinya secara alamiah sesuai dengan tuntutan jalannya simponi alam saat itu. Keluh kesah yang dimanifestasikan dengan emosi laksana erupsi Gunung Agung kebanggaan masyarakat Hindu nan santun di pulau dewata yang ramai dengan karya dan manifestasi kebudayaannya yang bebas dan kreatif, dihadapan keluarga korban yang sedang disambangi dengan empati oleh wakil dari pemerintah. Keluh kesah wanita rapuh raga dan hati nurani ini bergayung sambut memalukan, karena justru keluarga yang diklaimnya sedang dibelanya malah mengusirnya dengan tandingan kemarahan karena merasa dijadikan tunggangan bernuansa politik kotor tanpa etika dan tentunya sarat dengan pengeluh kesah.

Keluh kesah juga bahkan membayangi rakyat jerman ketika para pahlawan bola mereka bertransformasi menjadi pecundang bola saat team juara bertahan tersebut kandas dan dipermalukan di babak pertama Piala Dunia 2018 di Rusia. Mitos kutukan juara bertahan kandas di babak pertama bersegera mengabuti pikiran waras rakyat Jerman atas kekalahan tersebut. Tragedi yang sebenarnya bukan tragedi ini (seperti kelaparan, bencana alam, wabah penyakit, dan korban kekerasan perang) juga meluaskan korban-korbannya ke babak lanjutan yang ditandai dengan ambruknya kesebelasan negara-negara dari beberapa maestro bola sekelas Lionel Messi, Ronaldo, Neymar dan Suarez. Rasanya keluh kesah rakyat dari negara yang mereka wakili pantas melangit karena mereka adalah milyuner yang kenyang pengalaman dan harta dari mengolah bola di klub-klub ternama Eropa. Keluh kesah tingkat tinggi ini bahkan menular dan mewabah bagaikan ‘Maut Hitam’ dari bakteri Yersinia Pestis yang membonceng pada kutu yang ditengarai berasal dari Asia Timur atau Tengah dan kemudian menyebar ke seluruh Asia, Eropa dan Afrika Utara dan pesisir Samudra Atlantik dimana hanya dalam tempo dua tahun membunuh 200 juta orang. Saya yakin keluh kesah sebagai multi efek yang merantai banyak penggila bola dari negara-negara yang kalah tersebut jauh lebih dahsyat menghantam para penggemarnya di lima benua dan lima samudera (penggemar yang sedang bertugas ataupun pelesiran di kapal-kapal yang melintasi samudera-samudera tersebut) bahkan sampai jauh ke utara dan selatan baik di kutub utara maupun selatan dimana suku eskimo dan para peneliti manca negara menetap sementara di dataran dingin itu untuk melakukan penelitian.

Bukti lainnya dapat ditemukan disuatu kawasan di ujung perbatasan antara Kabupaten Tangerang dan kabupaten Bogor tepatnya di sebuah pemukiman bernama Perumahan Legok Permai, para penggila bola dari negara-negara tersebut memproklamasikan bahwa Piala Dunia 2018 sudah berakhir tepat di menit pertama pasca ditiupnya pluit tanda berakhirnya pertandingan yang mengalahkan team favorit mereka. Semua kelelahan menonton bola sampai menjelang ayam bersiap berkokok memberitahukan bumi bahwa fajar segera menyingsing, sampai efek mengantuk dan terlambat mengantor dan habisnya kopi, ubi rebus, kacang yang diimpor dari Indomaret bahkan pencuekan istri yang resah mendesah di kamar tidur menanti suami yang bagaikan kesurupan berteriak-teriak sepanjang pertandingan, rasanya semua berlalu sia-sia sehingga patut dimaklumi jika mereka berani menentang FIFA dengan menyatakan bahwa piala dunia 2018 sudah selesai dengan keluh kesah panjang yang terbawa sampai kantor dan dunia mimpi. Keluh kesah jenis ini paling ringan hanya meletihkan badan ataupun cekcok rumah tangga dimana istri bersegera menyembunyikan remote TV sebagai ungkapan kekesalan hati dan bathinnya sampai yang paling berat merontokkan semangat kerja disaat pemimpin bangsa sedang kuat-kuatnya mengampanyekan revolusi mental dengan jargon andalannya: ‘Kerja – Kerja  – Kerja!’

Keluh kesah menyebar kesana-sini di Millenium Ketiga diantara generasi instan penyedot susu sapi sampai manusia-manusia sisa dari dekade terakhir abad kedua puluh. Dari Homo Sapiens dengan ciri-ciri mencampur adukkan mitos-mitos para dewa sekelas Cronus, Zeus, Hermaphrodite, Arthemis, Brahma, Syiwa, Thor, Ra, bahkan Debata Mulajadi Nabolon dan para manusia sekelas nabi seperti Musa, Daud, confusius, bahkan Diego Maradona, nabi yang diciptakan para penggila kemampuan berbolanya dan si Ratu talkshow Oprah Winfrey yang mendaulatkan diri sebagai pendiri sekaligus pemimpin agama ‘O’ yang dideklarasikannya di Chicago dengan Gayle King editor O, The Oprah Magazine menjadi uskup agungnya dan sudah diakui sebagai agama resmi di Kanada, Jepang dan Selandia Baru, dan ciri peradaban lainnya yaitu mengutamakan kekuatan uang, kesetaraan gender dan kebebasan Humanity hingga mencapai tapakan perjalanan sejarah yang sekarang menurut Yuval Noah Harari si profesor Yahudi, dosen universitas Ibrani, di Yerusalem adalah masa Homo Deus dimana kekuatan teknologi berupa kecerdasan buatan dan rekayasa genetika telah menggeser kekuatan dewa bahkan siapapun yang dianggap Tuhan oleh berbagai agama dan kepercayaan yang pernah ada dan masih ada di muka bumi ini.

Keluh kesah juga mungkin pernah menjangkiti Waljinah ‘The Queen of Sinden’ yang resah mempertahankan kualitas suara dan panjangnya nafas ditengah-tengah fakta habisnya gigi asli sehingga harus bergigikan palsu dan keriput sekujur tubuh yang tak terhalau lagi meski jamu sekelas Sido Muncul dan Nyonya Meneer dengan produk terbaiknya yang diperuntukkan untuk ekspor sudah bertumpuk-tumpuk menghujani permukaan kulitnya yang dulu bahkan sempat dikagumi Soekarno.

Aneka keluh kesah inilah yang jika terlalu sering dilantunkan dalam nada pelog selendro yang fals akan bertransformasi menjadi penjara kasat mata yang dengan kejam dapat memenjarakan berbagai pikiran sehat, cerdas bahkan berkelas hikmat Illahi serta aneka kreatifitas yang dapat memudahkan kehidupan kemanusiaan kita.

Jika pikiran yang semestinya bebas untuk dikembarakan kemanapun dia berlari telah terbelenggu, maka ancaman kepada nilai-nilai kemanusiaan yang dihasilkan oleh akal budi terancam eksistensinya. Pikiran adalah ibu kandung dari semua kebudayaan manusia. Tidak bisa dipungkiri bahwa sejatinya iman pun ada karena manusia memulainya dengan berpikir sekalipun pada prosesnya kemudian, iman senantiasa membelai pikiran agar tidak terlalu over dosis menunjukkan jati dirinya sehingga keberadaan Illahi yang supranatural pada akhirnya tergerus terabaikan.

Hasil pikiran juga melemparkan tinggi-tinggi kreatifitas manusia sehingga mampu membuat film sekelas Star Wars terbang jauh menjangkau sudut-sudut alam semesta meninggalkan realita kehidupan kontemporer.

Di dunia Superhero, bukan lagi hanya memamerkan super power Superman ataupun Spiderman yang dari ‘sononya’ memang baik, kini ada sosok Thanos big boss para penjahat di Infinity War yang bagaikan realita di depan mata dan pikiran anak-anak, remaja bahkan orang dewasa, yang menimbang-nimbang bahwa Thanos mungkin saja ada dan akan bangkit kembali menguasai seluruh alam semesta. Bukankah suatu ironi peradaban bahwa pikiran yang eksis di dunia abstrak mampu menciptakan pikiran lain secara simultan di dunia khayal manusia lainnya bahkan diwujud nyatakan melalui film, gambar, mainan, kaos bahkan komunitas fanatik yang dalam penghayatannya bisa saja mengubahnya menjadi agama atau keyakinan baru mengalahkan agama, kepercayaan bahkan ideologi yang sudah ada sebelumnya.

