Translate

Rabu, 16 Maret 2016

FILOSOFI MOTOR 1: SEBUAH PENGANTAR SAOR R.S.S.S. PANJAITAN



FILOSOFI MOTOR 1: SEBUAH PENGANTAR
SAOR R.S.S.S. PANJAITAN


Saya paling senang menggunakan motor untuk transportasi sehari hari. Selain cepat dan lincah karena bisa selap-selip di jalan yang macet, hal lain yang patut diperhitungkan adalah biaya yang murah. Bayangkan, hanya dengan mengeluarkan rata-rata Rp. 30.000.- saya sudah bisa kemana-mana untuk jangka waktu 1 minggu. Memang biasanya motor saya gunakan untuk berangkat dan pulang kerja serta ke gereja baik pada minggu maupun hari lainnya yang berkaitan dengan pelayanan.

Selama bertahun-tahun menggunakan motor, banyak hal yang saya dapatkan sebagai bagian dari pembelajaran hidup. Bukan hanya saat di atas motor, namun ketika menunggu jatuh dalam lelapnya tidur saya sering merenungkan banyak hal tentang kehidupan yang berkaitan dengan motor. Nilai-nilai kehidupan tersebut biasanya dominan terkait dengan kehidupan rohani. Banyak pelajaran yang berharga yang saya dapatkan sampai-sampai suatu ketika saya tergelitik untuk menuangkannya dengan tulisan-tulisan yang dimaksudkan untuk menjadi berkat bagi sesama, minimal para pemotor.

Saya mencoba mencari kata-kata yang tepat untuk digunakan sebagai thema sentral atau pedoman dalam menceritakan berbagai pelajaran berharga yang saya dapatkan dari bermotor.
Akhirnya saya memutuskan memilih thema sentral yaitu “Filosofi Motor” dengan pertimbangan bahwa hasil perenungan dari bermotor sesungguhnya adalah berfilsafat karena menggunakan akal sehat, baik di dalam menerima hikmat maupun membagikannya kepada para pembaca, setelah melalui proses mengompas pada firman Tuhan sebagai pondasi dari hikmat marifat yang didapat yang saya yakini Tuhan limpahkan untuk pendewasaan kehidupan rohani.

Ada 3 kata yang perlu terlebih dahulu saya uraikan sebelum serial filosofi motor ini dibagikan yaitu FILOSOFI, HIKMAT dan MOTOR.

Kata filosofi atau filsafat berasal dari kata Arab yaitu Falsafah atau dalam bahasa Yunani di sebut Philosophia. Kata ini sebenarnya terdiri dari 2 kata yaitu Philen dan Sophia. Philen artinya mencari dan atau mencintai, sedangkan Sophia bermakna kebenaran atau kebijaksanaan. Dengan demikian secara etimologis philosophia berarti daya upaya pemikiran manusia untuk mencari kebenaran atau kebijaksanaan.

Plato (427 – 348 SM) memberikan definisi filsafat sebagai: ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran asli. Sedangkan Al Farabi (870 – 950) menandaskan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam wujud bagaimana hakekat yang sebenarnya.
Lebih luas lagi kita bisa melihat definisi yang disampaikan oleh Immanuel Kant (1724 – 1804) yang menyatakan bahwa filsafat adalah ilmu pengetahuan yang menjadi pokok dan pangkal dari segala pengetahuan yang di dalamnya mencakup empat persoalan yang dimulai dengan pertanyaan: Apa yang dapat diketahui? Dijawab oleh Metafisika, Apa yang seharusnya dikerjakan? Dijawab oleh Etika, sampai dimana harapan kita? Agamalah jawabannya, dan Apa yang dinamakan manusia? Dijawab oleh Antropologi.
Untuk Filsuf Indonesia, bisa diketengahkan antara lain: Driyakarya yang menyatakan Filsafat sebagai perenungan yang sedalam-dalamnya tentang sebab-sebabnya ada dan berbuat, perenungan tentang kenyataan yang sedalam-dalamnya sampai “mengapa yang penghabisan”. Filsuf lainnya Prof. Notonegoro mendefinisikan bahwa Filsafat menelaah hal-hal yang dijadikan objeknya dari sudut intinya yang mutlak, yang tetap tidak berubah, yang disebut hakekat.

