Translate

Kamis, 18 Juli 2019

NUNGGANG KUDA DAN KEBO KE KPU


NUNGGANG KUDA DAN KEBO KE KPU
Tadi pulang kerja Ucok Si TK langsung heboh menghambur dan berceloteh.
Si TK: "Pa..., seru banget loh!"
Papa: "Apanya yang seru?"
Si TK: "Izzz... pokoknya seru bangetlah!"
Papa: "Seru apaan sih?" seru...! seru...! kau bilang tapi tak tahu apa yang di seru-serukanmu!"
Si TK: "Itu loh Pa, kata TV ada bapak bapak rame-rame ke KPU naik moge. katanya sih para petinggi parpol mau ngasih daftar perbaikan team kampanyenya Pakde!"
Papa: "Lah, gitu aja, apanya yang seru. biasa-biasa aja kali...!"
Si TK: "izzz... Papa inilah...bukan itu serunya!"
Papa: "Loh, jadi apanya yang seru?" Mogenya yang ngikutin gaya Pakde?"
Si TK: "Bukan itu Pa yang seru."
Papa: "Lah terus apaan dong? dari tadi kau gecor bilang seru seruan!"
Si TK: "Gini loh Pa, kalau teamnya Pakde pake moge, aku yakin team Pangeran Diponegoro.....ehh salah deng....maksudku team suksesnya Pemilik kuda pasti nggak mau kalah dengan membawa kuda kuda jantan ke KPU buat ngedaftar perbaikan susunan team suksesnya. iya kan?"
Papa: "Ohhh... jadi itu maksudmu yang seru?" biasa aja tuh!"
Si TK: "Ya bukan itu ajalah Pa." ada lagi yang lebih seru. kata Miss Annie, guruku, sekretaris suaminya sih kagak bakal naik kuda, tapi naik kebo!"
Papa: "Kok naik kebo?"
Si TK: "Tauk tuh, katanya sih ini masalah identitas diri yang menginternal sebegitu dahsyatnya sampai mengharu birukan logika dan persepsi mereka yang memang sudah kental dengan warna biru."
Papa: "Ah, sok tahu kau!"
Si TK: "Cuma ada yang aku masih tanda tanya Pa."
Papa: "Apa itu?"
Si TK: "Ntar kalau pas mereka ke KPU dengan nunggang kuda dan kebo, mereka pake keris nggak ya dipinggangnya?"
Papa: "Memangnya kenapa kau tanya begitu?"
Si TK: "Nggak sih...aku cuma bingung aja, nanti kalau udah selesai ngedaftar, kan susah kalau mereka joget joget dangdut diluar kantor KPU."
Papa: "kok susah? kan tinggal goyang!"
Si TK: "Ya susahlah Pa, kan ada keris. belum lagi nanti kalau ada yang nanya itu kuda dan kebonya pakai pemeran pengganti atau tidak, iya kan, Pa?"
Papa: "Ahhh...bukan urusanmu itu!" Nanti kalau memang jadi mereka ikut ikutan mau ngetop, ya kita tonton saja, ada atau nggak kaki kuda atau kebonya yang korsleting sehingga jadi bisa meledak.
Si TK: "Mana mungkin kaki bisa korsleting trus pake meledak segala?"
Papa: "Nahh belum tahu kau kan?" Apa yang tak bisa sama mereka?!" Bangau aja bermodalkan kardus bisa jadi Calon petinggi pertiwi, malah bisa juga dijadiin ulama. pokoknya mereka jago mengubah apapunlah!"
Si TK: "Kalau mengubah kejombloan bisa nggak Pa?"
Papa: "Loh memangnya siapa yang jomblo?"
Si TK: "Lah itu sipenunggang kuda!"
Papa: "Wah kalau itu sih bergantung sama yang tergantung. masih ada nggak digantungannya?"
Si TK: "Maksudnya Pa?"
Papa: "Ah sudahlah...belum masuk otakmu yang macam itu. sudah sana tidur!"
Si TK: "Ah Papa inilah...doyan kali menggantung yang tak perlu digantung-gantung. jemuran kali?!"
#SP#20818#SD18#