Penting dan urgen untuk menghalau keluh kesah berkepanjangan dan simultantif dari tiap makhluk yang berakal budi. Faktor penyebab keluh kesah mestinya segera dicarikan solusinya baik dari diri sendiri, mentor, psikiater, rahib, ustad, pendeta dan para ahli bedah otak dan syaraf bahkan para motivator ulung seperti Jansen ‘Mr. Ethos’ Sinamo, Tung Desum Waringin, Andri Wongso, dan motivator ekonomi Rheinald Khasali yang berembelkan Profesor Doktor!

Oh ya, satu lagi jangan dilupakan motivator ulung pembebas masalah yang ditengarai hasil olah kata-katanya mampu membebaskan semua manusia dari penjara-penjara bernama keluh kesah tersebut yaitu Mario Teguh yang sukses merobohkan penjara keluh kesah sesama namun tersandung dan terbelenggu ke dalam penjara pikiran masa lalu yang ketika pintunya terkuak akhirnya memenjarakan semua olahan kata-kata hikmat manusia yang menggembung di otaknya yang mestinya telah siap dibagikan diberbagai kelas atau acara motivasi. Sebaiknya kita berharap dalam doa semoga tidak ada lagi penjara masa lalu dipikirannya dan sesegera mungkin dapat bangkit dari liang kubur masa lalu yang memalukan dan kembali membawa pencerahan kepada banyak pikiran yang sulit berpikir bebas dan kreatif karena kompleksnya atau mungkin cintanya kepada keluh kesah.

Terakhir saya harus membuat pengakuan atas baru munculnya tulisan yang didasari atas ribuan quotes yang sudah saya posting di Facebook. Seringkali muncul dakwaan dari hati bahwa sebenarnya saya sendiripun telah terpenjara pikiran bebas dan kreatifitasnya karena begitu ragamnya corak dan panjangnya keluh kesah yang menggeluti hidup saya sehingga baru tulisan ini saja yang dapat saya bagikan kepada anda.

Syukurlah saya perlahan mulai lepas dari penjara bernama keluh kesah itu, mudah-mudahan masih ada banyak hari dimana saya mampu menuangkan pikiran bebas dan kreatifitas khususnya dalam menulis.

Wah .... mungkinkah saya akan mampu membuat tulisan-tulisan berikutnya sementara daftar tunggu dari quotes sudah menunggu begitu panjangnya?

Saya mohon kalimat di atas jangan anda lihat sebagai keluh kesah, please ......!


Lawson Ruko Viena
Tangerang, 10 Juli 2018




Senin, 02 Juli 2018

MEMAKSA ETIKA TANPA INISIATIF OLEH: SAOR R.S.S.S. PANJAITAN


MEMAKSA ETIKA TANPA INISIATIF

Saor R.S.S.S. Panjaitan



Hari itu saya masuk ke sebuah mini market yang berada di pinggiran kawasan Gading Serpong yang tidak jauh dari akses masuk ke perumahan Medang Lestari Tangerang. Di dalam tampak sepi, hanya ada dua pelanggan yang mengantri dilayani kasir wanita (Si A) dan tiga karyawan lainnya: dua pria, dimana yang satu sibuk mengutak-atik komputer (si B) dan satunya lagi (si C) sedang memotong-motong buah naga untuk dimasukkan ke dalam kemasan plastik, sementara yang wanita (si D) terlihat sedang menggunting-gunting label harga.

Niat saya belanja adalah untuk membeli jeruk bayi Pacitan yang memang terkadang dijajakan di mini market ini. Beruntung hari itu ada stok di meja display buah-buahan. Saat sedang memilih jeruk, masuk tiga anak muda yang nampaknya adalah mahasiswa yang ingin membeli minuman ringan dan makanan cemilan.

Setelah mendapatkan tujuh buah yang lumayan baik, saya segera menuju karyawan (si C) yang sibuk memotong-motong buah tadi untuk ditimbang dan diberi label harga.


Setelah ditempel label harga saya bergegas menuju kasir wanita (si A) yang melayani kedua pelanggan yang masih juga mengantri tadi. Nampaknya pelanggan yang pertama cukup banyak belanjaannya sehingga sampai saya hendak membayar belum juga selesai. Sementara pelanggan kedua seorang pria muda (si E) yang hanya membeli beberapa minuman ringan dan makanan kecil. Saya perkirakan transaksi pembayaran yang belum juga selesai sejak dari awal saya masuk sampai berdiri di belakang mereka kurang lebih tujuh menit (diluar perkiraan waktu sebelum saya masuk), suatu rentang waktu yang cukup lama karena satupun belum ada yang tuntas diselesaikan.


Saya melihat ke arah karyawan yang masih sibuk mengetik di komputer kasir (si B) dan serta merta menanyakan apakah anjungan kasir di sebelah kasir wanita (si A) tadi bisa dipakai atau tidak. Dia merespon dengan meminta karyawan wanita (si D) yang sedang menggunting label harga tadi untuk melayani permintaan saya.

Sesampainya di anjungan kasir, saya yang sudah berdiri di depannya tiba-tiba mendengar kasir wanita (si A) yang sedang melayani tadi langsung mengatakan kepada rekannya bahwa pria muda yang mengantri di belakang pelanggan yang belum juga selesai dilayaninya lebih dulu mengantri. Memang benar pria tadi lebih dulu mengantri di anjungannya dan tampaknya cukup sabar tanpa ekspresi apapun menunggu untuk dilayani. Karena diberitahu bahwa dialah yang duluan mengantri maka kasir kedua tersebut (si D) mempersilahkan si pria (yang segera pindah antrian) untuk menyerahkan belanjaannya untuk dihitung dan mengabaikan saya yang sudah di depannya dan berdiri di sana karena berinisiatif menanyakan apakah anjungan kasir yang sekarang dipakai bisa digunakan atau tidak.


Demi kebaikan bersama saya mengalah, namun tumbuh pertanyaan dalam benak manakah yang lebih etis, saya atau kedua kasir tersebut? Ada dua hal tindakan tidak profesional dan non etis yang berkembang dipikiran saya


Pertama, jika kita amati secara umum kepada semua pihak dengan mengasumsikan tidak adanya inisiatif saya untuk bertanya kepada si B maka kondisi yang akan terjadi adalah saya akan mengantri di belakang pria muda (si E) tersebut dan transaksi akan berjalan cukup lama. Terlihat dari cara melayani si kasir (si A) kurang cekatan dan profesional melayani pelanggan pertama sehingga terkesan lamban, sementara baik si B yang mungkin supervisor mereka dan si D yang terus sibuk dengan pekerjaan internalnya mungkin juga terkesan sebagai pekerja yang baik namun saya pikir mereka juga tidak etis karena membiarkan pelanggan menunggu lama padahal masih ada dua anjungan kasir yang kosong dan bisa digunakan.

Lambannya pelayanan pelanggan bukan hanya memberi kesan mini market tersebut lemah dalam memberikan kepuasan pelanggan namun juga membiarkan tindakan tidak professional dan non etis dibiarkan yang pada akhirnya akan merugikan nama baik perusahaan.


Kedua, inisiatif yang saya lakukan yaitu dengan bertanya pada si B tentang apakah anjungan kasir bisa digunakan atau tidak.

Pada kenyataannya memang anjungan tersebut tidak rusak dan ada kasir (si D) yang siap untuk bekerja walaupun masih mengerjakan hal remeh yaitu mengunting label harga. Adalah hak pelanggan untuk minta dilayani ketika memang perlengkapan dan personil yang ada memungkinkan. Inisiatif tersebut selain untuk mengakomodir efisiensi waktu juga mengingatkan tugas utama karyawan dalam melayani pelanggan karena bisnis seperti mini market tentunya membutuhkan nama baik dan kepuasan pelanggan demi majunya usaha tersebut.


