Translate

Rabu, 26 Juni 2019

TELOR DIMAKAN KUDA

TELOR DIMAKAN KUDA
Mama yang melahirkanku tadi menelepon.
Mama: "Dimana kau?"
Papa (Anak Mama): "Dikantor lah mak." Ada apa, Mak?"
Mama: "Tolong dulu kau belikan telor dan kirim ke teman-teman mamak!"
Papa: "Teman yang mana Mak?"
Mama: "Itu loh teman-teman mamak yang pintar nyeloteh dijalanan sambil pamer-pamer kacamata hitam sama gelang-gelang emas."
Papa: "Lah, ngapain mamak kirimin mereka telor?"
Mama: "Kasihan lah, kayaknya tak sanggup mereka beli telor."
Papa: "Lah, katanya pakai gelang-gelang emas, berarti kan mampu!"
Mama: "Ah sudahlah, kau kirim sajalah. dulu mereka memang mampu, tapi sejak naik 500 perak telur sebutir, mereka sudah tak mampu lagi!"
Papa: "Kok bisa?" kan naiknya juga bukan permanen. lagian mending aku kirim telor saja sama mamak."
Mama: "Tak perlu telor sama aku, aku sudah tua, kebanyakan kolesterol nanti. lagian ikan teri nyah yang kusuka, itupun sekali-kali ikan asin. kalau telor, nanti ngap-ngap an jantungku, lagian bapakmu pun kan sudah tua. tak perlu lagi telor sama dia!"
Papa: "Loh, tapi kan teman-teman mamak pun kan sudah pada tua?"
Mama: "Memang mereka sudah pada tua, tapi junjungan mereka kan belum pada tua syahwatnya. mereka butuh telor untuk meningkatkan performa meraih kursi-kursi empuk sekalipun dikursi-kursi itu nanti agenda tentang telor untuk rakyat raib dimakan kuda!"
Papa: "Kok kuda sih mak?"
Mama: "Itulah kau, percuma sarjana. belum tahu kau kan kalau telor bisa dimakan kuda. Tapi mamak yakin, penunggang kudanya pasti tak perlu lagi sama telor. selain sudah expired, toh tak ada lagi yang masakin telor buat dia!"
Papa: "Izzz mamak inilah...sok tauk kali!"
Mama: "Tak percaya kau?" Sana ke Cendana, kau tanya sendirilah!"
#SP#310718#SD5#

MANTAN WANTS COME BACK

MANTAN WANTS COME BACK
Jam 02.00, Mantanku nge-WA.
Mantan: "Pa kbr?"
Papa: "Baik, kamu?"
Mantan: "lumayanlah."
Papa: "Tumben, ada apa nih?"
Mantan: "Nggak pa-pa, cuma kangen."
Papa: "Jam segini?" Nggak bisa tidur ya?"
Mantan: "Iya nih, kebayang terus, masa-masa dulu sama kamu 10 tahun!"
Papa: "Aduh, nggak usah diingat-ingat lagi deh, kan kita masing-masing udah punya pasangan."
Mantan: "Iya sih. Tapi sekarang udah tambah gemuk loh."
Papa: "Mmhhh...sorry, kamu masih baper-an nggak?"
Mantan: "Ihhh..., kamu gitu deh, itu kan udah bawaan lahir lagi!"
Papa: "Maaf. By the way masih piara kebo ya?"
Mantan: "Isshh, ingat aja! Masih sih."
Papa: Denger-Denger anakmu udah jadi kepala security?"
Mantan: "Kamu kok tahu aja sih?" Masih mikirin aku ya?"
Papa: "Gimana nggak mikirin, belakangan ini kamu kan suka curhatan lagi dimana-mana!"
Mantan: "Maklumlah, aku kan pengen eksis lagi. Ntar kalau aku bisa eksis lagi, kan lumayan bisa ngangkat harkat dan martabat keluargaku." Lah itu tadi anakku yg kepala security malah udah kuminta pensiun dini supaya bisa nerusin jabatanku dulu!"
Papa: " Kamu itulah, ambisius banget!" Padahal anakmu itukan gagal jadi lurah loh, masa didorong-dorong lagi jadi bupati. Nggak ketinggian? Dia kan masih muda, lagian pengalamannya cuma jago main pentungan security. Kasihan dong didorong-dorong gitu!"
Mantan: "Yah, namanya juga usaha."
Papa: "Kudengar kamu bikin villa gagal ya?"
Mantan: "Iya nih, gagal gara-gara uangnya habis dipakai sama sanak saudaraku."
Papa: "Kok bisa?"
Mantan: "Ya bisalah, habisnya sibungsu kami ikut-ikutan ngeramein!"
Papa: "Gimana bisnismu sama si juragan kuda?"
Mantan: "Terpaksa aku terima, soalnya dia ngebet banget pengen jadi CEO. Lah aku juga kan pengen anakku bisa dipromoin minimal jadi vice-nyalah."
Papa: "Lah, kudengar si juragan kuda gagal melulu tuh jadi CEO, kurang modal katanya."
Mantan: "Nggak pa -pa. Kali ini pasti menang, soalnya sudah direstui sama jagoannya padang gurun yang mantan pelari jarak jauh."
Papa: " Hebat!" Udah ya aku sudah ngantuk nih!"
Mantan: "Ok deh, sorry ya udah ngeganggu, soalnya cuma kamu yang sanggup ngedengerin nyinyirnya aku."
Papa: "Nggak pa-pa. Oh ya salam ya sama si juragan kuda dan bang Rhoma!
#SP#31718#SD4#