Berfilsafat adalah berfikir tetapi secara mendalam, artinya berpikir sampai ke akar-akarnya dan dengan sungguh-sungguh tentang hakikat atau keberadaan sesuatu. Berpikir sampai ke akar-akarnya hanya dapat dilakukan oleh manusia sebagai subyek dari berfilsafat, karena manusia dianugerahi akal budi sehingga mampu melihat, mengamati, berhipotesis, melakukan pengujian untuk mencari obyektifitas dan memberi kesimpulan.

Manusia berfilsafat berarti manusia yang mencintai kebenaran atau mencari kebenaran namun bukan pemilik kebenaran sejati! Mengapa bukan pemilik kebenaran sejati?
Kebenaran sejati dan mutlak yang komprehensif hanyalah dimiliki pencipta langit dan bumi yang tidak dibatasi oleh ruang dan waktu yang cakupannya adalah keabadian. Kita memanggilnya Tuhan karena DIA memang adalah Tuan diatas segala tuan. Sebagai Tuhan, sumber kebenaran sejati hanya milikNYA. Kebenaran parsial dan periodik adalah capaian tertinggi yang bisa dijangkau manusia, karena itu memiliki kebenaran sejati bukan bagian kita, andaikanpun kita mendapatkannya, semata karena kita dicerahkan dan dititipkan untuk dihidupi dan dibagikan kepada sesama.

Meminta kebenaran sebagai pedoman kehidupan tidak serta merta menjadi klaim bahwa kitalah pemilik kebenaran, sehingga jika ada subyek lain yang hendak menyatakan atau mengenalkan kebenaran di luar yang kita yakini, sesungguhnya bukan sesuatu yang haram lalu meresponnya dengan penolakan, bahkan dilakukan tindakan represif untuk mempertahankan kebenaran sendiri. Kebenaran sejati yang didapat bisa disampaikan atau ditawarkan kepada orang lain, masalah diterima atau tidak adalah persoalan lain. Pada tahap ini tentunya kita sepakat dengan motto “Toleransi dan Dialog Yes, Kompromi No!”

Kembali kepada definisi filsafat, secara umum filsafat berarti: “Usaha pemikiran manusia yang sungguh-sungguh, secara sistematis dan radikal untuk mencari kebenaran sesuai dengan ruang dan waktu.”

Melalui definisi umum ini saya mau menekankan bahwa berfilsafat sesungguhnya suatu usaha berpikir yang mendalam, bertahap, tidak tercerai berai yang dimaksudkan untuk mencari kebenaran dan andaikanpun kebenaran itu sudah didapatkan ternyata masih dibatasi oleh ruang dan waktu.

Contoh nyata pembatasan kebenaran sejati adalah ketika Gereja Roma Katolik yang memegang teguh teori Geosentris (bumi sebagai pusat alam semesta) dan menegaskan bahwa teori tersebut alkitabiah dan merupakan doktrin yang resmi sehingga merupakan kebenaran sejati. Namun ternyata kebenaran sejati yang diklaim di dasarkan atas kitab suci tersebut ternyata patah saat Nicolaus Copernicus dengan teori Heliosentrisme, menimbulkan kontroversial dalam sains dan theologia. Berdasarkan penelitiannya yang mendalam Copernicus menandaskan bahwa matahari adalah  pusat tata surya. Bukan hanya Gereja Roma Katolik, kaum Yesuit yang diwakili oleh seorang imamnya yaitu Christoph Clavius mengatakan bahwa teori Copernicus adalah tidak masuk akal bahkan salah. Bahkan, teolog Jerman Marthin Luther-pun menyayangkan teori itu dengan menyatakan: “Si dungu itu mengacaukan seluruh ilmu astronomi. Puncak dari mempertahankan kebenaran versi gereja tersebut diimplementasikan dengan menyatakan bahwa buku karya Copernicus yang berjudul De revolutionibus orbium coelestium (Mengenai Perputaran Bola-Bola Langit) adalah buku yang terlarang pada 1616. Diperlukan waktu 212 tahun untuk mencabut karya Copernicus dari daftar buku terlarang oleh Gereja Roma Katolik.