Namun inisiatif pelanggan direspon negatif oleh semua karyawan mini market tersebut yaitu si A, B, dan D.


Si B yang kemungkinan supervisor tadi tidak responsif dengan kebutuhan pelanggan untuk cepat dilayani dan membiarkan si A maupun D melayani terlebih dahulu pelanggan yang tidak punya inisiatif sama sekali yaitu si E.


Si A yang kasir pertama selain lamban dalam melayani pelanggan, juga dengan seenaknya memerintahkan si D untuk melayani si E tanpa menghiraukan saya yang memang mempunyai inisiatif, sudah berada di depan anjungan kasir dan sangat menghargai waktu. Tindakan si A adalah untuk menutupi kelemahannya dan tidak mengherankan jika diapun mengakomodir orang yang tidak punya inisiatif (si E) untuk dilayani lebih dulu. Tindakan si A jelas tidak etis dan mengabaikan tindakan positif yang justru dilakukan untuk mengurangi beban kerjanya.


Si D juga tidak etis karena menunggu lebih dahulu perintah dari si B untuk melayani pelanggan. Tindakan tanpa inisiatif untuk segera melayani pelanggan dan mengakomodir keinginan si A yang memerintahkan melayani terlebih dahulu si E tanpa bertanya atau meminta persetujuan kepada saya juga adalah tindakan tidak etis yang tidak menghargai inisiatif yang saya lakukan. Sebenarnya baik si D maupun A seharusnya dapat menduga bahwa tidak akan ada komplain dari si E jika saya yang lebih dahulu dilayani karena memang si E bersikap tanpa inisiatif dan apatis dan kemungkinan besar juga tidak terburu-buru.


Sayapun tentunya bisa dikategorikan tidak etis juga walaupun memiliki inisiatif jika saya meresepon negatif dengan protes atau bahkan kemarahan karena justru si E yang lebih dahulu dilayani. Bagi si A dan D mungkin saya akan dinilai tidak etis jika memaksa untuk dilayani terlebih dahulu. Saya yang memiliki inisiatif dipaksa mereka untuk bersikap etis atas sikap dan tindakan mereka yang tidak etis. Beruntung saya masih menggunakan akal sehat dan kesabaran untuk mempraktekkan nilai-nilai etis dalam berinteraksi dengan orang-orang yang kurang menyadari makna inisiatif dan etika.

Sikap mengalah saya hari itu tanpa protes dan kemarahan menunjukkan jati diri saya yang bukan hanya menghargai inisiatif dan etika, namun juga berusaha mengerti kondisi orang lain sekalipun orang tersebut tidak menghargai kondisi saya.

Kerugian saya cuma satu yaitu waktu yang terbuang percuma, namun kerugian mini market tersebut saya rasa cukup besar karena menghentikan peluang keuntungan yang didapat dari pelanggan dikemudian hari yaitu minimal saya dan tentunya pelanggan-pelanggan lainnya yang mengalami hal sama dengan saya.


Tidak heran jika saya sering heran ketika melewati mini market yang cukup besar dengan posisi yang sangat strategis tersebut terlihat sepi pengunjung saat saya melewatinya. Mungkin saya cuma melewatinya, namun saya melewatinya minimal dua kali dalam sehari. Semoga bermanfaat bagi yang menghargai inisiatif dan etika dan bagi mereka yang belum menyadari manfaat dari keduanya.


Tunggu dulu …., Bagaimana dengan si E?

Saya lihat dia keluar sembari cengar-cengir dan rasanya saya bisa mendengar suara aneh dari hatinya yang membahana keluar menghantam otak saya, katanya: “Emangnya gua pikirin…!”

Minggu, 25 Februari 2018

GOD AND GOD ALONE RASA GRAND CANYON BY : SAOR R.S.S.S PANJAITAN

GOD AND GOD ALONE RASA GRAND CANYON
SAOR R.S.S.S. PANJAITAN

Sabtu pagi 3 Februari 2018 Renungan Harian berjudul ‘Luar Biasa’ ber-nats-kan Daniel 9 : 1 – 9. Dalam uraiannya penulis (HVL) menggambarkan keluarbiasaan Allah atas kepingan permukaan bumi yang dilihat dari tepi Grand Canyon atau pandangan menakjubkan dari puncak Sandia di ketinggian 3.163 meter di atas permukaan laut.
Siapapun pasti terkagum jika mendengar, membaca ataupun menonton tayangan tentang Grand Canyon. Theodore Roosevelt presiden Amerika Serikat ke-26 bertindak tepat menjadikan Grand Canyon sebagai taman nasional yang berarti menjadi milik bangsa pada 26 Februari 1919 sebelum kepemilikan pribadi menguasainya. Penetapan ini demi menjaga keaslian dan keindahan dari kumpulan jurang dan tebing terjal sepanjang lebih kurang 446 km dan lebar bervariasi mulai dari 6 km sampai 29 km serta kedalaman lebih dari 1.600 m. Begitu spektakulernya permukaan bumi yang didominasi warna oranye kemerahan di utara Arizona ini sampai UNESCO pun menetapkannya sebagai situs warisan dunia pada 1979.

Sejak SMA saya berharap bisa mengunjungi area tersebut untuk merasakan sensasi kedahsyatan Allah melalui panca indera. Ada banyak kawasan spektakuler ataupun kota-kota menakjubkan di muka bumi ini, namun dalam benak dominan melankolik seperti saya, rasanya Grand Canyon lah yang dapat memuaskan panca indera sekaligus menggetarkan jiwa atas kemahakuasaan Allah. Semoga suatu hari kelak kerinduan itu akan diijinkanNya terwujud.

Sehari sebelum bersaat teduh tersebut, saya benar-benar terpesona ketika mendengarkan vocal group dadakan dari para bapak yang tergabung dalam suatu perkumpulan etnis Batak di perumahan Legok Permai Tangerang. Nama perkumpulannya adalah Punguan Parsahutaoan Dos Ni Roha Legok Permai yang sudah ada di perumahan tersebut sejak 2006.

Pada natal 2017 yang dirayakan di 27 Januari 2018 di Hotel Lemo Kelapa Dua Tangerang, para bapak spontan ingin mempersembahkan pujian sebagai partisipatif karena para ibu dan anak-anak pun juga mengisi acara baik melalui nyanyian, tarian bahkan drama.
Karena memang semua adalah orang-orang sibuk, dari 17 bapak yang ikut bernyanyi termasuk saya sebagai pemusik, ada 2 orang yang sama sekali tidak pernah latihan, 6 orang latihan satu kali dan sisanya hanya 2 kali latihan yang dilakukan di rumah keluarga Bapak Mario Pasaribu di Blok B2.

Mungkin penampilan mereka di malam perayaan natal tersebut biasa saja, namun ada 2 hal yang patut disyukuri dari penampilan mereka yaitu: Pertama, Kesatuan hati dan pikiran untuk mempersembahkan suatu pujian. Hal ini sesuai dengan thema natal malam itu yaitu Dos Ni Roha yang artinya Sehati dengan Roma 12 : 16 sebagai dasar dari Firman Tuhan yang disampaikan oleh penulis. kedua, kekompakan dan sukacita dalam menyanyikan lagu karya Phill McHugh ini. Hasilnya adalah dua kali over tone dimulai dari nada dasar G# dan berakhir di nada dasar C dan jiwa saya yang terus menerus ‘kecanduan’ mendengarkannya dengan optimalisasi bunyi yang diperdengarkan melalui earphone dalam volume maksimal yang tercolok ke handphone. ‘Kecanduan’ mengadiksi kembali pasca bersaat teduh pagi itu bahkan makin menguat karena menikmati kebenaran Firman yang selaras dengan lirik God And God Alone.