Minggu, 23 Juni 2019

PESINETRON JADI PRIMADONA PARPOL


PESINETRON JADI PRIMADONA PARPOL
Barusan biniku nge-WA.
Bini: "Lagi ngapain Pa?"
Papa: "Mandangin fotomu di FB."
Bini: "Lebay ah!"
Papa: Kok lebay honey, kan kaum kalian memang senang diperhatiin." Ada apa nge WA?"
Bini: "Mau minta ijin."
Papa: "Ijin apaan?"
Bini: "Main sinetron!"
Papa: "What?" Memangnya masih punya waktu?"
Bini: "Ya tinggal diaturlah!"
Papa: "Bunda pasti punya motivasi lain nih."
Bini: "Nggak juga!"
Papa: "Jadi?"
Bini: "Gini loh Pa, kalau aku main sinetron, ya...yang abal-abal aja, kan nantinya aku bakal gampang jadi public figure."
Papa: "Trus?"
Bini: "Nah kalau udah jadi Public Figure, pastinya aku dikejar-kejar sama Parpol, tapi aku sih maunya Parpol yang kenceng agamanya, biar aku kelihatan soleh dan bener semua omongannya."
Papa: "Abis itu?"
Bini: "Abis itu ya aku bisa jadi orator ayat-ayat langit, trus aku bisa jadi primadona partai politik, dan yang paling hebat, aku bisa tumbangkan tirani di negara ini. gampang kan?"
Papa: "Nggak takut ntar dibenci banyak orang?
Bini: "Ya nggaklah, kan aku alumni pemain sinetron, tinggal mainkan air mata dengan suara disetel-setel, pasti deh banyak yang simpatik!"
Papa: "Ealah honey....mendingan kamu di rumah ajalah...siapin makananku sama anak-anak!"
Bini: "Lah itu mah kan sudah tiap hari!"
Papa: "Iya sih, tapi kamu kan belum pernah bikinin aku lauk ikan badut, itu tuh ikan Nemo......
Bini: "Ah Papa.....iya deh..tapi kalau udah dibikinin Ayla-ku diganti Avanza ya...tapi jangan yang gampang korsleting ya...ntar meledak lagi.....
#SP#30718#SD3#

NUBUAT KETUA MPR


NUBUAT KETUA MPR
Barusan anakku yang kuliah di semester III nelpon.
Si MHS: "Pa, kalau jadi ketua MPR boleh ya ngomongin kerjaan KPK?"
Papa: "Ya boleh dong!"
Si MHS: "Walaupun yang diomongin soal pejabat yang korupsi?"
Papa: "Ya bolehlah, memangnya kenapa?"
Si MHS: "Nggak sih, cuma aku bingung kehilangan nalar Pa, kalau ada ketua MPR bicara supaya KPK jangan seenaknya nan
gkapin pejabat korupsi, ntar katanya habis pejabatnya."
Papa: "Udah biarin aja. kan dia sedang bernubuat!"
Si MHS: "Kok nubuat sih Pa?"
Papa: "Ya bilang aja deh Nubuat biar agak kelihatan suci dan saleh seperti kata kakek-kakek yang ogah jalan-jalan....!" walaupun sebenarnya sih cuma ramalan sekelas dukun yang yakin pasti ramalan terwujud!"
Si MHS: "Maksudnya Pa?"
Papa: "Masa sih kau mahasiswa tak ngerti?"
Si MHS: "Bener, kagak Pa!"
Papa: "Ya udah, nih 3 juta...abisin ya!"
Si MHS: "Buat apa Pa?"
Papa: "Buat ngelancong ke Lampung Selatan!"
Si MHS: " Kok?"
Papa: " Udah sono pergi aja sekarang, disono ntar kau bisa lihat apa artinya ramalan yang tergenapi!"
#SP#30718#SD2#

PELANGI DI JALAN DAN PINGGIR SUNGAI


PELANGI DI JALAN DAN PINGGIR SUNGAI
Tadi pagi anakku yang TK bertanya:
Si TK: "Pa, memangnya pelangi bisa dibikin dijalan dan pinggir sungai ya?
Papa: Bisa!
Si TK: gimana caranya Pa, aku mau bikin juga ah.
Papa: Kalau kamu belum bisa, nak!
Si TK: Loh kenapa? Aku kan sdh diajarin menggambar disekolah!
Papa: Untuk pelangi di jalan sama pinggir sungai harus sarjana dulu dari PTN ternama dalam negeri, trus wajib S2 dari PTN ternama dan yang paling penting harus Ph.D., dari universitas di Amerika, nggak bisa kalau cuma PT dalam negeri!
Si TK: "Ribet Pa ah, kagak ngerti...!
Papa: "Ya udah kalau nggak ngerti! Belajar aja yg rajin, harus santun, harus pintar bicara, harus saleh...ntar juga bakalan bisa!
#SP#300718#SD1#

Kamis, 09 Agustus 2018

SORAK-SORAI DI KEHENINGAN Oleh: Saor R.S.S.S. Panjaitan


SORAK-SORAI DI KEHENINGAN
Oleh: Saor R.S.S.S. Panjaitan

Lebih baik sorak-sorai jiwa dalam keheningan daripada sorak sorai ragawi dalam kepongahan   #SP#26418#
 
 


Nyeleneh lagi! Itu pasti yang anda pikirkan saat membaca judul tulisan ketiga yang saya kupas dari quote yang terposting pada dua puluh enam April lalu itu. Bagaimana mungkin sorak-sorai bisa dilakukan dalam keheningan?  Bukankah keheningan sama sekali jauh dari sorak-sorai? Kamus Besar Bahasa Indonesia sendiri menegaskan bahwa sorak-sorai adalah suara teriakan dan pekik yang dilakukan beramai-ramai. Jika ada suara dan berteriak pula, tentunya ada gelombang keras namun tidak kelihatan yang mampu menabuh keras gendang telinga, ditambah lagi adanya berbagai gerakan tubuh saat teriakan tersebut dilakukan yang juga menambah kehebohan dan tentunya jauh dari keheningan.

Sorak-sorai di keheningan rasanya bagaikan menikmati sejuknya curahan sinar matahari pada siang bolong di gurun pasir Danakil di Ethiopia yang suhunya bisa mencapai 500C atau tawa terbahak-bahak di prosesi pemakaman Agnes Gonxha Bojaxhiu atau yang lebih dikenal dunia sebagai Mother Theresa, ibu kaum papa yang meninggal pada 5 September 1997 di Kalkuta India. Suatu polarisasi yang rasanya tak mungkin bertitik taut.

