RESPONDEO ERGO SUM RASA LEGOK PERMAI
Oleh: Saor R.S.S.S. Panjaitan
Pada 22 Juli 2018, seorang
sahabat memposting satu quote menarik
yang dikutip dari seorang filsuf fenomenal di belantara sejarah filsafat dunia. Quote-nya berbunyi: Respondeo Ergo Sum (Karena tanggung
jawab maka saya ada). Saya tergelitik dengan quote tersebut karena memang gemar menjelajati literatur filsafat
sejak muda terlebih disaat membacanya saya sedang siaga satu menjaga buah hati
saya si bungsu yang ramai melontarkan isi perutnya sepanjang malam, satu hari setelah
quote tersebut diposting.
Dalil yang meng-adagium tersebut
diujarkan oleh salah satu filsuf terbesar abad dua puluh yang lahir pada 1906 di Kaunas , Lithuania .
Dialah Emmanuel Levinas yang lahir dari keluarga Yahudi dimana pada saat
dimulainya Perang Dunia Kedua ia masuk dinas militer Perancis namun sejak 1940
dan sampai lima
tahun berikutnya menjadi tawanan Jerman. Suatu keadaan yang sangat tidak
menyenangkan sebagai anggota militer karena tidak dapat mengangkat senjata.
Demikianpun keadaannya, ia masih beruntung karena NAZI Jerman sama sekali tidak
tahu bahwa ia adalah Yahudi tulen sementara seluruh keluarganya di Lithuania
dibantai karena darah Yahudinya. Saya katakan beruntung dan tentunya
menguntungkan dunia filsafat karena jika ia tewas sebagai tahanan militer
karena keyahudiannya, maka dunia tidak akan pernah dapat menikmati hasil karya
berpikirnya seperti: Totalité et Infini (Totalitas dan
Yang-Tak-Terhingga) yang adalah disertasi yang mengantarkannya menjadi guru
besar filsafat di kota Poitiers , untuk kemudian menjadi guru besar
di Paris-Nanterre dan Sorbonne. Karya kedua yang fenomenal adalah Autrement qu'ètre ou au-delà de l'essence
(Lain Daripada Ada atau di Seberang Esensi), juga berbagai tulisan lainnya seperti
Humanisme Manusia Lain (1972), Tentang Allah Yang Sampai Pada Pikiran (1982),
dan Etika & Tak Berhingga (1982) yang impresif dan penting sebelum
meninggal pada 25 Desember 1995.
Levinas adalah filsuf dan juga
teolog. Hal menarik darinya adalah konsistensi dalam menuangkan pikiran menjadi
tulisan yang terpisah yaitu filsafat dan religi. Kedua bidang ilmu tersebut
benar-benar dipisahkannya walaupun sebenarnya tak dapat terpisahkan. Setiap
tulisan yang mengkaji filsafat benar-benar dilakukannya sebagai filsuf bukan
teolog, demikian pula sebaliknya. Saat berfilsafat secara gamblang ia
menjauhkan Taurat dan Talmud sebagai sumber otoritas, namun sedikit
pengecualian adalah ketika menjelaskan eksistensi manusia secara filosofis, ia
‘meminjam’ simbol-simbol dan gagasan Yahudi hanya agar dapat membuka
dimensi-dimensi baru demi pemahaman dan penghayatan yang lebih mudah. Suatu
strategi yang eksplisit tidak menggunakan/mengutip dalil dogmatika maupun etika
religi Yahudi. Karenanya, siapapun yang ingin menimba lebih banyak lagi ilmu
filsafat dari Levinas tentunya tidak perlu khawatir terkontaminasi
kenikmatannya dalam bertuhan apalagi apriori karena berbeda keyakinan dengannya.
Para Yahudi biarlah berpuas ria dalam bertuhan, dan bagi kebanyakan orang yang
‘jijik’ atau anti Yahudipun silahkan berpuas ria dengan keberagamaannya, lakum dinukum waliyadin!.
Yahudi bagi sebagian kalangan
tentunya serta merta menimbulkan alergitas yang merantai logika dan hati
nurani. Bagi mereka yang berseberangan, apapun dan siapapun yang terhubung
dengan Yahudi harus sesegera mungkin dicampakkan ke dalam ‘tong sampah’ logikanya.