Memang keluarbiasaan perfoma Allah begitu memikat jiwa dan hal ini bisa didapatkan dimanapun dan kapanpun bahkan dalam diri orang-orang di sekitar kita. Satu kali saya pernah menuliskan quote di page Facebook yang berbunyi: “Tak perlu jauh-jauh mencari kedahsyatan Tuhan, cukup pandangi wajah anakmu, di sana memancar kuat kemuliaanNYA.”
Bagi kita yang sudah menjadi orang tua rasanya akan setuju dengan quote tersebut. Kebahagiaan memiliki anak yang tentunya mirip dengan kedua orangtuanya biasanya terekspresikan dengan rasa syukur yang mendalam dan serta merta memuji kemaha kuasaan Tuhan atas hasil ciptaan yang berwujud anak sendiri.

Mari coba simak lirik God And God Alone dalam versi Bahasa Indonesianya:

Hanya DIA Tuhan DIAlah Pencipta alam semesta
                        Nyata kemuliaanNYA dalam ciptaanNYA
                        Karna DIAlah Tuhan

                        Hanya DIA Tuhan mengatur hari depan manusia
                        S’bab jalan hidup umatNYA dalam rencanaNYA
                        Karna DIAlah Tuhan

                        Hanya DIA Tuhan DIA bertahta di atas semesta
                        Biarlah ciptaanNYA mengangkat pujian
                        Hanya DIAlah Tuhan

Perasaan luar biasa atas keluarbiasaan Tuhan itupun saya rasakan makin menguat saat memandangi anak yang sedang asyiknya menyedot botol susu yang biasa dilakukannya saat terbangun di pagi hari. Melihat papanya senyum-senyum melihat dirinya, Elgio bergerak bangun dan seperti biasa meminta untuk melihat dan mendengar apa yang sedang saya dengar dari HP dengan menggunakan earphone tersebut. Maka earphone pun berbagi dua dengannya dengan lantunan God And God Alone yang makin memikat jiwa. Sungguh suatu pagi yang luarbiasa!

Alam dan manusia memang menceritakan keluarbiasaan Allah. Jika ciptaanNYA saja sudah dapat menggetarkan jiwa, tentunya akan lebih luarbiasa lagi jika kita mengenalNYA lebih dekat lagi. Memang kemahakuasaan dan kekudusanNYA tidak dapat membuat kita bertatap muka face to face denganNYA. Namun melalui firmanNYA yang kita jelajahi dari Kejadian sampai Wahyu betapa rasa luarbiasa itupun dapat kita nikmati bahkan sesungguhnya lebih dahsyat dibandingkan dengan apa yang kita lihat pada alam semesta. Bukan hanya panca indera yang terpuaskan namun jiwapun akan terpuaskan dengan suatu kepuasan Illahi yang melahirkan dua hal yang sama sebagaimana yang dirasakan oleh penulis Renungan Harian di atas yaitu: rasa hormat dan syukur atas keluarbiasaanNYA.

Rasa hormat melahirkan kecintaan dan kepatuhan serta kesetiaan sedangkan rasa syukur melahirkan rasa terima kasih dan komitmen ketergantungan total kepada DIA yang sanggup memberikan kepuasan yang sempurna bagi jiwa. God And God Alone rasa Grand Canyon memang luar biasa, namun kesempurnaan rasa yang sejati adalah pengenalan yang inten dari hari ke hari akan DIA. Suatu pengenalan yang makin intim jika pembacaan dan penghayatan firmanNYA dilakukan setiap hari dalam ketekunan dan kerinduan untuk dapat dimampukan sebagai pelaku firman. Sudahkan anda melakukannya? Ayo lakukan, dan rasakan hasilnya!
….God and God alone, will be the joy of our eternal home. He will be our one desire, our hearts will never tire, of God and God alone….

Legok Permai
3 Februari 2018

Minggu, 01 Oktober 2017

INDONESIA RIWAYATMU KINI BY: SAOR R.S.S.S. PANJAITAN


INDONESIA RIWAYATMU KINI
Karya: Saor R.S.S.S. Panjaitan


Beribu nusa dan beratus suku bangsa serta bahasa jalin menjalin membentang dari barat ke timur. Semua atas kehendak Illahi, sedikitpun tiada peran dari putra-putrimu dalam pembentukannya.
Kami hanya tinggal menerima,mengusahakan dan menikmatinya
Semua karena anugerah dan ketetapan Sang Khalik langit dan bumi.

Ketika di Agustus hari Ketujuh Belas dari tapakan ke empat puluh lima Abad dua puluh dikumandangkan harga dirimu yang merdeka sejajar dengan bangsa lainnya sebagai restu Illahi atas perjuangan yang bersimbahkan darah dan bertaruhkan nyawa…
Semua merasa satu, tiada tersekat oleh aneka perbedaan hingga kejayaan membentang dari nusa ke nusa dan bahari ke bahari.
Indonesia, kejayaanmu yang harum mencengangkan dunia mengharu birukan putra-putrimu

Namun, mengapakah riwayatmu kini?
Putra-putrimu terjebak atas eksklusifitas berbagai perbedaannya
Sorak sorai kecurangan, perilaku koruptif, fitnah yang disembar-semburkan laksana bisa ular, kemunafikan, intoleransi, diistegrasi, diskriminasi, penindasan kaum minoritas bahkan pengebirian atas anak-anakmu yang gemilang dalam karakter dan karya begitu riuh melanda tiap jengkal tanahmu
Guratan dan pernak-pernik warisan leluhur perlahan memudar ditindas panasnya debu-debu padang pasir yang berjubahkan religi demi ambisi menyeragamkan kebhinekaan dalam satu warna
Memaksa satukan Tuhan versi gurun sahara, mengancam kemanusiaan, menggerus persatuan, menghujat kemusyawaratan, dan menafikkan keadilan sosial.

Indonesia,
Dengan pilu kami memandang riwayatmu kini.
Namun, kami bukan hanya anak-anak pertiwi
Kami juga telah ditetapkan sebagai anak-anak Illahi yang diperintahkan membawa terang dan menggaramimu

Atas riwayatmu kini,
Kami diperintahkan untuk makin bertekun dalam telutan doa yang tak kenal lelah
Berkarya demi mengusahakan kesejahteraan atas desa-desa dan kota-kotamu
Membagikan kasih meski berbalaskan cibiran dan hujatan
Melakukan dan mengusahakan kebenaran Illahi yang dimulai dari diri kami terlebih dahulu

Indonesiaku,
Riwayatmu kini kami taruh ke dalam tangan pengasihan penciptamu


Depok & Legok Permai
15-16 Agustus 2017
Dibacakan pada saat Ibadah Dalam Rangka HUT Kemerdekaan RI
Di Gereja Methodist Indonesia Efrata Parung Panjang Bogor

Rabu, 27 September 2017

KARUNIA ROH KUDUS BY SAOR R.S.S.S. PANJAITAN


KARUNIA ROH KUDUS
1 Korintus 12 : 4
Saor R.S.S.S. Panjaitan

Latar Belakang

Suatu kali pada suatu ibadah cell group yang saya ikuti terjadilah ‘perdebatan’ sengit mengenai karunia-karunia dari Roh Kudus. Saat itu pemimpin yang ditunjuk menyatakan bahwa karunia Roh hanya ada 9 sebagaimana yang dia kutip dari 1 Korintus 12 : 8 – 10.

Salah satu peserta yang ikut cell group kemudian melemparkan pertanyaan yang baik dan kritis mengenai kaitan antara iman dan karunia. Pertanyaan sekaligus pernyataannya tersebut menjadi pembicaraan yang hangat karena beliau menyatakan tapi juga menanyakan bahwa iman bukanlah karunia, karena secara logika mana mungkin seseorang menerima karunia jika dia belum beriman dan kepada siapa dia beriman itu adalah kehendak bebasnya. Sekilas pernyataan ini mungkin benar karena tidak mungkin karunia diberikan kepada orang yang belum memiliki iman. Singkatnya dari pernyataan sekaligus pertanyaan adalah apakah iman adalah karunia?

Sebenarnya jika membaca dengan teliti, pemimpin cell group tidak perlu bersusah payah menjawab pertanyaan tersebut sehingga proses pembelajaran Alkitab tidak menghangat.
Saya mencoba menengahi dengan menjelaskan apa yang dimaksud dengan karunia baik dari sudut pandang Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru, termasuk pertanyaan yang sederhana tersebut. 1 Korintus 12 : 9 jelas menyebutkan bahwa Iman juga adalah Karunia dari Roh Kudus (Ayat 9 : Kepada yang seorang Roh yang sama MEMBERIKAN IMAN).