Keheningan adalah kesunyian dalam diam yang bertafakur (merenung) mendalam sampai dasar yang terdalam. Dibutuhkan pertimbangan yang sungguh-sungguh melalui penguasaan diri demi mendapatkan hakiki terdalam dari kesunyian itu sendiri. Keheningan dibutuhkan untuk menarik kuat-kuat hikmat dari lumbung kearifan Illahi bagi para bijak dan aulia melalui prosesi meditasi dan doa-doa yang mengapalkan lutut dan sela-sela jemari sebelum mereka dipakai sebagai lidah ataupun pena Illahi yang tak terkontaminasi kepentingan duniawi. Indikasi utama para figur saleh yang orisinal membawa suara hikmat dari surga dapat dicermati saat dia mendapatkan hikmat tersebut dan cara serta tempat penyampaian yang biasanya dalam tudung keteduhan dan kesantunan yang memikat jiwa. Dari sini kita mestinya hakulyakin bahwa mereka yang mengklaim membawa kebenaran dari langit namun diprosesikan dalam sorak-sorai bising yang tak beraturan dan ditingkahi dengan caci maki, hujatan dan ancaman pastilah bukan agen-agen Illahi tapi para jongos recok dari penguasa kegelapan.

Keheningan membutuhkan wadah. Dia bisa berupa hamparan lembah yang sunyi tak berpenghuni dikala hembusan angin sedang tidak melawatnya. Wadah itu juga bisa berupa Arlington National Cemetery, taman makam pahlawan Amerika Serikat yang sekalipun berisi 400.000 lebih nisan dari berbagai ras dan agama, namun hening mencekam terlebih di saat purnama menggayut di langitnya. Di Arlington, Kapten  Angkatan Darat Humayun Khan tentara pahlawan Amerika yang muslim peraih Bintang Perunggu dan Purple Heart yang tewas di medan tempur negara Islam Irak, tidak lagi bersitegang urat leher tentang agama yang paling benar dengan Kopral Murray F. Smith si Kristen pemegang Purple Heart yang hanya menikmati 20 tahun kehidupan didunia dan si Yahudi Letnan Kolonel Harold T. Bartell, sehingga dapat mengoyak-ngoyak keheningan Arlington yang mencekam.

Keheningan juga bisa didapatkan di dalam ruangan paling sunyi di dunia dengan tingkat suara latar di dalamnya sebesar -20,6 decibel (suara napas manusia sekitar 10 decibel) yang dibangun di dalam Building 87 pada markas Microsoft di Redmond, Washington. Ruang Anechoic yang berbentuk kubus berukuran 6,36 m disetiap arah dan berdinding beton setebal 30 cm ini mampu menahan suara jet tempur sekelas F 22 Raptor yang menggelegar dan mampir singgah di samping temboknya dan hanya terdengar bagai bisikan halus di dalamnya. Di ruangan ini, suara ragawi dari tubuh anda yang tidak terdengar seperti detak jantung, gerakan bola mata, desiran darah bahkan suara lambung terdengar hiruk pikuk di dalamnya. Teknologi tertentu mampu membuktikan betapa bisingnya dunia yang kita tinggali ini sekalipun tanpa teriakan dan gerakan.

Jika sorak sorai yang mampu dideteksi oleh panca indera dan teknologi begitu bisingnya di dunia nyata, betapa ledakan sorak-sorai lebih berdentum jika dihayati dengan sepenuh hati dan jiwa. Sorak-sorai adalah ekspresi atas kegembiraan yang luar biasa. Kegembiraan yang terjadi karena kemenangan, kemerdekaan, keberhasilan dan sejenis lainnya. Sorak-sorai ini bisa berlangsung singkat namun juga berlarut-larut sebagai euforia bermotivasi mempertontonkannya di hadapan teman terlebih lawan. Sorak-sorai yang telah meng-euforia biasanya cepat atau lambat berubah menjadi kepongahan. Saat ragawi mempertontonkan kepongahan dalam bentuk sorak-sorai ini maka kebahagiaan sejati karena kemenangan, keberhasilan, kemerdekaan dan sejenis lainnya itu mengalami degradasi makna yang hakiki. Sayangnya sorak-sorai dalam kepongahan mewabah hebat dalam sejarah kontemporer karena manusia post modernisme senantiasa haus pengakuan dan penghormatan. Mari kita coba telusuri bukti-buktinya.

Ketika Messi pada akhirnya berhasil membawa Argentina masuk ke-16 besar dengan menaklukan Nigeria pada laga terakhir babak penyisihan grup D, para ‘penggila’ team Tanggo mulai dari penonton Argentina yang hadir di Saint Petersburg Stadium sampai ke Leandro Diego Guillermo si penjaga mercusuar yang menonton dengan TV JVC lama keluaran awal 70 an di Ushuaia, Tierra del Fuego Argentina yang dianggap sebagai ujung dunia, bahkan fans fanatik yang sama sekali tidak mempunyai ikatan apapun dengan Argentina yang berdomisili di lembah Baliem Papua ataupun penduduk kampung di seputar perumahan Legok Permai di Tangerang, larut dalam euforia yang dimanifestasikan dengan teriakan menggelegar sampai mengacungkan tinju ke langit tanpa mempedulikan aroma ketiaknya yang membuncahkan bau menyengat karena takut mandi pasca begadang semalaman dan lontaran kata-kata ditingkahi meme yang membludak di media sosial sebagai pelampiasan sorak-sorai yang tak berbunyi. Para penggila Messi ini lupa diri bahwa sejak babak pra Piala Dunia 2018 Argentina sudah tertatih-tatih demi dapat tampil di Rusia. Team ini memang berlimpah dengan pemain bertalenta di lini tengah dan depan seperti Paulo Dybala, Gonzalo Higuain, Angel Di Maria, Ever Banega, Giovani Lo Celso dan tentunya Sergio Aguero, namun kehebatan squad ini pada realitanya nyaris menanggung malu karena hampir tidak lolos ke Piala Dunia 2018. Mereka bisa lolos pun ditentukan pada pertandingan terakhir melawan Ekuador yang untungnya mereka menangi dengan skor 3 – 1. kemenangan yang hanya mampu memposisikan mereka di peringkat ketiga di zona Amerika Latin atau CONMEBOL di bawah Brazil dan Uruguay. Hadirnya Argentina di Rusia tetap dipandang sebagai raksasa penakluk dengan mengabaikan prosesnya. Sorak-sorai over confidence menjadi karpet terbang ajaib ala dongeng seribu satu malam yang membawa team ini ke Rusia. Kesadaran untuk menurunkan volume sorak-sorai dan kebanggaan yang melampaui langit ketujuh tidak juga dilakukan para ‘penggilanya’ ketika fakta di babak penyisihan Grup D memberikan deskripsi akurat bahwa sebenarnya team Eva Peron ini adalah team yang lemah. Di laga pembuka mereka Cuma mampu bermain imbang 1 : 1 dengan debutan baru Islandia, negara yang berpenduduk hanya 430.000 jiwa yang karena bersalju hampir sepanjang tahun, untuk berlatihpun harus di dalam stadion tertutup. Berikutnya lebih parah karena dilumat 3 : 0 oleh Kroasia! Beruntung, Nigeria mengalah dengan 1 : 2 sehingga walaupun dengan compang-camping Argentina lolos ke 16 besar . Maka sorak-sorai gagah dan gegap gempita yang membusungkan dada menggema dari semua ‘penggila’nya. Ada jangka waktu 3 hari para penggemar Argentina melampiaskan kegembiraannya dengan sorak sorai yang makin mempongah. Sorak sorai bising itu terus membesar sampai dimulainya pertandingan Argentina melawan Perancis. Kenyataan pahit harus ditelan ‘penggila’ Argentina saat Perancis menghempaskan sorak-sorai pongah mereka dengan hujan gol yang berakhir 4 – 2 di Kazan Arena. Kekalahan yang membisu totalkan seluruh pendukungnya di muka bumi sampai ke tahap keheningan yang memilukan namun hingar-bingar dalam ledakan kesedihan dan kekecewaan di dalam jiwa. Nama besar mantan juara dunia dua kali saja yang membius ‘penggila’nya sehingga jauh dari eling dan menganggap Argentina adalah raksasa bola yang datang untuk melumat para liliput.  Dibutuhkan masa 4 tahun untuk membangkitkan kembali sorak-sorai pongah itu dari liang kuburnya. Kelak dibutuhkan jersey baru demi menyambut kebangkitan baru pada 4 tahun di depan karena jersey lama di 2018 sudah lapuk di makan deterjen dan besi panas setrika.