Bukti lainnya bahwa kebenaran sejati tidak dimiliki manusia karena dapat berubah berdasarkan ruang dan waktu adalah ironi kehidupan astronom, filsuf dan juga seorang fisikawan Italia yaitu Galileo Galilei. Penemu teleskop pendukung Copernicus ini bersikukuh dengan menyatakan bahwa bumi adalah bulat dan matahari sebagai pusat tata surya. Pendapat ini bertentangan dengan ajaran Aristoteles dan keyakinan gereja. Konsekuensinya Galileo dituntut ke pengadilan pada 22 Juni 1633 dan dihukum dengan pengucilan (tahanan rumah) sampai meninggalnya di tahun 1642!
Jauh lebih lama lagi dari Copernicus yang dicabut pelarangan bukunya, Galileo Galilei membutuhkan waktu 359 tahun untuk merehabilitasi namanya melalui pernyataan resmi Paus Yohanes Paulus II  yang menyatakan bahwa keputusan hukum atas Galileo adalah salah, sedangkan rehabilitasi namanya sebagai ilmuwan baru dilakukan oleh Gereja Katolik Roma melalui pidato resmi Paus Benediktus XVI pada 21 Desember 2008.

Mengapa saya harus sampaikan soal kebenaran sejati di atas? Hal ini semata untuk membatasi maksud dari tulisan serial Filosofi Motor ini sendiri. Saya harus mengakui bahwa tulisan ini diambil dari pengalaman selama bermotor, dan benak saya diingatkan (inspirasi?) oleh kebenaran firman Tuhan, sehingga menjadi hikmat marifat yang bermanfaat buat kehidupan jasmani dan rohani, namun tidak mengklaim bahwa ini adalah kebenaran sejati milik saya dan berlaku untuk semua manusia. Perbedaan pandangan tentang topik demi topik yang saya bagikan ini tidak berkonsekuensi pada penerimaan mutlak atau mengikuti dengan sepenuhnya apa yang telah disampaikan kepada pembaca. Diterima ok, Ditolak ok, Direvisipun ok. Sehingga andaikanpun muncul “take and give” argumentasi (lebih sejuk dibandingkan kata debat) maka semata untuk memperkaya materi tiap topik dan memudahkan dalam internalisasi serta implementasinya.

Pembaca yang terhormat, perlu saya umumkan, bahwa dalam meramu kata demi kata dalam rangka berfilsafat ini, saya tetap berpedoman pada rambu-rambu kalimat Illahi demi menegaskan motivasi dan tujuan disebarkannya Filosofi Motor ini. Saya akan terus berusaha memegang teguh peringatan yang diteriakkan kitab suci yang berbunyi: “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus (Kolose 2 : 8).

Maafkan saya jika untaian kalimat demi kalimat dan judul demi judul dalam bingkai Filosofi Motor ini terkesan eksklusif dengan menggunakan pedoman pokok keyakinan yang dianut, karena saya khawatir terjebak dalam pusaran maupun aliran keberagaman hikmat dan pengajaran tanpa kompas yang dapat meng-abu-abukan tujuan semula. Namun dalam hal pembagian materi kepada pembaca, saya tetap akan inklusif toleratif.