Hangatnya proses pembelajaran dari Cell Group malam itu terus terbawa dalam ingatan saya dan menggugah hati saya untuk menulis tentang Karunia Roh Kudus agar teman-teman dalam cell group dapat mengerti dengan baik dan jelas serta dengan pertolongan Tuhan dapat juga menjadi berkat berupa pengetahuan yang benar bagi banyak orang lainnya. Terlebih untuk pokok bahasan ini saya pernah membawakannya dalam khotbah di beberapa kesempatan ibadah seperti di Unit Kegiatan Mahasiswa Rohani Kristen Akademi Pariwisata Nusantara Jaya pada 23 Maret 2001 yang saat itu masih berkampus di Graha Cempaka Mas Jakarta Pusat, di ibadah Komisi Pemuda Gereja Kristen Kalam Kudus Gading Serpong pada 2 Maret 2013, dan paling belakangan di Persekutuan Doa Perumahan Legok Permai Tangerang pada 4 Mei 2013. Untuk itu saya terlebih dahulu ‘meminta ijin’ dan memohon dalam doa agar kiranya Roh Kudus memakai saya sebagai alatnya untuk penulisan tentang karunia ini.

Apakah Karunia itu?

Kata Yunani untuk karunia adalah Kharisma yang berasal dari kata Kharis yang didefinsikan sebagai pemberian yang diterima dengan cuma-cuma.
Perjanjian lama menyatakan bahwa Karunia adalah pengasihan Allah kepada umat Israel dimana pengasihan tersebut dilakukan oleh Roh Pengasihan (lihat Zakharia 12 : 10) atau Roh Anugerah yang memberikan pengampunan dosa. Keluaran 33 : 19 berbunyi: Tetapi firmanNYA: “Aku akan melewatkan segenap kegemilangan-Ku dari depanmu dan menyerukan nama TUHAN di depanmu: Aku akan memberi kasih KARUNIA kepada siapa yang kuberi KASIH KARUNIA dan mengasihani siapa yang Kukasihani.”

Perjanjian Baru menyatakan bahwa anugerah Allah yang di dalam Yesus Kristus memperlihatkan kemurahan Allah terhadap manusia. Yesus adalah kepenuhan karunia karenanya kasih karunia dan kebenaran hanya datang dari Tuhan Yesus (Yohanes 1 : 14 – 17). Makna hakiki dari karunia adalah pemberian yang diterima dengan cuma-cuma. Paulus bahkan mengartikan lebih luas lagi mengenai karunia sebagai sambutan atau balasan terhadap pemberian Allah yang memotivasi orang untuk bersyukur. Apa yang dikatakan Paulus ini tentunya tindakan pro aktif atau respon yang bertanggung jawab atas pemberian karunia, jadi tidak pasif sehingga tidak optimal membangun jemaat.

Aneka Karunia Roh Kudus

Ada beberapa kitab dari Perjanjian Baru yang secara jelas menyebutkan jenis-jenis karunia seperti 1 Korintus, Roma dan Efesus.
1 Korintus 12 : 4 – 14 merinci ada 9 karunia yaitu:
a.   Berkata-kata dengan hikmat (Word of Wisdom)                           : (Ayat 8)
b.   Berkata-kata dengan pengetahuan (Word of Knowledge)             : (Ayat 8)
c.   Iman (Faith)                                                                                    : (Ayat 9)
d.   Menyembuhkan (Healings)                                                            : (Ayat 9)
e.   Kuasa untuk mengadakan mujizat (Working of Miracle)              : (Ayat 10)
f.    Bernubuat (Prophecy)                                                                    : (Ayat 10)
g.   Membedakan bermacam-macam roh (Discernment of Spirits)     : (Ayat 10)
h.   Berkata-kata dengan bahasa Roh (Speaking in Tongues)              : (Ayat 10)
i.    Menafsirkan Bahasa Roh ( Interpretation of Tongues)                  : (Ayat 10)

Lebih lanjut 1 Korintus 12 : 27 – 30 menyebutkan ada 8 karunia yaitu:
a.       Sebagai Rasul (Apostles)                                                             
b.      Sebagai Nabi (Prophetss)
c.       Sebagai Pengajar (Teachers)
d.      Mengadakan Mujizat (Miracles)
e.       Menyembuhkan (Healings)
f.       Melayani (Helps)
g.      Memimpin (Administrations)
h.      Berkata-kata dalam bahasa Roh (Varietiesof Tongues)
Semua dirinci dalam ayat ke 28.

Roma12 : 6 – 8 merinci karunia sebagai berikut:
a.   Bernubuat (Prophecy)                                                                   : (Ayat 6)
b.   Melayani (Ministry)                                                                      : (Ayat 7)
c.   Mengajar (Teaching)                                                                     : (Ayat 7)
d.   Menasehati (Exhortation)                                                             : (Ayat 8)
e.   Membagi-bagikan sesuatu (Giving)                                              : (Ayat 8)
f.    Leading (Memberi pimpinan)                                                       : (Ayat 8)
g.   Menunjukkan kemurahan (Showing Merry)                                 : (Ayat 8)

Efesus 4 : 11 menyebutkan ada 5 karunia yaitu:
a.       Rasul (Apostles)
b.      Nabi (Prophets)
c.       Pemberita Injil (Evangelists)
d.      Gembala (Pastors)
e.       Pengajar (Teachers)

Selain di ketiga kitab di atas masih ada lagi disebutkan jenis karunia lainnya seperti:
Perjanjian Lama:
a.       Keahlian/Ketrampilan tertentu (Craftsmanship) antara lain:
      ■    Membuat pakaian imam (Keluaran 28 : 3)
      ■    Memintal bulu kambing (Keluaran 35 : 26)
      ■    Membuat tenunan (Keluaran 35 : 35)
      ■    Mendirikan tempat kudus (Keluaran 36 : 1)
      ■    Pekerjaan tembaga (1 Raja-raja 7 : 14)
b.      Menafsirkan mimpi (Interpretation of Dreams) (Kejadian 41 : 12; Daniel 1: 17)
c.       Pengetahuan dan kepandaian tentang berbagai tulisan dan hikmat (Daniel 1 : 17)
d.      Memainkan musik untuk pujian dan penyembahan kepada Allah (1 Tawarikh 23 : 5; 2 Tawarikh  5 : 13; 2 Tawarikh 34 : 12)

Perjanjian Baru:
a.       Peramah (Hospitality) (Yakobus 3 : 17)
b.      Selibat (Celibacy) (Matius 19 : 12)
c.       Mengetahui kerajaan sorga (Matius 13 : 11)
d.      Menjadi orang yang sangat berguna bagi orang-orang percaya (Kisah Para Rasul 18: 27)
e.       Menderita untuk Kristus (Filipi 1 : 29; 1 Petrus 2 : 19 – 20).

Mengenai jumlah Karunia Roh Kudus terdapat beberapa perbedaan. Ada yang menyatakan hanya beberapa, ada 8, ada juga berpendapat 27 namun ada juga yang menyatakan tidak dapat ditentukan. Untuk tidak membingungkan maka prinsipnya adalah bahwa penulis Alkitab tidak bermaksud membuat daftar lengkap seluruh Karunia Roh yang ada. Sepenuhnya otoritas dari Roh Kudus untuk memberikannya baik yang telah tertulis dalam Alkitab maupun yang diberikan kemudian demi membangun jemaat Tuhan. Berapapun jumlahnya yang terpenting adalah bahwa semua Karunia tersebut berasal dari satu Roh yaitu Roh Kudus (1 Korintus 12 : 4).

Pro dan Kontra Tentang Eksistensi Karunia Roh

Sebagian kalangan Protestan berpendapat bahwa beberapa Karunia Roh tertentu seperti bahasa Roh/Lidah (Glossolalia) saat ini sudah tidak ada lagi karena hanya diperlukan pada saat gereja mula-mula (Cessationism)
Bagi kalangan Karismatik, Pantekosta, Katolik Roma. Ortodoks dan beberapa Protestan tertentu berpendapat bahwa semua karunia Roh masih relevan sampai saat ini (Continualism).