Sorak-sorai dalam kepongahan juga dipertontonkan dengan berlebihan bahkan kebiadaban saat ISIS merebut sebagian wilayah Irak termasuk Mosul kota terbesar kedua dan menguras ratusan juta dana dari bank-bank yang mereka kuasai sehingga membuat ISIS menjadi kelompok teroris terkaya di dunia. Sorak-sorai gempita mereka lampiaskan dengan pekikan bernada religi ditingkahi rentetan tembakan ke udara dan untuk selanjutnya bersorak-sorai saat membantai ribuan manusia yang berbeda ideologi religi dengan mereka. Sorak-sorai juga menjadi kenikmatan utama saat mereka menggorok leher-leher musuhnya bahkan ketika menendang-nendang bagaikan bola kaki serta menginjak-injak bayi-bayi yang orang tuanya berbeda keyakinan dengan mereka. Sorak-sorai ragawi dalam kepongahan yang menjijikkan dalam sejarah peradaban kemanusiaan. Demikianpun tingkah barbar mereka lakukan justru mendapat banyak simpati bahkan keinginan untuk bergabung dari banyak anak muda dan keluarga muda dari seluruh dunia yang terperdaya dengan propaganda memutar balikkan ayat-ayat agama sesuka hati mereka. Sorak-sorai ragawi dalam kepongahan memang tak bertahan lama. Saat ini kita ketahui bahwa kekuatan ISIS hampir habis dan hanya menyisakan ratusan teroris yang eksistensinya tidak mampu lagi dipertontonkan dengan leluasa karena sudah menjadi buronan.

Sorak-sorai ragawi bertendesi kepongahan juga bisa kita temukan pada laga akbar demokrasi saat pilkada yang mencoba mencari sosok gubernur terbaik bagi Jawa Barat. Saat debat publik yang dilakukan di Balairung Univeristas Indonesia pada 14 Mei 2018, pasangan calon gubernur nomor urut tiga yaitu Sudrajat – Ahmad Syaikhu (Asyik) dengan norak dan arogannya membentangkan kaos yang tidak tepat waktu dan sasaran yaitu bertuliskan #2019GantiPresiden. Pasangan yang merasa pasti menang ini karena memang Jawa Barat adalah basis utama konstituen dari partai politik yang mengusung mereka tanpa etika dan urat malu membentangkan kaos tersebut saat closing statement yang direspon dengan sorak sorai dahsyat dari para pendukungnya. Sorak-sorai yang berisi kepercayaan diri yang  terlalu besar dan meledak dalam kepongahan sampai pada akhirnya lima lembaga survei yang kredibel seperti Litbang Kompas, Lingkaran Survei Indonesia, Saiful Mujani Research, Charta Politika dan Populi Center memaparkan hasil quick count-nya pada 27 Juni 2018 yang menyatakan bahwa pasangan Asyik kalah dari pasangan Ridwan Kamil – Uu Ruzhanul Ulum (Rindu) dan dipertegas secara final oleh KPU Jawa Barat pada 24 Juli 2018. Kekalahan yang menyakitkan dengan selisih suara lebih dari 4% ini bukan hanya menyakitkan namun merontokkan kepongahan sampai tataran ideologis!

Berbeda dengan sorak-sorai jiwa yang diperdengarkan dalam keheningan. Sorak-sorai ini benar-benar menggelegar dahsyat tidak dibatasi ruang, waktu dan besarnya slot memori untuk menampung datanya. Sorak-sorai ini laksana luar angkasa yang terkesan gelap dan senyap, namun jika digunakan teleskop ilmu pengetahuan dan teknologi, suaranya luar biasa dahsyat dimana manusia pasti tidak sanggup menampungnya dengan gendang telinga. Ledakan supernova yang bisa berlangsung selama bertahun-tahun dan diperkirakan terjadi setiap 30 tahun khusus hanya di galaksi Bimasakti saja yang menimbulkan cahaya terang di atas sana yang bergema dan berulang diberbagai galaksi lainnya sepanjang sejarah alam semesta, tiada pernah terdengar sampai bumi, namun tidak dapat dibantah bahwa kedahsyatannnya mampu membuat bumi menyerpih laksana butiran pasir di padang gurun sahara nan luas!