Kata kedua yang hendak saya sampaikan adalah Hikmat atau Hikmah (Wisdom, Inggris). Kata Yunani untuk hikmat adalah Sophia, Sophos atau Phronimos yang artinya: pandai, bijaksana, terlatih, berpengalaman dan cerdik. Lawan dari hikmat adalah kebodohan atau kebebalan (Foolishness, Folly). Secara definitif Hikmat diuraikan sebagai kemampuan rohani untuk melihat dan menilai kehidupan dan kelakuan dari sudut pandang Allah. Kemampuan yang semestinya tidak serta merta didapatkan tetapi melalui proses pengenalan akan Allah yang baik dan berkelanjutan diiringi kemauan untuk menyelami titah-titahNYA pada kitab suci dan dengan merendahkan hati memintanya dalam doa yang dilandasi iman.

Hikmat hanya dapat diterima jika kita menghampiriNYA dan memohon dengan iman yang teguh bukan hanya untuk mengerti firmanNYA namun juga sebagai acuan dalam menjalani kehidupan. Dengan demikian hikmat didapatkan karena kasih dan kemurahanNYA kepada mereka yang berkenan kepadaNYA. Hikmat tidak dapat dimintakan dengan paksa ataupun diberikan tanpa alasan dan tujuan, namun hikmat digunakan untuk memahami didikan dan ajaran dengan baik dan membagikannya sebagai berkat bagi sesama.

Hikmat yang diharapkan untuk menjadi berkat bagi sesama ini, diaminkan sebagai hikmat sorgawi. Dibutuhkan pemikiran yang mendalam dan doa serta penelusuran kitab suci agar tulisan-tulisan ini tidak terjebak sebagai hikmat duniawi yang kebanyakan adalah pepesan kosong dan mengarah kepada pemuliaan diri dari pencetusnya.

Untuk itulah tulisan filosofi motor dituliskan dan dibagikan dengan tujuan dapat menjadi manfaat atau setidaknya menginspirasi banyak orang dan pada akhirnya setiap pembaca mengerti dengan baik dan benar bahwa kebenaran sejati dan hikmat dilimpahkanNYA untuk mendatangkan kebaikan bagi banyak orang dan bermuara kepada pengembalian pujian dan hormat kepada Sang Pemberi Hikmat.

Penulis mengakui bahwa ada track record panjang dalam penyusunan tulisan-tulisan filosofi motor ini. Perjalanan panjang itu harus melewati jalan-jalan kotor, berbatu, berlobang bahkan tembok penghalang. Terkadang berjalan di tempat, namun sering juga berjalan mundur. Percepatan pertumbuhan rohani hanya dapat terjadi ketika ada keseriusan dan pengorbanan serta evaluasi diri yang diwujudkan dalam pertobatan, ucapan syukur dan pengharapan pengasihan Tuhan yang menolong setiap saat karena kasih dan keadilannya.
Dibutuhkan hati yang bergantung total agar kuasa Tuhan bekerja nyata dalam kehidupan penulis.

Sampai disini tentunya benak anda akan tergelitik dan serta merta mengajukan pertanyaan sebagai koreksi. Jika saya sudah membahas etimologis filosofi, mengapa saya menguraikan lagi kata hikmat yang jelas-jelas berasal dari kata Sophia yang merupakan pembangun utama kata filosofi? Bukankah ini extravaganza kata-kata?
Tepat sekali jika anda menganalisis hal tersebut. Saya memang menguraikan kembali kata hikmat untuk menegaskan dan membatasi cakupan bahasan kepada pembaca bahwa hikmat yang ingin saya sampaikan adalah hikmat sorgawi. Hikmat yang diseru-serukan oleh kitab suci. Hikmat yang dilimpahkan kepada Salomo dan dituangkan dalam ayat demi ayat pada kitab suci. Hikmat yang juga dilimpahkan bagi yang meminta dengan ketulusan hati dan motivasi yang diluruskan. Hikmat yang dilimpahkan karena kemurahanNYA sehingga manusia kecil seperti saya diijinkan untuk mendapatkannya. Hikmat yang saya harapkan dapat menjadi kacamata pelihat dan alat penilai segala pikiran, perkataan dan perilaku dengan standarisasi kebenaran dan tuntunan Illahi. Hikmat yang hanya dapat dimulai dengan penaklukan diri dan takut akan Tuhan sehingga akal budi yang ditemukanNYA pada saya dinyatakanNYA adalah baik. Hikmat yang pada akhirnya menuntun saya kepada pernyataan: “Bagi Dia, satu-satunya Allah yang penuh hikmat, oleh Yesus Kristus: segala kemuliaan sampai selama-lamanya!”(Roma 16 : 27).