PANGERAN DIPONEGORO DAN KEBO


PANGERAN DIPONEGORO DAN KEBO

Ucok Si TK barusan ngajak ngobrol.
Si TK: "Pa, kayaknya aku nggak bisa deh jadi Presiden."
Papa: "Loh, memangnya sebelumnya kau cita-cita mau jadi Presiden?"
Si TK: "Iya Pa."
Papa: "Trus kenapa berubah pikiran?"
Si TK: "Susah Pa kalau aku jadi Presiden. soalnya aku kan gemuk banget."
Papa: "Loh memangnya kenapa kalau gemuk?"
Si TK: "Izzz... Papa inilah...kalau gemuk ya susahlah jadi Presiden!"
Papa: "Loh memangnya susah kenapa?" 
Si TK: "Ya susah kalau mau ngebut naik Moge trus jumping lagi motornya kaya Pakde!"
Papa: "Ya kan nggak juga harus kayak gitu. itu sih kreatifitas beliau aja. kita mestinya bangga dengan kreatifitas yang inovatif kayak begitu!"
Si TK: "Tapi Pa, kan itu cuma bisa dilakuin sama yang langsing kayak Pakde!" 
Papa: "Maksudmu?"
Si TK: "Loh, masa Papa lupa sama yang pengen mirip-mirip kayak Pangeran Diponegoro?!"
Papa: "Pangeran Diponegoro?" Ada apa sama Pahlawan kita itu?"
Si TK: "Gini loh Pa, ada tuh yang pengen dimirip-miripkan sama Pangeran Diponegoro bahkan Soekarno."
Papa: "Siapa?"
Si TK: "Izzz...Papa inilah, masa kagak tahu sih?"
Papa: "Bah...memang tak tahu aku!"
Si TK: "Itu loh Pa, yang doyan main calon-calonan tiap lima tahun sekali!"
Papa: "Siapa pulak yang kau maksud?"
Si TK: "Itu tuh....yang ngerasa dirinya masih gagah dan hebat. pake keris trus nunggang kuda keliling-keliling."
Papa: "Lah, memang kenapa kalau nunggang kuda?
Si TK: "Ya nggak pa pa sih nunggang kuda, tapi Pa mau naikin kudanya aja kagak bisa sendiri, harus dibantu rame rame karna udah kegemukan!"
Papa: "Trus apa hubungannya dengan naik Moge?"
Si TK: "Ya susahlah Pa, gimana coba dia mau ngepot atau jumping pake motor, apalagi sok sok an pake keris dipinggangnya!"
Papa: "Mungkin keris itu untuk membuktikan kalau dia masih jantan."
Si TK: "Apa hubungannya keris dgn jantan Pa?"
Papa: "Ya mungin karena sama-sama dibawah pinggang."
Si TK: "Maksudnya Pa? Kagak ngerti aku!"
Papa: "Ah tak usahlah kau kebanyakan ngerti, nanti kayak kebo pulak lagi!"
Si TK: "Kok malah nyambung ke kebo Pa?" Memangnya apa hubungannya Moge, kuda sama kebo?"
Papa: "Yah...kebo itukan juga gede, gemuk malah tambun pulak."
Si TK: "emang kenapa kalau kebo tambun?"
Papa: "Ya nggak bisa naik moge lah!"
Si TK: "Kebo naik moge?"
Papa: "Sudahlah....belum masuk nalar kau kesana!"
Si TK: "kenapa juga nggak pake pengganti aja Pa, supaya kebonya bisa naik moge?"
Papa: "Stuntman maksudmu?"
Si TK: "Iya Pa!"
Papa: "Oh kalau soal stuntman belum paham anak buah kebo itu!"
Si TK: "Loh kok belum bisa paham Pa?"
Papa: "Macam mana bisa paham, kan kebo biru. kalau mereka mau jadi kebo merah mungkin barulah paham mereka!"
Si TK: "Maksudnya kebo biru apa Pa?"
Papa: "Ah sudahlah...mandi sana kau. nanti nanya nanya lagi kau soal telor mata kebo....sana mandi, udah malam!
Si TK: "Ok Papa...!"
#SP#19818#SD17#