Sorak-sorai jiwa dalam keheningan memberi akses langsung pada Sang Pemberi suara pada dunia melalui jembatan syukur dan takjub yang dihantarkan dengan letupan-letupan dahsyat rasa terimakasih yang tak terhingga. Sorak-sorai yang tidak membutuhkan kepalan tangan yang dihentakkan ke atas kepala dan pekikan dari pita suara sembari ditingkahi berbagai gerakan tubuh yang dilontarkan kesana kemari.
Sorak-sorai jiwa inipun tersimpan rapat dari liputan berbagai mata dan pikiran yang siap menafsirkannya sehingga kepongahan terantai kuat tak mampu menggelinjang penuh gairah untuk dipertontonkan kepada sesama.

Sorak-sorai jiwa dalam keheningan ini adalah laksana sepasang suami isteri yang mendengar kabar sukacita dari bidan di klinik kampung jauh di pedalaman Kalimantan bahwa mereka akan mendapatkan anak setelah menunggu 12 tahun dalam pernikahan yang dipenuhi dengan cinta dan kesetiaan. Mereka mengekspresikan gegap-gempita dalam jiwanya hanya dalam bentuk senyum namun berteteskan air mata dan mengakhir dengan lipatan tangan sembari bersimpuh berdua menaikkan kalimat-kalimat tak berbunyi kepada Sang Khalik melalui doa syukur dan terimakasih. Suatu kebahagiaan yang disertai kesadaran bahwa janin berusia satu setengah bulan tersebut akan mengulah menjadi rasa nyaman yang tak terperi sepanjang empat bulan pertama untuk kemudian dilanjutkan dengan kontraksi menyakitkan yang bagaikan mengaduk-aduk rahim si calon ibu dengan body yang bersegera membesar jauh dari kerampingan seperti masa gadisnya. Bentuk body yang justru makin memikat si calon ayah yang makin bergairah membanting tulang karena konsekuensi logis di hari depan menuntutnya menyediakan berbagai kebutuhan si calon buah hati mulai dari kain popok sampai susu formula yang bakal rakus disedot sang buah hati. Semua proses yang melelahkan jasmani rohani namun justru menimbulkan sensasi kebahagiaan yang justru ditakuti oleh anak-anak muda yang takut menikah baik di Jepang, Singapura maupun Eropa utara karena tak ingin berlelah ria memikul tanggung jawab yang menyita tubuh, pikiran, dan penghasilan bulanannya.

Sorak-sorai jiwa dalam keheningan juga terlihat dan terdengar riuh ketika disebuah warung tegal (warteg) seorang pria dan wanita yang nampaknya adalah pasangan suami isteri terlihat banyak tersenyum tanpa sedikitpun terdengar tawa. Saat itu, saya yang juga makan disebelah mereka baru tersadar beberapa menit kemudian bahwa si pria ternyata tuna wicara (bisu), namun cerita ceria mereka yang hanya menggunakan bahasa isyarat yang dipertegas dengan gerakan bibir menghasilkan kegembiraan bagi keduanya. Suatu kegembiraan yang menyorak-nyorai dalam keheningan yang hanya diketahui oleh mereka dan memburatkan rona-rona merah muda di wajah, tanda adanya keintiman yang menggelut mesra jiwa keduanya.

Sorak-sorai jiwa yang membuncah dalam keheningan ketika Gabriel, sang malaikat, tiba-tiba sudah berada di dalam rumah Maria dan mengabarkan berita yang menggoncang dunia sampai ke akhir jaman bahwa ia yang sama sekali belum pernah disentuh laki-laki diberi kepercayaan untuk mengandungkan dan melahirkan anak laki-laki yang kelak akan membawa keselamatan kepada manusia dalam kontroversialitas yang diimani sekaligus ditolak oleh makhluk yang beragama maupun tidak. Suatu kegembiraan luar biasa dalam jiwa Maria yang berisikokan hukuman rajam sampai mati karena hamil tanpa pernikahan walau sudah bertunangan dengan Yusuf, situlus hati yang atas petunjuk Illahi kemudian bersedia menikahinya namun menahan diri untuk tidak bersetubuh sampai bayi Immanuel itu dilahirkan. Sorak-sorai dalam jiwa ini menimbulkan kebahagiaan sekaligus kesediaan untuk disalah mengerti dengan ancaman kematian dari masyarakat yang paling keras menerapkan legalitas yang super rigid dari hukum-hukum keagamaannya sepanjang sejarah umat manusia.

Sorak-sorai jiwa dalam keheningan adalah sebuah kebaikan dan kemurahan hati Al-Khalik langit dan bumi yang terus menerus kurasakan semenjak pembuktian dari layar USG yang memperlihatkan bahwa janin berusia enam bulan dikandungan bundanya itu berjenis kelamin laki-laki pada awal Maret 2016. Suatu gegap gempita sukacita yang tak terperikan saat saya mendokumentasikan melalui handycam ber-tripod di ruangan bedah bersalin Rumah Sakit Asshobirin Tangerang pada Kamis pagi 16 Juni 2016 pukul 06.00 WIB. Bayi itu ditarik dari kandungan dan dikenalkan dengan dunia nyata oleh Dr. Jusran, Sp.OG., dan team lalu kemudian dengan serta merta si bayi harus mengusahakan sendiri pasokan oksigen bagi paru-parunya dengan menggunakan hidup mancung nan indah pemberian Sang Maha Baik.

Dialah Elgio Hezron Bradley Panjaitan yang lahir disaat Papa dan Bunda nya telah memasuki paruh baya kehidupan di dunia ini. Bayi tampan yang terus menerus memberikan sorak-sorai kebahagiaan ke dalam jiwa kami sekeluarga. Terlalu sering saya menyaksikan betapa baiknya Yang Maha Rahim melalui wajah dan seluruh tubuh indahnya. Sering terpikir bagaimana mungkin laki-laki paruh baya yang jelek ini dipercaya untuk mendapatkan ‘pangeran’ dalam keluarga besarnya. Dikeheningan malam nan gelap, sering lampu kamar sengaja dihidupkan demi untuk melihat dan mengagumi karya indah dan mulia dari Jehovah Bore (Tuhan Sang Pencipta) yang meledakkan rasa syukur dan doa yang tak henti-hentinya memuji dan memuja Sang Maha Baik. Lebih banyak sorak-sorai jiwa dalam keheningan kulakukan daripada sorak-sorai ragawi yang ekspresif dan dipertontonkan kepada banyak orang atas betapa bahagianya memiliki anak laki-laki yang luarbiasa. Suatu sorak-sorai yang selalu mengingatkanku akan keberadaan Allah dan karena itulah kuberi dia nama Elgio yang bermakna Kebaikan atau Kemurahan Hati Allah. Siapapun anda mungkin pernah melakukan dan merasakan sorak sorai jiwa dalam keheningan ini ketika dipercaya sebagai orang tua dengan hadirnya anak-anak dalam kehidupan berumah tangga.