Pro dan kontra seperti ini sebenarnya tidak perlu menjadi sesuatu yang menyebabkan ‘disfungsinya’ organ-organ dari tubuh Kristus karena perdebatan yang mengedepankan keegoan masing-masing denominasi. Tujuan dari diberikannya Karunia Roh tegas disebutkan dalam Efesus 4 : 12; 1 Korintus 14 : 12, 26 yaitu untuk membangun dan memperlengkapi jemaat atau gereja. Pembangunan tentunya membutuhkan akar yang kuat dan pertumbuhan yang baik sehingga menghasilkan buah-buah yang baik sesuai dengan tri tugas panggilan gereja di tengah-tengah dunia ini yaitu Marturia, Koinonia dan Diakonia.

Kepemilikan Karunia Roh

Semua Karunia Roh yang diberikan Allah kepada seseorang dengan tingkatan, efektifitas dan implementasi yang berbeda-beda demi terciptanya kemajuan dalam pemberitaan firman, persekutuan dan pelayanan sosial yang terus menerus baik secara kuantitas terlebih dan terutama kualitas rohani jemaat Tuhan secara komunal.

Timbul satu pertanyaan: Apakah semua orang memiliki minimal 1 karunia?
Karena Karunia Roh adalah berasal atau diberikan oleh Roh Kudus, maka tentunya hanya bagi orang-orang yang percaya dan menerima Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamatnyalah karunia tersebut akan diberikan. Siapapun orang Kristen yang percaya kepada Kristus maka Kristus bertahta di hatinya, dengan demikian ada Roh Kudus dalam hatinya. Orang seperti inilah yang pasti memiliki minimal 1 Karunia Roh yang semuanya diarahkan untuk membangun serta memperlengkapi jemaat.

Karunia Roh tidak dapat dipaksakan untuk diminta dan tidak juga dapat dibeli dengan apapun. Pada peristiwa yang melibatkan Simon seorang Magus yang suka berlagak seolah-olah orang penting karena keahliannya dalam melakukan sihir yang kemudian bertobat karena pemberitaan Injil oleh Filipus di Kisah Para Rasul 8 : 9 – 24, Petrus memarahinya karena berusaha meminta (Ayat 18: Menawarkan sejumlah uang) Karunia Roh Kudus. Pada ayat 20 Petrus berkata: “Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka, bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang.” Syukurnya Thomas si petobat baru dan sudah dibaptis itu bersegera meminta ampun atas kesalahannya dan memohon agar Petrus berdoa baginya agar tidak dibinasakan sebagaimana yang telah dikatakan oleh Petrus.

Jelaslah disini bahwa Karunia Roh sepenuhnya mutlak atas kehendak Roh Kudus dan diberikan dengan cuma-cuma. Namun demikian kita bisa memintanya kepada Roh Kudus. 1 Timotius 4 : 14 menyebutkan bahwa Karunia Roh diberikan oleh nubuat dan penumpangan tangan sidang penatua. Artinya Karunia Roh bisa dimintakan bahkan bukan hanya satu melainkan bisa lebih dari satu.

Siapapun yang telah menerima Karunia Roh maka dia harus bertanggung jawab dan aktif dalam mengimplementasikannya karena jika tidak aktif digunakan dapat melemahkan tubuh Kristus. Contohnya: Jika seseorang mendapatkan karunia mengajar atau melayani, maka jika dia tidak aktif atau rajin melaksanakan Karunia tersebut tentunya akan berpengaruh secara signifikan kepada pertumbuhan jemaat. Perlu diingat bahwa tidak semua orang cakap mengajar maupun melayani. Jika seseorang sudah menerima karunia ini maka Allah memberikannya kecakapan dalam melakukan karunia tersebut.

Motivasi Melakukan Karunia Roh

Setiap penerima karunia Roh haruslah melandasi seluruh motivasinya dengan kasih. Menarik untuk direnungkan perihal rupa-rupa karunia yang terdapat dalam 1 Korintus 12 dengan judul perikop yang diberikan oleh Lembaga Alkitab Indonesia yaitu “Rupa-rupa karunia, tetapi satu Roh” (Ayat 1 – 11) dan “Banyak anggota, tetapi satu tubuh” (Ayat 12 – 31) serta kemudian dipertegas lagi di dalam 1 Korintus 14 yang berjudul “Sekali lagi tentang karunia Roh”, pada kedua pasal ini ditengahi (‘digandeng’) oleh pasal 13 yang berjudul kasih!

Begitu luar biasanya Roh Kudus mengilhami Rasul Paulus dalam menulis kitab 1 Korintus dan pada ketiga pasal tersebut di atas tersusun dengan sistematis dan sempurna. Bayangkan jika seseorang memiliki karunia bernubuat atau menyembuhkan ataupun berkata-kata dengan pengetahuan. Jika karunia ini diselewengkan atau disalah gunakan maka akan muncul manusia-manusia jumawa yang bukannya membangun jemaat namun meninggikan/menguntungkan dirinya sendiri ataupun juga merasa menjadi orang penting seperti Simon dari Magus tadi.

1 Korintus 13 : 2 yang berbunyi: “Sekalipun aku mempunyai karunia untuk bernubuat dan aku mengetahui segala rahasia dan memiliki seluruh pengetahuan; dan sekalipun aku memiliki iman yang sempurna untuk memindahkan gunung, tetapi jika aku tidak mempunyai kasih, aku sama sekali tidak berguna.” Ayat ini tegas mengingatkan kepada siapapun yang memiliki karunia Roh bahwa sehebat dan sebanyak apapun karunia Roh yang kita miliki (menurut persepsi kita) maka semuanya adalah kesia-siaan jika kita tidak mempunyai kasih! Bahkan pengorbanan diri yang mencengangkan seperti menyerahkan tubuh untuk dibakar demi sesama adalah percuma jika tidak dilandasi oleh kasih.

Evaluasi atas penggunaan Karunia Roh diarahkan pada motivasi, efektifitas dan optimalisasi dengan memperhatikan jenis jenis pelayanan baik yang bersifat internal maupun eksternal. Atas semua kegiatan penggunaan Karunia Roh semua pelaku harus menyadari bahwa hanya Tuhanlah yang selalu dimuliakan.

Pentingnya Pengetahuan Tentang Karunia Roh

Para gembala, penatua dan pimpinan jemaat lainnya haruslah peka dan memiliki pengetahuan yang baik akan karunia Roh ini. Pengetahuan dimulai dengan pembelajaran akan Firman Tuhan yang membahas mengenai Karunia Roh. Dibutuhkan kerendahan hati untuk mendapatkan hikmat marifat dari Roh Kudus sehingga tidak salah dalam memahaminya. Sebagai contoh para pemimpin jemaat harus mengerti dengan baik dan benar perbedaan antara Karunia dan Talenta. Demikian pula jenis-jenis karunia yang terdapat dalam Alkitab. Pengetahuan yang benar akan jenis karunia yang satu dengan yang lainnya tentunya juga merupakan karunia dari Roh Kudus dan penempatan seseorang ke dalam suatu pelayanan akan tepat sasaran sesuai dengan karunia yang dimiliki.

Firman Tuhan sendiri sebenarnya cukup jelas menerangkan apakah seseorang sedang melakukan karunia Roh atau tidak dan bagaimana dengan efektifitasnya terhadap jemaat. Contohnya mengenai berbahasa Roh. 1 Korintus 14 : 14 menyatakan: “Sebab jika aku berdoa dengan bahasa Roh, maka rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa.” Kondisi seperti ini tentunya tidak efektif sama sekali dalam membangun jemaat karena bukankah hanya orang yang berbahasa roh itu sendiri yang mungkin menyadari sedangkan bagi jemaat sendiri yang menyaksikannya tentunya akan dihinggapi kebingungan kapan akan mengaminkan atas doa dalam bahasa roh tersebut (1 Korintus 14 : 16). Paulus menulis bahwa untuk hal semacam itu, siapapun yang berkarunia berbahasa roh maka ia harus berdoa supaya kepadanya atau orang-orang yang berada didekatnya juga diberikan karunia untuk menafsirkannya (1 Kor 14 : 13, 27, 28). Lebih keras lagi Paulus menyatakan jika satu jemaat berbahasa roh lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, bukankah mereka akan mencap bahwa jemaat tersebut gila (1 Korintus 14 : 23)?