Rabu, 17 Juli 2019

YANG MISKIN LENYAP DI 2019


YANG MISKIN LENYAP DI 2019
Barusan Ucok si TK kami nelpon.
Si TK: "Pa, gawat Pa!"
Papa: "Apanya yang gawat!"
Si TK: "Pokoknya gawat lah!"
Papa: "Ah kau ini, tiba-tiba nelpon terus gawat-gawat lah kau bilang!"
Si TK: "Kutanya dulu Papa." Papa kan usaha oncom, itukan makanan orang miskin Pa. trus artinya kita miskin dong?"
Papa: "Apa pulak kau bilang miskin. belum tentu yang makan oncom itu miskin!"
Si TK: "Trus kita miskin nggak Pa?"
Papa: "Macam mana pulak kita miskin, Avanza aja kita punya walau ada kemungkinan bisa korsleting dan meledak ban nya. kakakmu juga bisa kuliah kok!"
Si TK: "Bener ya Pa. tapi 2019 kita belum miskin juga kan?"
Papa: "Apa pulak miskin di 2019?" Ya nggak lah!"
Si TK: "Syukurlah kalau gitu, soalnya katanya semua yang miskin di 2019 harus sudah nggak ada di Indonesia!"
Papa: "Kata siapa?"
Si TK: "Kata tukang kuda, Pa!"
Papa: "Macam mana pulak tukang kuda bisa ngatur-ngatur begitu?"
Si TK: "Izzz...manalah kutahu Pa."
Papa: "Eh, kalau kau tak tahu ya jangan teriak-teriak gawat!"
Si TK: "Tapi, kata tukang kuda Indonesia aja bisa bubar Pa."
Papa: "Darimana dia dapat info itu?"
Si TK: "Katanya sih dari novel Pa."
Papa: "Ah kau ini....Dumbledore dan Harry Potter aja tak tahu kalau JK Rowling bakal jadi perempuan terkaya di dunia."
Si TK: "Loh apa hubungannya Pa?"
Papa: "Gini loh, kalau si tukang kuda bisa bikin kudanya terbang, atau tongkatnya bisa berdiri sendiri, bolehlah kalau kau mau percaya dia!"
Si TK: Kagak ngerti Pa!" Apa pula maksudnya tongkat berdiri itu?"
Papa: "Nahh kalau ini memang kau tak boleh tahu, biarlah suaminya Krisdayanti yang tahu itu!"
Si TK: "Apaan sih Pa, makin nggak ngerti deh."
Papa: "Sudahlah, nonton Asian Games aja kau, mana tahu nanti atlit Timor Leste menang lomba balap kuda!"
Si TK: "Izzz ... Papa inilah, mana ada kuda jantan apalagi yang dari Timor Leste yang balapan di Asian Games."
Papa: "Nah sudah pandai kau kan. jadi tak perlu lagi kusuruh kau kerumahnya pemilik Partai Berkarya. tak masuk otakmu itu!" Sudah sana kau tengok-tengok saja burung tekukurnya Mbah Aries tetangga kita itu. masih hidup apa nggak. biar pasti hidup mati keduanya."
Si TK: Kok keduanya Pa?
Papa: "Ah sudahlah....Papa mau ngardusin oncom dulu."
Si TK: Ok Papa...pokoknya jangan sampai miskin ya!"
#SP#13818#SD16#