Bersorak-sorailah tanpa kepongahan dengan penuh ekspresif melalui ragawi terlebih dalam keheningan yang penuh kedamaian sekalipun menggelegarkan jiwa.

Tangerang, 2 Agustus 2018


Kamis, 26 Juli 2018

RESPONDEO ERGO SUM RASA LEGOK PERMAI Oleh: Saor R.S.S.S. Panjaitan


RESPONDEO ERGO SUM RASA LEGOK PERMAI
Oleh: Saor R.S.S.S. Panjaitan


Pada 22 Juli 2018, seorang sahabat memposting satu quote menarik yang dikutip dari seorang filsuf fenomenal di belantara sejarah filsafat dunia. Quote-nya berbunyi: Respondeo Ergo Sum (Karena tanggung jawab maka saya ada). Saya tergelitik dengan quote tersebut karena memang gemar menjelajati literatur filsafat sejak muda terlebih disaat membacanya saya sedang siaga satu menjaga buah hati saya si bungsu yang ramai melontarkan isi perutnya sepanjang malam, satu hari setelah quote tersebut diposting.

Dalil yang meng-adagium tersebut diujarkan oleh salah satu filsuf terbesar abad dua puluh yang lahir pada 1906 di Kaunas, Lithuania. Dialah Emmanuel Levinas yang lahir dari keluarga Yahudi dimana pada saat dimulainya Perang Dunia Kedua ia masuk dinas militer Perancis namun sejak 1940 dan sampai lima tahun berikutnya menjadi tawanan Jerman. Suatu keadaan yang sangat tidak menyenangkan sebagai anggota militer karena tidak dapat mengangkat senjata. Demikianpun keadaannya, ia masih beruntung karena NAZI Jerman sama sekali tidak tahu bahwa ia adalah Yahudi tulen sementara seluruh keluarganya di Lithuania dibantai karena darah Yahudinya. Saya katakan beruntung dan tentunya menguntungkan dunia filsafat karena jika ia tewas sebagai tahanan militer karena keyahudiannya, maka dunia tidak akan pernah dapat menikmati hasil karya berpikirnya seperti:  Totalité et Infini (Totalitas dan Yang-Tak-Terhingga) yang adalah disertasi yang mengantarkannya menjadi guru besar filsafat di kota Poitiers, untuk kemudian menjadi guru besar di Paris-Nanterre dan Sorbonne. Karya kedua yang fenomenal adalah Autrement qu'ètre ou au-delà de l'essence (Lain Daripada Ada atau di Seberang Esensi), juga berbagai tulisan lainnya seperti Humanisme Manusia Lain (1972), Tentang Allah Yang Sampai Pada Pikiran (1982), dan Etika & Tak Berhingga (1982) yang impresif dan penting sebelum meninggal pada 25 Desember 1995.

Levinas adalah filsuf dan juga teolog. Hal menarik darinya adalah konsistensi dalam menuangkan pikiran menjadi tulisan yang terpisah yaitu filsafat dan religi. Kedua bidang ilmu tersebut benar-benar dipisahkannya walaupun sebenarnya tak dapat terpisahkan. Setiap tulisan yang mengkaji filsafat benar-benar dilakukannya sebagai filsuf bukan teolog, demikian pula sebaliknya. Saat berfilsafat secara gamblang ia menjauhkan Taurat dan Talmud sebagai sumber otoritas, namun sedikit pengecualian adalah ketika menjelaskan eksistensi manusia secara filosofis, ia ‘meminjam’ simbol-simbol dan gagasan Yahudi hanya agar dapat membuka dimensi-dimensi baru demi pemahaman dan penghayatan yang lebih mudah. Suatu strategi yang eksplisit tidak menggunakan/mengutip dalil dogmatika maupun etika religi Yahudi. Karenanya, siapapun yang ingin menimba lebih banyak lagi ilmu filsafat dari Levinas tentunya tidak perlu khawatir terkontaminasi kenikmatannya dalam bertuhan apalagi apriori karena berbeda keyakinan dengannya. Para Yahudi biarlah berpuas ria dalam bertuhan, dan bagi kebanyakan orang yang ‘jijik’ atau anti Yahudipun silahkan berpuas ria dengan keberagamaannya, lakum dinukum waliyadin!.

Yahudi bagi sebagian kalangan tentunya serta merta menimbulkan alergitas yang merantai logika dan hati nurani. Bagi mereka yang berseberangan, apapun dan siapapun yang terhubung dengan Yahudi harus sesegera mungkin dicampakkan ke dalam ‘tong sampah’ logikanya. Karena telah terbuang dan terkemaskan kenajisan, membuat logika haram untuk menyentuhnya. Ketika ini dilakukan oleh manusia maka matilah tanggung jawabnya untuk memikirkan eksistensi dan melakukan kebaikan bagi sesama secara universal, suatu bentuk pembunuhan karakter berdasarkan cara pandang identitas yang saat ini sedang panen raya di dunia politik dan religi Indonesia yang gemar ber-SARA ria. Inilah ironi peradaban dari Homo Religious (manusia beragama) yang gemar berkomparasi agama dari sudut eksklusifitas kaumnya demi mendapatkan bahkan memaksakan pengakuan absolut atas kebenarannya sendiri sementara di luar kaumnya adalah serba salah bahkan mutlak kafir sehingga sekedar dialog sederhana untuk menemukan jembatan toleransipun sudah tertutup rapat-rapat dan karenanya tidak mungkin untuk memikirkan dan mengusahakan keselamatan sesama di luar kaumnya!