Contoh lainnya adalah karunia menyembuhkan (Healings). Tentunya jika Allah berkehendak menyembuhkan seseorang dan DIA memakai seseorang sebagai alatnya dengan memberikan karunia menyembuhkan tersebut, tentunya prosesi penyembuhan yang terjadi tidak perlu melibatkan media yang aneh-aneh, umpamanya harus membakar dupa atau memotong ayam ataupun kambing, menggunakan bunga tujuh rupa atau juga harus berendam di sungai atau kolam tertentu. Itu bukanlah penggunaan karunia menyembuhkan, tapi dukun yang sedang beraksi dan tentunya menggunakan kuasa roh kegelapan. Kalau para pemimpin jemaat tidak paham akan perkara seperti ini, betapa berbahayanya keadaan sekumpulan jemaat. Bukannya membangun tapi malah menghancurkan.

Karunia Roh adalah kehendak Allah, untuk itu setiap orang percaya harus mengenali dan mengerjakan karunia tersebut serta mengembangkannya demi membangun jemaat dan memperluas kerajaan Allah di tengah-tengah dunia ini. Pengetahuan yang benar akan karunia Roh bukan hanya meningkatkan efektifitas pelayanan namun juga merupakan pertanggung jawaban iman yang harus dilakukan baik oleh pelaku karunia Roh, pemimpin dan seluruh jemaat Tuhan.

Penutup

Karunia Roh berasal dan diberikan oleh Roh Kudus kepada mereka yang percaya kepada Kristus secara cuma-cuma dengan tujuan membangun jemaat. Baik Perjanjian Lama maupun Perjanjian Baru ada mencantumkan jenis-jenis Karunia Roh. Setiap orang percaya pasti memiliki satu karunia dan pada beberapa lainnya mungkin memiliki lebih dari satu karunia. Karunia Roh harus dipertanggung jawabkan dengan melakukannya secara efektif dengan motivasi kasih. Terakhir, Apakah karuniamu?

Minggu, 24 September 2017

AITEO Saor R.S.S.S. Panjaitan


AITEO

Yesaya 38 : 1 – 8

Saor R.S.S.S. Panjaitan



Selasa pagi seperti biasanya saya memposting sebuah quote di Facebook. Kebiasaan yang sudah saya lakukan sejak 4 Januari 2017 dan seharipun tidak pernah alpa. Terkadang hanya satu quotes namun ada juga yang dalam satu hari sampai sepuluh quotes. Kebiasaan ini sangat saya syukuri karena selain menyampaikan apa yang “diinspirasikan dalam pikiran” juga diharapkan dapat menjadi berkat atau bahkan sebagai pembawa “tulisan kebenaran” bagi siapapun yang sudi membacanya. Dari keseluruhan quotes tidak ada satupun yang mengutip ataupun menggunakan kata-kata dari orang lain. Semua mengalir begitu saja dengan mudahnya dan oleh karena itu saya percaya bahwa ada Penginspirasi dibalik semuanya itu.

Untuk memudahkan melacak tanggal pemostingan, dibagian paling bawah setiap quotes selalu saya cantumkan tanggal berupa angka dalam empat sampai enam digit. Sebelum tanggal saya cantumkan inisial SP yang merupakan kepanjangan dari Saor Panjaitan. Pencantuman insial lebih ditujukan kepada pernyataan bahwa saya bertanggung jawab atas semua quotes yang saya tuliskan dan andaikanpun ada yang hendak men-share atau mengutip quotes tersebut, maka saya selalu menghimbau untuk mencantumkan inisial pembuat atau nama saya demi mempertanggung jawabkannya jika ada yang keberatan atau merasa tersinggung dengan salah satu quotes yang saya buat. Jika dihitung, mungkin lebih kurang sudah seribu quotes yang pernah saya posting. Betapa hebatnya Tuhan yang mengijinkan saya sebagai saluran quotes-NYA.

Setelah berbulan-bulan memposting quotes campuran dari berbagai thema berdasarkan apa yang muncul dalam pikiran ataupun situasi kondisi baik sosial, politik dan lainnya, belakangan saya memposting dengan menetapkan thema harian. Ada yang tentang Keluarga, Kematian, Nasionalisme, Toleransi, Peran Ayah, Kebenaran, Peradaban, Sorga, Neraka, Anarkisme, Kerendahan Hati, Kesabaran, Kasih, Kekuasaan, Pikiran dan berbagai thema lainnya.

Pada Selasa pagi, 12 September 2017 yang lalu, saya memposting quote dengan thema harian tentang kematian. Salah satu quotes berbunyi: “DOA BISA MENUNDA KEMATIAN”.

Quotes  tersebut sebenarnya terinspirasi dari saat saya membawakan renungan pada ibadah doa pagi yang dilaksanakan rutin setiap Sabtu pagi yang dimulai pada pukul 05.30 WIB di Gereja Methodist Indonesia Efrata yang berada di dalam perumahan Griya Parung Panjang Kabupaten Bogor.

Renungan yang saya bawakan saat itu berjudul “SEPERTI APA DOAMU” dan dimulai dengan menjabarkan 5 Jenis Doa yaitu Parakaleo, Deomai, Aiteo, Erotao dan Euchomai. Kelimanya berasal dari bahasa Yunani.

Kata doa yang akan saya uraikan berikut ini adalah tentang AITEO,  – untuk keempat jenis doa lainnya semoga saya dapat uraikan juga dilain waktu dan tentunya akan saya kaitkan dengan quotes yang berkaitan dengannya – yang artinya mengajukan permohonan.

Setiap dari kita yang meyakini adanya Sang Adi Kodrati tentunya menyadari bahwa doa adalah media utama dan terutama dalam berkomunikasi dengan Sang Pencipta.

Dalam agama apapun, doa menjadi ritual utama mulai dari saat pewahyuan diturunkan sampai pada permohonan pengampunan atas jeratan dosa yang begitu merantai kehidupan seseorang. Doa bisa dilakukan sendiri dalam kamar kosong sembari bertelut ataupun yang diujarkan di dalam hati dengan atau tanpa mata yang terpejam dan jemari yang terangkai dalam suatu perjalanan, entah menuju kantor atau ketika pulang kampung. Doa juga bisa dilakukan bersama-sama, baik yang disuarakan secara serempak bersamaan maupun yang dipimpin oleh seseorang sebagai pendoa syafaat.

Doa juga sering dilakukan sembari menaikkan pujian penyembahan maupun yang dinaikkan bersamaan dengan deraian air mata. Dengan berdoa sebenarnya harus timbul suatu keyakinan yaitu betapa rapuhnya kita tanpa Tuhan dan betapa dekatnya Tuhan itu karena jaraknya hanya sebatas doa. Oleh karena itu setiap pendoa adalah mereka yang berusaha mendekatkan diri dengan Tuhannya karena adanya suatu kebutuhan maupun timbulnya perasaan syukur dan terima kasih karena kehidupan yang begitu indah yang dirasakannya.

Mereka yang terbiasa berdoa biasanya memiliki kerendahan hati dan empati yang besar karena ketekunan tersebut membawanya kepada kerinduan untuk mendahulukan mendoakan orang lain dibandingkan pemenuhan atas kebutuhannya sendiri.

Doa adalah keharusan bahkan perintah langsung dari Sang Penerima Doa agar setiap ciptaanNYA senantiasa tetaplah berdoa (1 Tesalonika 5 : 17). Tuhan juga mengajarkan suatu strategi doa yang efektif yang berkenan dan menyenangkan hatiNYA. Perhatikan Matius 6 : 9 – 10 yang adalah doa pembukaan dari Doa Bapa Kami. Kristus mengajarkan untuk memulai doa dengan mengakui kekudusan dan kebesaranNYA. Ayat 9 dimulai dengan kalimat imperatif: “Karena itu berdoalah demikian” lalu dilanjutkan dengan “Bapa kami yang di sorga, Dikuduskanlah namaMU, datanglah kerajaanMU, jadilah kehendakMU di bumi seperti di sorga. Kalimat awal dari DOA BAPA KAMI ini adalah suatu kelumrahan yang harus diucapkan dan diakui oleh para pendoa. Setelah kalimat pengakuan akan kebesaranNYA maka kita bebas mengajukan permohonan kepada BAPA.