Karena telah terbuang dan terkemaskan kenajisan, membuat logika haram untuk
menyentuhnya. Ketika ini dilakukan oleh manusia maka matilah tanggung jawabnya
untuk memikirkan eksistensi dan melakukan kebaikan bagi sesama secara
universal, suatu bentuk pembunuhan karakter berdasarkan cara pandang identitas
yang saat ini sedang panen raya di dunia politik dan religi Indonesia yang
gemar ber-SARA ria. Inilah ironi peradaban dari Homo Religious (manusia beragama) yang gemar berkomparasi agama
dari sudut eksklusifitas kaumnya demi mendapatkan bahkan memaksakan pengakuan
absolut atas kebenarannya sendiri sementara di luar kaumnya adalah serba salah
bahkan mutlak kafir sehingga sekedar dialog sederhana untuk menemukan jembatan
toleransipun sudah tertutup rapat-rapat dan karenanya tidak mungkin untuk
memikirkan dan mengusahakan keselamatan sesama di luar kaumnya!
Respondeo ergo sum Levinas menampik perbedaan yang menyebabkan
hilangnya tanggung jawab pada diri tiap orang untuk mengusahakan keselamatan
sesama. Tidak dapat dipungkiri bahwa sumber utama yang menjadi acuan dari
berfilsafat dan berteologinya Levinas memang terambil dari tiga hal yang
membuka peluang kecurigaan penentang Yudaisme untuk memeluk mesra dalil-dalil
filsafatisnya. Ketiga sumber itu adalah: Tradisi Yahudi, Sejarah Filsafat Barat
dan Pendekatan Fenomenologis (Aliran yang membicarakan fenomena (gejala) dari
segala sesuatu yang menampakkan diri dan terlihat secara indrawi). Levinas juga
penuh dengan kegairahan dalam cinta saat menggali lebih dalam tafsir Talmud
yang merupakan kiblat referensi dari keyahudian. Namun dari semua sumber sahih
yang digunakannya tersebut justru melahirkan dalil respondeo ergo sum!, dengan dalil tersebut Levinas ingin mengajarkan
pada dunia bahwa teramat sangat penting untuk memikirkan dan mengambil tindakan
yang nyata untuk menyelamatkan sesama karena melalui laku tersebut sebenarnya
manusia itu sendiri sedang berproses menjadi dirinya sendiri.
Fenomenologisnya menguatkan bahwa
saat berelasi dengan seseorang kita semestinya mendapatkan kesadaran diri
terpanggil untuk bertanggung jawab atas keselamatannya. Ini adalah jenis
panggilan yang semestinya disadari oleh setiap orang sebagai panggilan yang
diistilahkan oleh Levinas dari ‘Yang-Baik-Tak-Terhingga’ sehingga siapapun juga
seharusnya memenuhi panggilan tersebut tanpa pandang bulu. Baginya, setiap
orang adalah titipan dari Yang Tak Terhingga sehingga menjadi kewajiban yang
harus dipertanggung jawabkan secara total yang otomatis muncul saat berhadapan
muka dengan muka dan bertindak aktif (jemput bola) tanpa menunggu orang
tersebut menyapa/meminta terlebih dahulu. Panggilan tersebut terimplementasikan
melalui bentuk nyata perbuatan baik atau tidak melakukan kejahatan kepada
siapapun, suatu pengejawantahan dari relasi etis yang non teoritis! Melalui respondeo ergo sum, Levina meneriakkan
pada dunia bahwa ia menemukan Allah dan tanggung jawab manusiawinya di dalam
setiap wajah sesama yang ditemuinya sehari-hari.
Jelaslah bagi kita saat respondeo ergo sum disuarakan oleh
Levinas, ia sedang bicara tentang kebaikan, keadilan dan keselamatan untuk
sesama. Ini adalah bentuk tanggung jawab yang bukan saja bermuara kepada
kekekalan namun mesti dilakukan saat manusia menjalani kesehariannya dan
tentunya harmonisasi kehidupan bisa tercipta diantara sesama keturunan Adam.
Hal ini penting dipahami dengan baik oleh ‘pecinta’ dalil tersebut karena
mungkin saja kalimat tersebut ditafsirkan lain untuk kemudian digunakan sesuai
selera masing-masing pada segala kasus.
Respondeo ergo sum bukan bicara tentang eksistensi si Butet sang
sekretaris yang harus menanggung-jawabi korespondensi dari perusahaan berbentuk
Commanditaire Vennootschap (Persekutuan
Komanditer/CV) yang menampung dan mendistribusikan telur ayam tempatnya bekerja
ataupun juga bukan tentang si Poltak yang bertanggung jawab untuk membereskan
kursi-kursi gereja sebelum digunakan untuk ibadah rutin mingguan. Dalil
tersebut juga bukan hendak menegaskan tanggung jawab gubernur yang diduga smart namun gagap saat menangani
penggalan jalan ataupun sungai yang mengumuh di wilayah kerjanya lalu kemudian
bersilat kata dan membelai-belai kambing hitam tanpa solusi berintegritas.