KARDUS DAN PANGUDI LUHUR


KARDUS DAN PANGUDI LUHUR
Barusan Mamak yang melahirkanku nge-WA.
MAMAK: "Lagi ngapain kau?"
Papa: "Biasalah Mak, ngurusin oncom-oncom yang mau diekspor."
MAMAK: "Macam mana kedua cucuku? Bagus nyah kau kasih makan mereka?"
Papa: "Yaelah Mak, baguslah pulak. mana mungkin kukasih seadanya mereka. Comel-comel pulak nanti Mamak."
MAMAK: "Mana tahu kau kepincut mau Nyaleg, trus kau kurangi jatah gizi cucu-cucuku itu!"
Papa: "Ada apa Mamak nge-WA?"
MAMAK: "Begini nakku, Bisa nyah nanti kau sekolahkan Ucok si TK ke Pangudi Luhur?"
Papa: "Kenapa pulak harus kesitu Mak, jauhlah pulak dari rumah kami!"
MAMAK: "Ah, kalau jauh kau aturlah. kan bisa kau cari supir pribadi atau belilah rumah sekitar situ!"
Papa: "Bukan kaya kali anakmu ini Mak."
MAMAK: "Jangan banyak cakap kau, bangau aja bisa beli kardus harga milyaran, masa kau kalah sama bangau?"
Papa: "Izzz... Mamak inilah, masa bangau dibilang bisa beli kardus milyaran. Macam mana pulak bisa begitu?"
MAMAK: "Sudah dari dulu kubilang, gantungkan cita-citamu jadi gubernur atau paling sikit jadi wakil gubernur, pasti kau punya trick untuk bisa dapatkan apapun!"
Papa: "Trus kenapa juga harus kesekolah itu Mak?"
MAMAK: "Itulah kau, kalau Ucok Si TK sekolah disana, mana tahu nanti dia jadi jago segala macam."
Papa: "Maksudnya Mak?"
MAMAK: "Ya bisa jagolah, kalau dia mau jadi atlit, dia bisa lari sana sini sambil pakai Lips Gloss dan main silat-silatan."
Papa: "Trus?"
MAMAK: "Dia juga bisa jago menyumpal mulut-mulut yang biasa ngunyah pepesan halal dan haram.
Papa: "Tapi Mak, aku maunya dia jadi tentara kayak Bapak."
MAMAK: "Jadi tentara pulak kau bilang. Bapakmu pulak jadi referensi. Bapakmu tentara tapi tahunya cuma nembak Mamakmu ini. itupun karna dulu Orba manjain mereka, makanya kuterimalah Bapakmu itu!"
Papa: "Tapi kan Mak, kalau jadi Jenderal si Ucok, nanti dia bisa kemana-mana."
MAMAK: "Hah..ini dia yang kau tak tahu kan!" Kalau anakmu sekolah di Pangudi Luhur, jadi dewa pun kalau dia mau bisa.
Papa: "Tapi kan Mak, bukan karna Pangudi Luhur nya kan."
MAMAK: "Ah, pokoknya kau aturlah biar dia kesana." Tak bangga kau nanti kalau dia jadi Pendeta?"
Papa: "Kok jadi Pendeta Mak?" kan sekolah sekuler!"
MAMAK: "Mau sekuler kek, teologi kek, yang penting sesuai dengan kepentingan."
Papa: "Trus kalau bisa jadi Pendeta memangnya nanti bisa jadi apa?
MAMAK: "Jadi bempernya Presiden lah!"
Papa: "Kok bemper?"
MAMAK: "Ya iyalah...kan Presidennya naik kuda!"
Papa: "Kagak nyambung lagi!"
MAMAK: "Makanya kau sekolahkan si Ucok ke Pangudi Luhur, nanti pasti nyambung. Kardus aja bisa jadi Presiden, apalagi lulusan Pangudi Luhur!"
Papa: "Mak...mak...udahlah urus aja telor-telor teman Mamak yang sudah busuk itu beritanya."
MAMAK: "Bah..itu episode sebelumnya...nggak usah lagi kau bicarakan di episode kardus dan Pangudi Luhur!"
Papa: "Ok lah Mak, aku ngardusin oncom-oncom dulu ya."
#SP#13818#SD15#

JADI ORANG KAYA


JADI ORANG KAYA
Ucok si TK belum tidur dan maksa ngajak ngobrol.
Si TK: "Pa, aku kalau sudah besar pengen jadi orang kaya aja!"
Papa: "Loh, katanya mau jadi Jenderal."
Si TK: "Nehi...nehi...pokoknya jadi orang kaya!"
Papa: " Memangnya kenapa jadi orang kaya?"
Si TK: "Papa..., kalau aku jadi orang kaya, apapun bisa kubeli dan kuatur!"
Papa: "Contohnya?"
Si TK: "Loh, kalau aku kaya aku bisa beli kuda!"
Papa: "Trus?"
Si TK: "Kebo!" Avanza anti korsleting! "Sapi berjubah!" Pokoknya banyaklah!"
Papa: "Cuma itu aja?"
Si TK: "izzz....Papa inilah...banyaklah!"
Papa: "Apalagi?"
Si TK: "Aku juga bisa beli bintang?"
Papa: "Bintang? kagak salah tuh?!"
Si TK: "Iyalah Pa. kagak salah! Kalau aku kaya aku bisa beli bintang tiga bahkan bintang empat, biarpun bintang empat yang kubeli hadiah dari Mbah Wahid!"
Papa: "Lah, nggak kegedean beli bintang?" ntar bawanya pakai apa?"
Si TK: "Gampanglah Pa, kan bisa pake kardus bawanya?"
Papa: "Loh, apa muat?
Si TK: "Izzz...Papa inilah...ya muatlah...kan kardusnya yang harga 500 milyar. Pasti muatlah!"
Papa: "Ah ada ada saja kau ini!" Memangnya ada yang jual kardus seharga itu?
Si TK: "Adalah Pa. tuh di kertanegara!"
Papa: "Siapa yang jual?"
Si TK: "Kalau suppliernya sih si Andiar, ponakannya Miss Annie, guruku. nah yang beli katanya pemilik kuda kuda jantan!"
Papa: "Trus buat apa lagi selain ngebungkus bintang-bintang?"
Si TK: "Bisa juga sih buat ngebungkus jenggot jenggot, jubah, dan sorban sorban yang dibeli di Pangudi Luhur!"
Papa: "Hmm...makin ngaco kamu!" trus apalagi?"
Si TK: "Pokoknya banyaklah Pa. termasuk bangkai bangau, Lips Gloss dan Dewi Persik!"
Papa: "Hah..., Dewi Persik? Dibungkus kardus? Apa hubungannya?
Si TK: "Izzz...Papa inilah...suka sukakulah kardusnya buat bungkus apa...kan orang kaya!"
Papa: "Ah makin ngaco aja kamu, udah sono tidur!"
Si TK: "Ok Papa...aku mau bobok dulu ya, doain mimpi jadi orang kaya......
#SP#12818#SD14#