Respondeo ergo sum Levinas menampik perbedaan yang menyebabkan hilangnya tanggung jawab pada diri tiap orang untuk mengusahakan keselamatan sesama. Tidak dapat dipungkiri bahwa sumber utama yang menjadi acuan dari berfilsafat dan berteologinya Levinas memang terambil dari tiga hal yang membuka peluang kecurigaan penentang Yudaisme untuk memeluk mesra dalil-dalil filsafatisnya. Ketiga sumber itu adalah: Tradisi Yahudi, Sejarah Filsafat Barat dan Pendekatan Fenomenologis (Aliran yang membicarakan fenomena (gejala) dari segala sesuatu yang menampakkan diri dan terlihat secara indrawi). Levinas juga penuh dengan kegairahan dalam cinta saat menggali lebih dalam tafsir Talmud yang merupakan kiblat referensi dari keyahudian. Namun dari semua sumber sahih yang digunakannya tersebut justru melahirkan dalil respondeo ergo sum!, dengan dalil tersebut Levinas ingin mengajarkan pada dunia bahwa teramat sangat penting untuk memikirkan dan mengambil tindakan yang nyata untuk menyelamatkan sesama karena melalui laku tersebut sebenarnya manusia itu sendiri sedang berproses menjadi dirinya sendiri.

Fenomenologisnya menguatkan bahwa saat berelasi dengan seseorang kita semestinya mendapatkan kesadaran diri terpanggil untuk bertanggung jawab atas keselamatannya. Ini adalah jenis panggilan yang semestinya disadari oleh setiap orang sebagai panggilan yang diistilahkan oleh Levinas dari ‘Yang-Baik-Tak-Terhingga’ sehingga siapapun juga seharusnya memenuhi panggilan tersebut tanpa pandang bulu. Baginya, setiap orang adalah titipan dari Yang Tak Terhingga sehingga menjadi kewajiban yang harus dipertanggung jawabkan secara total yang otomatis muncul saat berhadapan muka dengan muka dan bertindak aktif (jemput bola) tanpa menunggu orang tersebut menyapa/meminta terlebih dahulu. Panggilan tersebut terimplementasikan melalui bentuk nyata perbuatan baik atau tidak melakukan kejahatan kepada siapapun, suatu pengejawantahan dari relasi etis yang non teoritis! Melalui respondeo ergo sum, Levina meneriakkan pada dunia bahwa ia menemukan Allah dan tanggung jawab manusiawinya di dalam setiap wajah sesama yang ditemuinya sehari-hari.

Jelaslah bagi kita saat respondeo ergo sum disuarakan oleh Levinas, ia sedang bicara tentang kebaikan, keadilan dan keselamatan untuk sesama. Ini adalah bentuk tanggung jawab yang bukan saja bermuara kepada kekekalan namun mesti dilakukan saat manusia menjalani kesehariannya dan tentunya harmonisasi kehidupan bisa tercipta diantara sesama keturunan Adam. Hal ini penting dipahami dengan baik oleh ‘pecinta’ dalil tersebut karena mungkin saja kalimat tersebut ditafsirkan lain untuk kemudian digunakan sesuai selera masing-masing pada segala kasus.

Respondeo ergo sum bukan bicara tentang eksistensi si Butet sang sekretaris yang harus menanggung-jawabi korespondensi dari perusahaan berbentuk Commanditaire Vennootschap (Persekutuan Komanditer/CV) yang menampung dan mendistribusikan telur ayam tempatnya bekerja ataupun juga bukan tentang si Poltak yang bertanggung jawab untuk membereskan kursi-kursi gereja sebelum digunakan untuk ibadah rutin mingguan. Dalil tersebut juga bukan hendak menegaskan tanggung jawab gubernur yang diduga smart namun gagap saat menangani penggalan jalan ataupun sungai yang mengumuh di wilayah kerjanya lalu kemudian bersilat kata dan membelai-belai kambing hitam tanpa solusi berintegritas. Bukan juga tentang tanggung jawab Letnan Kolonel (CBA) Jonrey Sitanggang yang harus melaksanakan perintah komando dari Panglima Divisi Infanteri 1 Kostrad tentang pergeseran pasukan (Serpas) dari tiga kompi gabungan dari Brigade Infanteri 1 Kostrad yaitu Yonif Para Raider 328/Dirgahayu, Yonif Para Raider 305/Tengkorak dan Yonif Para Raider 330/Tri Dharma yang melaksanakan latihan gabungan di bukit Sanggabuana Karawang.

Dalil tersebut menegaskan peran seorang ayah yang mengorbankan waktu dan karirnya demi menjaga si buah hati yang terbaring lemah karena apa yang ada di lambung dan ususnya disemprotkan melalui mulut dan anus diluar metabolisme tubuh yang normal.
Dalil itu juga bicara tentang si Lakkos yang karena keterbatasan waktu dan kesehatannya mengalihkan skala prioritas pada pemenuhan waktu dan perhatian bagi keluarganya yang bertahun-tahun mengalah pada aktivitas kerohaniannya yang membabi buta demi menyenangkan komunitas yang rajin mengelu-elukan kerajinan, inovasi, kreatifitas bahkan sampai keberaniaannya namun disaat lain mengendor bahkan bertransformasi menjadi celaan, hujatan bahkan fitnah ketika kontribusinya dianggap berkurang bahkan melemah. Bagi si Lakkos, implementasi dari teori keselamatan yang dipahaminya dengan baik sesuai dengan panggilan dari Yang Baik Tak Terhingga mesti dialihkan terlebih dahulu bagi orang-orang terdekat di keluarga inti dan lingkungannya, namun bagi para pencemooh yang tak terpuaskan semua kemauannya, dalil tersebut justru berseberangan dengan mereka.

Dalil tersebut adalah bentuk kebaikan sederhana berupa sepotong roti dan segelas air yang diberikan si Polan saat melihat si Julkifli pucat pasi kelaparan di sebelahnya pada deretan bangku di gerbong commuter line. Ini adalah tindakan langsung kepada satu subyek yang dapat menyelamatkan terlebih dahulu jasmaninya untuk kemudian merefleksi ke dalam jiwa Julkifli tanpa mesti mengumbar kalimat-kalimat indah dari kitab suci dan memamerkan tindakan kebajikan tersebut kepada banyak orang demi popularitas ataupun suksesnya suatu program kerja yang dapat mendongkrak keharuman performa yang kelak diharapkan mempengaruhi karir berikutnya si Polan di masa depan.