Bukan juga tentang tanggung jawab Letnan Kolonel (CBA) Jonrey Sitanggang yang
harus melaksanakan perintah komando dari Panglima Divisi Infanteri 1 Kostrad
tentang pergeseran pasukan (Serpas) dari tiga kompi gabungan dari Brigade
Infanteri 1 Kostrad yaitu Yonif Para Raider 328/Dirgahayu, Yonif Para Raider 305/Tengkorak
dan Yonif Para Raider 330/Tri Dharma yang melaksanakan latihan gabungan di
bukit Sanggabuana Karawang.
Dalil tersebut menegaskan peran
seorang ayah yang mengorbankan waktu dan karirnya demi menjaga si buah hati
yang terbaring lemah karena apa yang ada di lambung dan ususnya disemprotkan
melalui mulut dan anus diluar metabolisme tubuh yang normal.
Dalil itu juga bicara tentang si
Lakkos yang karena keterbatasan waktu dan kesehatannya mengalihkan skala
prioritas pada pemenuhan waktu dan perhatian bagi keluarganya yang
bertahun-tahun mengalah pada aktivitas kerohaniannya yang membabi buta demi
menyenangkan komunitas yang rajin mengelu-elukan kerajinan, inovasi,
kreatifitas bahkan sampai keberaniaannya namun disaat lain mengendor bahkan
bertransformasi menjadi celaan, hujatan bahkan fitnah ketika kontribusinya
dianggap berkurang bahkan melemah. Bagi si Lakkos, implementasi dari teori
keselamatan yang dipahaminya dengan baik sesuai dengan panggilan dari Yang Baik
Tak Terhingga mesti dialihkan terlebih dahulu bagi orang-orang terdekat di
keluarga inti dan lingkungannya, namun bagi para pencemooh yang tak terpuaskan
semua kemauannya, dalil tersebut justru berseberangan dengan mereka.
Dalil tersebut adalah bentuk
kebaikan sederhana berupa sepotong roti dan segelas air yang diberikan si Polan
saat melihat si Julkifli pucat pasi kelaparan di sebelahnya pada deretan bangku
di gerbong commuter line. Ini adalah
tindakan langsung kepada satu subyek yang dapat menyelamatkan terlebih dahulu
jasmaninya untuk kemudian merefleksi ke dalam jiwa Julkifli tanpa mesti
mengumbar kalimat-kalimat indah dari kitab suci dan memamerkan tindakan
kebajikan tersebut kepada banyak orang demi popularitas ataupun suksesnya suatu
program kerja yang dapat mendongkrak keharuman performa yang kelak diharapkan
mempengaruhi karir berikutnya si Polan di masa depan.
Dalil itu juga bicara tentang
berbagi kata-kata Illahi kepada siapapun dan dimanapun tanpa pamrih, tanpa
pujian dan tanpa merindukan rupiah sebagaimana yang sering dirindu dendamkan
oleh mereka yang mestinya melakukannya sebagai profesi dan berbayar. Respondeo ergo sum berteriak lantang
fokus kepada subyek-subyek yang harus diselamatkan dengan nilai-nilai Illahi
tanpa kemudian menjadi merasa lebih hebat, pintar ataupun dibutuhkan bahkan
memposisikan diri sebagai tuan yang kemudian blunder dalam kata-kata dan
tindakan yang mengecewakan subyek-subyek yang sebelumnya dijadikan sasaran
untuk proyek keselamatan.
Dalil Levinas adalah dalil
sederhana yang menarik jiwa kepada belas kasihan dan empati pada wajah-wajah
lugu, menderita, ceria, murung, putus asa, pucat pasi, bahkan beringas untuk
sesegera mungkin menjadi sasaran kebaikan yang konkrit dan berkesinambungan
sekalipun tanpa berbalas atau bahkan sebaliknya berbalaskan tuba.
Levinas memberikan kepada kita
bagaimana melakukan kebaikan sebagai wujud kedewasaan rohaniah tanpa tedeng
aling dan siap untuk ditolak ataupun disalah mengerti karena memang nilai-nilai
Illahi yang membumi lebih sering menjengkelkan bumi yang makin buram menuju
kegelapan pekat karena ulah makhluk-makhluk Homo
Religious yang lebih gemar memamerkan aksesoris dan mengejar-ngejar
keuntungan yang diklaimnya sebagai konsekuensi logis dari semua jerih payahnya.
Keberanian Levinas menyuarakan pentingnya keselamatan bagi sesama adalah
keberanian yang menabrak monumen-monumen teori relasi sosial yang sudah
ditancapkan terlebih dahulu oleh para gurunya sendiri seperti Martin Heidegger yang
minim akan dimensi etis ketika berbicara tentang filsafat ‘Yang Ada’ (Subyek
yang diakui maha ada namun anonim) ataupun Edmund Husserl (Bapak Fenomenologi)
yang terlalu mengedepankan intelektualitas terhadap intuisi atau sederhananya
terlalu mementingkan referensi teoritis sebagai suatu yang sangat penting
sebelum melakukan perbuatan baik yang sungguh-sungguh nyata dilakukan.