Kata terakhir yang ingin saya kupas untuk menegaskan arah dan tujuan Filosofi Motor ini adalah tentang Motor. Mungkin anda berpikir, untuk apa dijelaskan, toh semua sudah tahu apa itu motor? Sekali lagi bukan hendak meng-extravaganza-kan sebuah kata, namun terkadang pengertian satu kata di satu tempat, berbeda jauh artinya jika digunakan di tempat lainnya.
Contohnya kata PASAR, untuk di hampir semua wilayah di Indonesia, kata ini bermakna tempat orang berjual beli atau sinonimnya: Pekan. Namun di Sumatera Utara khususnya di kota Medan, kata ini bermakna Jalan (Street, Inggris). Nah, jauh sekali bedanya kan?

Motor yang hendak saya maksudkan dalam Filosofi Motor ini adalah Sepeda Motor, yaitu kendaraan beroda dua yang digerakkan oleh sebuah mesin. Kedua roda yang membuat benda ini bisa bergerak maju letaknya sebaris lurus dan penggunaannya bergantung kepada pengaturan setang oleh pengendara. Bahan bakar yang digunakan saat ini biasanya premium atau publik menyebutnya bensin ataupun juga bahan bakar Pertamax yang sedikit lebih mahal namun bertimbal lebih rendah.
Ada banyak jenis sepeda motor, antara lain: Sepeda motor sport untuk balapan berkecepatan tinggi, Sepeda motor road bike sport/Standard yang berkopling dan memiliki jarak bodi dari tanah agak tinggi yang digunakan untuk keperluan sehari-hari dan dapat dikendarai pada jalan yang berbatu/berkerikil. Jenis yang lainnya lagi adalah Sepeda motor Cruiser yang memiliki torsi mesin yang besar dan mampu menarik beban besar, Motor Trail/Off-Road yang biasa digunakan di medan berat yang berbatu dan berlumpur, Moped/Bebek/Cub dan Motor Skuter Matik yang tidak menggunakan operan gigi manual, cukup dengan satu akselerasi sehingga nyaman digunakan para wanita. Untuk penggunaan sehari-hari, saya biasanya menggunakan yang berjenis Moped/Bebek/Cub. Jenis ini tanpa kopling dan kapasitas silindernya kecil. Jadi jelaslah bahwa motor yang digunakan adalah kendaraan beroda dua dan bukan motor dalam arti mobil sebagaimana istilah yang digunakan di Sumatera Utara.

Terimalah Filosofi Motor ini sebagai persembahan kecil dan sederhana dari saya. Kritiklah dan bangunkan dengan argumentasi anda yang berseberangan, atau tambahkan dengan hikmat yang ada pada anda. Segera abaikan jika anda bosan atau bahkan muak dengannya. Harapan saya, kiranya tulisan-tulisan ini memberi setitik warna pada akal budi dan logika pembaca, syukur-syukur jika bisa mencapai pintu ruangan spiritualitas anda.