Kitab 2 Raja-raja, 1 dan 2 Tawarikh mengisahkan tentang eksistensi Hizkia bin Ahas sebagai Raja Yehuda ke-13 (725 – 697 SM). Dia raja yang kuat dan percaturan politik kerajaan-kerajaan saat itu mengakui dia sebagai pemimpin yang bijaksana. Hizkia memulihkan tempat dan prosesi peribadatan, mencari pertolongan Tuhan saat melawan Asyer, merayakan kembali paskah yang tidak pernah lagi dilakukan sejak pecahnya  kerajaan kesatuan, membuat kolam dan saluran air ke dalam kota Yerusalem namun ‘over dosis sukacita’ saat bakal penawan bangsa Israel di kemudian hari yaitu kerajaan Babel saat dipimpin oleh Merodakh Baladan bin Baladan mengiriminya surat dan pemberian pasca kesembuhannya dari sakit lalu memamerkan segenap harta benda kerajaannya kepada utusan Babel tersebut. Suatu keteledoran yang akhirnya ditegur Tuhan melalui Yesaya dimana kelak bangsa Israel mengalami masa pembuangannya yang pertama pasca ditaklukkan oleh Babel dimasa pemerintahan raja Nebukadnezar.

Prestasi tertinggi dari Hizkia di mata Allah sebenarnya adalah tentang kebijakannya menutup bukit-bukit pengorbanan kepada ilah-ilah lain dan pemusatan peribadahan di Bait Allah. Suatu kebijakan yang bisa disimpulkan bahwa Hizkia adalah Raja Yehuda yang saleh dan mau merendahkan dirinya melalui doa-doa yang dinaikkannya kepada Allah.

Quote DOA BISA MENUNDA KEMATIAN sebagaimana yang telah saya sampaikan di atas sebenarnya diharapkan bisa memancing berbagai komentar kritis dari teman-teman di media sosial. Bagi mereka yang percaya bahwa Tuhan yang menentukan umur manusia mungkin bisa berkomentar seperti: Bagaimana mungkin jika umur sudah ditentukan waktunya masih bisa lagi dimintakan perpanjangan, atau bagi mereka yang meyakini filsafat Fatalisme yang percaya bahwa manusia sudah ditentukan takdir atau nasibnya sehingga tidak bisa lagi mengubah jalan hidup atau cita-citanya karena sudah ditentukan dari sejak dilahirkan. Saya juga menantikan pernyataan lain seperti kritikan yang menyatakan saya sok tahu atau bertindak seperti Tuhan atau bahkan menyesatkan. Tapi tidak ada komentar yang bisa memanaskan lapak FB saya. Quote tersebut bahkan sepi komentar dan jempol tanda like. Cuma 3 like dan satu comment berupa animasi anjing yang berjingkrak kesenangan atasnya. Cukup aneh, karena biasanya quotes yang saya posting rata-rata mendapat lebih dari 10 like di luar comment. Tapi sudahlah, mungkin di lain hari ada yang melihat lagi quote yang saya harapkan kontroversial ini.

Pernyataan DOA BISA MENUNDA KEMATIAN bukan sekadar asal tulis. Yesaya 38 : 1 – 8 adalah dasar teologis yang melatar belakangi keberanian saya mempostingnya.

Mari kita lihat apa yang dikatakan ayat-ayat tersebut. Dikisahkan suatu kali Hizkia jatuh sakit dan hampir mati. Ayat paralel dengan kisah ini terdapat juga di dalam 2 Raja-raja 20 : 1 – 11 dan 2 Tawarikh 32 : 24 – 26. Pada 2 Raja-raja 20 : 7 ada tertulis bahwa penyakit yang diderita oleh Hizkia adalah Barah, sejenis penyakit kulit yang membengkak dan bernanah (bisul). Mungkin bukan bisul biasa karena dengan sakit tersebut dia akan segera mati. Yesaya sebagai utusan Tuhan menyampaikan bahwa Hizkia harus menyampaikan pesan terakhir kepada keluarganya akan kematian ini.

Begitu Yesaya menyampaikan pesan Tuhan ini serta merta Hizkia memalingkan mukanya kearah dinding dan langsung berdoa. Kesalehan hidupnya menuntun reaksi spontan yang tepat atas pesan ini. Isi doanya adalah jenis doa Aiteo yaitu permohonan untuk disembuhkan dan dengan demikian tidak segera mati.

Hizkia mengawali doanya dengan mengingatkan kepada Tuhan akan apa yang telah dilakukannya (Ayat 3) : “Ah TUHAN, ingatlah kiranya, bahwa aku telah hidup di hadapanMU dengan setia dan dengan tulus hati apa yang baik di mataMU. Setelah mengatakan itu dia menangis dengan sangat. Raja bijaksana dan saleh itu merendahkan dirinya dihadapan Allah dengan menangis yang saya percaya mungkin lebih dari tangisan anak-anak secara ekspresif.

Setelah mengingatkan Tuhan dengan kalimat tersebut tentunya dia mengajukan permohonan dalam tangisannya atas keputusan yang telah ditetapkan kepadanya. Pada ayat 16 yang berisikan karangan Hizkia sesudah ia sakit dan sembuh dari penyakitnya menegaskan permohonannya: Ya Tuhan, karena inilah hatiku mengharapkan Engkau; tenangkanlah rohku, BUATLAH AKU SEHAT, BUATLAH AKU SEMBUH! Ini jelas sebuah permohonan.

Maka tak terbantahkan bahwa DOA BISA MENUNDA KEMATIAN adalah sesuatu yang possible, sesuatu yang benar secara teologis. Tidak ada keraguan dan kesesatan di dalamnya.

Untuk dikabulkannya suatu permohonan bahkan atas kasus yang sudah final diperlukan argumen kuat yang faktual. Mari kita kembali ke ayat 3. Di situ kita melihat ada 2 hal yang saya percaya menjadi perhitungan bagi Allah untuk mengabulkan doa Hizkia.

Kedua hal itu adalah SETIA dan TULUS HATI. Kesetiaan adalah kepercayaan yang dilakukan dengan tekun, taat dan teguh. Dibutuhkan iman yang kokoh dan keyakinan total untuk dapat berlaku setia. Kesetiaan bukan hanya dilakukan atau diperlihatkan dihadapan kepada siapa seseorang setia, namun saat tidak dihadapannya pun kesetiaan tetap konsisten dilakukan bahkan Wahyu 2 : 10 menyatakan harus dilakukan sampai mati. Untuk itu dibutuhkan ketulusan hati yang bergandengan tangan erat dengan kesetiaan sehingga berkenan kepada siapa seseorang menunjukkan kesetiaan dan ketulusan hatinya. Kesetiaan dan ketulusan adalah sifat dari orang-orang kudus.

Kesetiaan dan ketulusan hati Hizkia dibenarkan oleh Allah karena setelah dia menaikkan doa permohonan, serta merta Allah langsung mengabulkan permohonannya. 2 Raja-raja 20 : 4 – 6  membuktikan hal ini. Belum lagi Yesaya keluar dari pelataran tengah istana, Allah langsung berfirman untuk disampaikan kepada Hizkia bahwa IA telah mendengar doanya dan mengindahkan air matanya. Bukan hanya perpanjangan usia lima belas tahun lagi bahkan Allah memberikan ‘bonus’ bagi kerajaan yang dipimpinnya akan dilepaskan dari tangan raja Asyur bahkan memagari Yerusalem dari bahaya apapun!

Apakah Aiteo-mu? Apapun itu naikkanlah dengan keyakinan, sementara itu hiduplah dalam Kesetiaan dan Ketulusan Hati, maka Tuhan berkenan akan doa-doamu. Tuhan Yesus Memberkati.