Senin, 15 Juli 2019

KETENDANG KUDA, KELEMPAR KARDUS


KETENDANG KUDA, KELEMPAR KARDUS

5 Menit lalu Ucok Si TK nelpon pakai Samsung Galaxy S9 si Teteh, Asisten rumah tangga kami.
Papa: "Hallooo...ada apa Teh?"
Si TK: "Ini aku Pa!"
Papa: "Loh kenapa pake hp Teteh?"
Si TK: "Bolehlah Pa, sekali-sekali minjam, soalnya mau kasih tahu Papa!"
Papa: "Kasih tahu apa?"
Si TK: "Kasih tahu kalau aku hari ini libur sekolahnya!"
Papa: "Kok bisa libur?"
Si TK: "Ya bisalah Pa. katanya guruku Miss Annie sakit Pa, jadi kelasku diliburin."
Papa: "Loh, sakit apa Miss Annie?"
Si TK: "Nggak tahu Pa, tapi katanya semalam pingsan!"
Papa: "Pingsan?" kok bisa?"
Si TK: "Izzz...Papa inilah, manalah kutahu Pa!" Tapi kata kepala sekolahku ketendang kuda jantan Pa."
Papa: "Kok bisa ketendang kuda jantan?" Memangnya ngapain malam-malam kok bisa sampai ketendang kuda jantan?"
Si TK: "Taukkk...pokoknya pas udah Miss Annie pingsan, katanya langsung ditolong sama ponakannya, si Andiar!"
Papa: "Ditolong bagaimana maksudmu?"
Si TK: "Ya ditolong biar selamat!"
Papa: "Caranya?"
Si TK: "Katanya sih pas udah ketendang kuda, Andiar langsung ngelempar kardus ke kudanya supaya nggak ketendang lagi!"
Papa: "Trus?"
Si TK: "Ya terus anaknya Miss Annie nangis-nangis karna mamaknya pingsan!"
Papa: "Lah suaminya Miss Annie memangnya kemana?"
Si TK: "Katanya sih diam aja, takut dibilang baper-an sama orang-orang kampung."
Papa: "Trus kardusnya kena ke kudanya?"
Si TK: "Kagak Pa, malah melayang masuk ke kepala penunggangnya."
Papa: "Ah ngarang crita aja kamu!"
Si TK: "Izzz...Papa inilah!" Serius aku Pa!"
Papa: "Lah, itu penunggang kuda kagak apa-apa?"
Si. TK: "Katanya sih sempat pusing-pusing karna kena lemparan kardus."
Papa: "Trus?"
Si TK: "Ya karna pusing dikasih obat sakit kepala Cap Bintang Tiga!"
Papa: "Loh, bukannya Bintang Tujuh?"
Si TK: "Papa...papa...itu kan dulu, sekarang mah karna udah daluwarsa jadi Bintang Tiga deh."
Papa: "Sembuh?"
Si TK: "Tauk deh, Papa liat aja di TV jam 10. udah pada sembuh belum yang ketendang kuda dan kelempar kardus!"
Papa: "Ya udah...matiin HP nya, kembaliin ke Teteh. rusak pulak nanti. kan bahaya kalau Teteh nuntut, 500 milyar pulak!"
Si TK: "Ah Papa Lebay!"
#SP#9818#SD13#