Keberanian Levinas ini adalah
keberanian seorang mahasiswa on the job
training kepada supervisor nya yang melenceng dari standard operating procedure yang sudah baku berlaku di di Room Division Department hotel sekelas
Alila Villas Uluwatu di Bali, ataupun keberanian seorang siswa SMP yang
mengingatkan guru fisikanya yang silap menggunakan formula V = X/T pada
pencarian percepatan suatu benda yang bergerak. Keberanian yang bahkan super
tabu dilakukan saat seorang anggota komunitas rohani mengingatkan ‘boss’
perkumpulan tersebut yang mendewakan tata laksana organisasi namun bertendensi
menghantam kebenaran ayat-ayat suci yang menjadi pegangan tertinggi dari
perkumpulan tersebut.
Penting untuk diketahui bahwa
sejak dimulainya Levinas berstudi filsafat di usia 17 tahun (1923), pada 1928 –
1929 selama 2 semester ia berguru pada Edmund Husserl dan Martin Heidegger di
Freiburg, Jerman. Atas kritik (perlawanan argumentasi logika) dari muridnya tersebut
Husserl maupun Heidegger tidak pernah menyatakan bahwa Levinas adalah Malin
Kundang atau Si Mardan versi Jerman dan Perancis. Sebaliknya para maha guru ini
justru bangga karena muridnya dapat menyaingi bahkan melebihi kepandaian mereka
sekalipun kepandaian tersebut ditunjukkan justru dengan mengkritisi karya
terbaik mereka. Rasa-rasanya Husserl dan Heidegger terpesona dan haqulyakin
akan kebenaran simalang penyair berbakat yang gemar menyuarakan kebenaran,
keadilan, dan Hak Asasi Manusia namun hilang mati tak bernisan tanpa harta dan
kejayaan yaitu Wiji Thukul yang pernah menyairkan: “Bila rakyat tidak berani mengeluh itu artinya sudah gawat, dan bila
omongan penguasa tidak boleh dibantah, kebenaran pasti terancam”. Rakyat
yang dimaksud bisa bermakna orang-orang dalam satu negara, dan secara analogis
bisa juga orang-orang yang berada dalam organisasi formal dan non formal sampai
jamaah dari suatu komunitas rohaniah.
Respondeo ergo sum ada untuk dinikmati, dilakukan dan diutak-atik
sebagai suatu kajian etis praktis dalam berelasi sosial. Pengkajian tentunya
boleh dilakukan oleh siapapun termasuk para pintar dan bijak yang mencoba
menyuarakan dalam bentuk lisan maupun tertulis dalil Levinas baik yang berada
di Universitas Oxford di negeri Three
Lions maupun di ruang kelas saat
Nelson Goodman sang penulis buku Fact,
Fiction, and Forecast berceloteh tentang filsafat di Universitas Harvard
sampai diskusi ‘Politik Bermartabat’ yang menampilkan bang Rocky Gerung sebagai
aktor utama berdasarkan pesanan, bahkan oleh si bodoh yang masih terus bersiaga
satu memelototi bungsu kesayangannya sembari mencoba menjelajahi makna
keselamatan bagi sesama sementara kantuk lebih merajai raganya disepanjang
malam yang hangat dimakan kemarau tahunan. Si bodoh yang bagaikan chef lulusan program studi perhotelan bidang
food production di sebuah Akademi
Pariwisata dipinggiran Jakarta
yang belum juga terakreditasi, berusaha meramu rasa respondeo ergo sum sesuai selera dan pengalamannya di rumah
kecilnya di kampung yang teralienasi oleh Mbah Google Map yang bernama Legok
Permai. Saat respondeo ergo sum ini
telah masak dan siap dihidangkan, ia cuma berusaha membagi hasil olah pikir dan
rasa yang mungkin tak menarik dari sudut tampilan apalagi rasa bahkan mungkin
juga memberikan getaran kontraksi menyebalkan di perut dan otak para
penikmatnya. Ia tak peduli yang penting janjinya untuk menguraikan ‘Respondeo Ergo Sum Rasa Legok Permai’ pada
sahabatnya sudah terealisasi meskipun butuh tiga hari yang penuh perjuangan
untuk mempertahankan laptop yang terus menerus diperebutkan antara si bodoh
dengan bungsu kebanggaannya.
Legok Permai - Tangerang
26 Juli 2018
Tidak ada komentar:
Posting Komentar