Dalil itu juga bicara tentang berbagi kata-kata Illahi kepada siapapun dan dimanapun tanpa pamrih, tanpa pujian dan tanpa merindukan rupiah sebagaimana yang sering dirindu dendamkan oleh mereka yang mestinya melakukannya sebagai profesi dan berbayar. Respondeo ergo sum berteriak lantang fokus kepada subyek-subyek yang harus diselamatkan dengan nilai-nilai Illahi tanpa kemudian menjadi merasa lebih hebat, pintar ataupun dibutuhkan bahkan memposisikan diri sebagai tuan yang kemudian blunder dalam kata-kata dan tindakan yang mengecewakan subyek-subyek yang sebelumnya dijadikan sasaran untuk proyek keselamatan.

Dalil Levinas adalah dalil sederhana yang menarik jiwa kepada belas kasihan dan empati pada wajah-wajah lugu, menderita, ceria, murung, putus asa, pucat pasi, bahkan beringas untuk sesegera mungkin menjadi sasaran kebaikan yang konkrit dan berkesinambungan sekalipun tanpa berbalas atau bahkan sebaliknya berbalaskan tuba.

Levinas memberikan kepada kita bagaimana melakukan kebaikan sebagai wujud kedewasaan rohaniah tanpa tedeng aling dan siap untuk ditolak ataupun disalah mengerti karena memang nilai-nilai Illahi yang membumi lebih sering menjengkelkan bumi yang makin buram menuju kegelapan pekat karena ulah makhluk-makhluk Homo Religious yang lebih gemar memamerkan aksesoris dan mengejar-ngejar keuntungan yang diklaimnya sebagai konsekuensi logis dari semua jerih payahnya. Keberanian Levinas menyuarakan pentingnya keselamatan bagi sesama adalah keberanian yang menabrak monumen-monumen teori relasi sosial yang sudah ditancapkan terlebih dahulu oleh para gurunya sendiri seperti Martin Heidegger yang minim akan dimensi etis ketika berbicara tentang filsafat ‘Yang Ada’ (Subyek yang diakui maha ada namun anonim) ataupun Edmund Husserl (Bapak Fenomenologi) yang terlalu mengedepankan intelektualitas terhadap intuisi atau sederhananya terlalu mementingkan referensi teoritis sebagai suatu yang sangat penting sebelum melakukan perbuatan baik yang sungguh-sungguh nyata dilakukan.

Keberanian Levinas ini adalah keberanian seorang mahasiswa on the job training kepada supervisor nya yang melenceng dari standard operating procedure yang sudah baku berlaku di di Room Division Department hotel sekelas Alila Villas Uluwatu di Bali, ataupun keberanian seorang siswa SMP yang mengingatkan guru fisikanya yang silap menggunakan formula V = X/T pada pencarian percepatan suatu benda yang bergerak. Keberanian yang bahkan super tabu dilakukan saat seorang anggota komunitas rohani mengingatkan ‘boss’ perkumpulan tersebut yang mendewakan tata laksana organisasi namun bertendensi menghantam kebenaran ayat-ayat suci yang menjadi pegangan tertinggi dari perkumpulan tersebut.

Penting untuk diketahui bahwa sejak dimulainya Levinas berstudi filsafat di usia 17 tahun (1923), pada 1928 – 1929 selama 2 semester ia berguru pada Edmund Husserl dan Martin Heidegger di Freiburg, Jerman. Atas kritik (perlawanan argumentasi logika) dari muridnya tersebut Husserl maupun Heidegger tidak pernah menyatakan bahwa Levinas adalah Malin Kundang atau Si Mardan versi Jerman dan Perancis. Sebaliknya para maha guru ini justru bangga karena muridnya dapat menyaingi bahkan melebihi kepandaian mereka sekalipun kepandaian tersebut ditunjukkan justru dengan mengkritisi karya terbaik mereka. Rasa-rasanya Husserl dan Heidegger terpesona dan haqulyakin akan kebenaran simalang penyair berbakat yang gemar menyuarakan kebenaran, keadilan, dan Hak Asasi Manusia namun hilang mati tak bernisan tanpa harta dan kejayaan yaitu Wiji Thukul yang pernah menyairkan: “Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat, dan bila omongan penguasa tidak boleh dibantah, kebenaran pasti terancam”. Rakyat yang dimaksud bisa bermakna orang-orang dalam satu negara, dan secara analogis bisa juga orang-orang yang berada dalam organisasi formal dan non formal sampai jamaah dari suatu komunitas rohaniah.

Respondeo ergo sum ada untuk dinikmati, dilakukan dan diutak-atik sebagai suatu kajian etis praktis dalam berelasi sosial. Pengkajian tentunya boleh dilakukan oleh siapapun termasuk para pintar dan bijak yang mencoba menyuarakan dalam bentuk lisan maupun tertulis dalil Levinas baik yang berada di Universitas Oxford di negeri Three Lions maupun di ruang kelas  saat Nelson Goodman sang penulis buku Fact, Fiction, and Forecast berceloteh tentang filsafat di Universitas Harvard sampai diskusi ‘Politik Bermartabat’ yang menampilkan bang Rocky Gerung sebagai aktor utama berdasarkan pesanan, bahkan oleh si bodoh yang masih terus bersiaga satu memelototi bungsu kesayangannya sembari mencoba menjelajahi makna keselamatan bagi sesama sementara kantuk lebih merajai raganya disepanjang malam yang hangat dimakan kemarau tahunan. Si bodoh yang bagaikan chef lulusan program studi perhotelan bidang food production di sebuah Akademi Pariwisata dipinggiran Jakarta yang belum juga terakreditasi, berusaha meramu rasa respondeo ergo sum sesuai selera dan pengalamannya di rumah kecilnya di kampung yang teralienasi oleh Mbah Google Map yang bernama Legok Permai. Saat respondeo ergo sum ini telah masak dan siap dihidangkan, ia cuma berusaha membagi hasil olah pikir dan rasa yang mungkin tak menarik dari sudut tampilan apalagi rasa bahkan mungkin juga memberikan getaran kontraksi menyebalkan di perut dan otak para penikmatnya. Ia tak peduli yang penting janjinya untuk menguraikan ‘Respondeo Ergo Sum Rasa Legok Permai’ pada sahabatnya sudah terealisasi meskipun butuh tiga hari yang penuh perjuangan untuk mempertahankan laptop yang terus menerus diperebutkan antara si bodoh dengan bungsu kebanggaannya.

Legok Permai - Tangerang
26 Juli 2018