KARDUS SEKALIBER JENDERAL


KARDUS SEKALIBER JENDERAL
Si kakak yang mahasiswa barusan nelpon.
Si MHS: "Pa, rame loh pa!"
Papa: "Ini anak,..belum juga bilang good morning udah main bilang rame aja!" Rame apaan sih?"
Si MHS: "Itu....katanya ada kardus sekaliber jenderal!" Memangnya kalau kardus ada pangkat atau kastanya ya Pa?"
Papa: "Mana kutahu!"
Si MHS: "Lah papa kan biasa ngirim oncom pake kardus, masa nggak tahu?"
Papa: "Ah itu kan oncom yang dikardusin, kalau soal kardusnya level jenderal manalah papa tahu!"
Si MHS: "Tapi yang kasih klasifikasi itu orang yang pake nama bangsawan Celebes nan bijak loh pa, pasti kan bener pa !"
Papa: "Janganlah kau main benar benar kan saja. cek dulu, kenapa dia bicara begitu."
Si MHS: "Katanya sih pa, karna putra mahkota junjungannya nggak laku dijual."
Papa: "Macam mana pula putra mahkota bisa dijual!"
Si MHS: "Bisa lah pa!" Buktinya kemarin itu sudah diobral, tapi aneh diobralnya kok sama orang yang pernah nonjokin kebo ya?"
Papa: "Apa pulak maksudmu nonjokin kebo?" kau pikir kebo tak akan menanduk kalau pernah ditonjok?" Kecuali memang kalau ada maunya, yah dilupakanlah tonjokan itu. contohnya, karna di PHP sama ratunya banteng, nah...daripada dianggurin kan mending mesra-mesraan sama Kuda.
Si MHS: "Kok sama kuda sih Pa?" kalau kuda kan biasanya standarnya mahal, harus banyak uang kalau mau mesra-mesraan sama kuda!"
Papa: "Ya begitulah kalau terbiasa hidup di peternakan mewah. semua diukur pake uang!"
Si MHS: "Biarpun di dalamnya ada sapi berjubah Pa?"
Papa: "Ya iyalah. kagak ngaruh jubah-jubahan itu, yang penting fulus tetap jadi primadona!"
Si MHS: "Lah terus, ada ngaruh nggak Pa ya sama keledai yang kata si dedek TK sedang mau main jatuh-jatuhan di kampung para Daeng, malah katanya mau sampai ke kampungnya Paman Sam?"
Papa: "Ngaruh apa maksudmu?
Si MHS: "Ya ngaruh karna kan yang mau dijual sama si keledai semua tentang isi peternakan mewah itu!"
Papa: "Manalah kutahu itu. sejak dari jaman losmen dulu sampai ke jaman emakmu mau ikut-ikutan jadi pesinetron yang ditawarin main di sinetron berjudul Losmen Jaman Now, mana pernah ada keledai bisa jadi bijak."
Si MHS: "Maksudnya Pa?"
Papa: "Ah itu saja kau tak ngerti, makanya selesaikan saja kuliah kau itu. begitu selesai kau pasti ngerti apa itu artinya pekerja losmen memperjuangkan hak-hak eksklusif penghuni peternakan mewah!"
Si MHS: "Asli Pa, makin tak ngerti aku!"
Papa: " Sudahlah, tanya saja emakmu atau opungmu, masih ada nggak telor-telor dari depan istana itu, mana tahu bisa nambah gizimu biar bisa lebih pintar melihat dagelan ala Cikeas, Hambalang, Sengkuni dan Makhluk dari gurun pasir di Arab sana!"
Si MHS: "Ok Pa. aku pinjam Avanza papa ntar pulang kuliah ya." pokoknya aku jamin kagak bakal meledak ban depannya!"
Papa: "Eh, mau kemana pulak kau?"
Si MHS: "Kerumah nenek pait lidah!" Mau nanya kok banyak diam belakangan ini!"
Papa: "Siapa pula nenek pait lidah itu?"
Si MHS: "Ah, mau tauk aja papa inilah, bye Pa!"
#SP#9818#SD12#