Akhirnya, ijinkan saya mengakhiri bagian pengantar ini dengan kalimat Illahi: “Sebab segala sesuatu adalah dari DIA, dan oleh DIA, dan kepada DIA: Bagi DIAlah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11 : 36), Tuhan Yesus Memberkati.
                                      
*SP*

Senin, 22 Februari 2016

KEKEKALAN: KAYA Vs. MISKIN


KEKEKALAN: KAYA Vs. MISKIN
LUKAS 16 : 19 - 31
Saor R.S.S.S. Panjaitan

PENDAHULUAN

Kitab Lukas banyak mencatat perumpamaan (Parabole, Yun.) yang disampaikan Kristus dalam pelayanannya. Begitu efektifnya suatu perumpamaan dalam menguraikan suatu pokok bahasan sampai-sampai lebih dari 50 perumpamaan yang Kristus sampaikan selama pelayanannya dalam rupa manusia di tengah-tengah dunia ini.
Mulai dari perumpamaan tentang orang yang hendak membangun rumah (Matius 7:24-27), benih yang tumbuh (Markus 4: 26-29), Gembala yang baik (Yohanes 10: 1-6) dan demikian juga dengan perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus yang diuraikan dalam Lukas 16: 19-31, menunjukkan bahwa keempat kitab Injil semuanya mencantumkan tentang perumpamaan.

MAKSUD DAN TUJUAN PERUMPAMAAN

Perumpamaan orang kaya dan Lazarus, saat itu Yesus sampaikan dengan maksud untuk mengingatkan mereka para pengejek dan pencari kesalahan supaya berhati-hati karena mereka mengolok-olok pengajaran Kristus yang menentang hal-hal duniawi yang menjadi gaya hidup dan menyelewengkan nilai nilai rohaniah dalam Firman Tuhan untuk kepentingan duniawi mereka. Para pengejek itu terdiri dari para imam, rabbi, kalangan Farisi dan Saduki, tua-tua, orang-orang Herodian yang merupakan anggota-anggota dari suatu partai Yahudi yang kukuh menghendaki agar keturunan Herodes Agung saja yang memerintah atas kaum mereka dan bukan gubernur Romawi. Dalam konteks kontemporer, perumpamaan ini juga dimaksudkan mengingatkan para pecinta dunia, kaum Hedonis, penggila jabatan, para ambisius yang menghalalkan segala cara dan mereka yang mengabaikan atau bahkan tidak mempercayai adanya kehidupan kekal setelah kematian.

Tujuan yang hendak dicapai dari perumpamaan ini adalah untuk membantu tiap orang agar siap menerima kemiskinan dan penderitaan apapun bentuknya serta menjadi tameng bahkan senjata untuk melawan godaan duniawi dan berbagai kesenangan atau kenikmatan jasmani yang bersifat sementara namun melemahkan bahkan mematikan kehidupan rohani.
Dari maksud dan tujuan di atas menunjukkan betapa pentingnya perumpamaan ini dihayati oleh tiap orang karena imbasnya adalah penderitaan atau kebahagiaan kekal.

Jika dibandingkan dengan perumpamaan-perumpamaan lainnya seperti penabur dan benih gandum, anak yang hilang dll., jelas yang hendak disampaikan adalah hal-hal rohani digambarkan melalui kemiripan dengan hal-hal duniawi. Sebaliknya dalam perumpamaan ini penggambaran hal-hal rohani dalam bentuk cerita atau uraian yang memperbandingkan keadaan baik dan buruk baik di dunia ini dan di dunia lainnya.
Dalam realita kehidupan sehari-hari, jelas kita melihat bahkan merasakan sendiri bahwa biasanya yang miskin namun saleh sering kali diabaikan, diperlakukan tidak adil, disakiti bahkan mati sengsara, sementara bagi yang kaya, begitu dimuliakan, disanjung, ditakuti bahkan dijilat sedemikian rupa dan ketika mati dilakukan prosesi yang menampilkan kemewahan walaupun di dalam kekekalan pada akhirnya adalah kebalikannya.
ORANG KAYA DAN LAZARUS

Perumpamaan ini diawali dengan pengisahan subyek yang dinyatakan tegas sebagai orang kaya dengan tampilan diri dan kehidupan kesehariannya.
Orang kaya (Dives, Lat; Plousios, Yun) dalam ayat 19 digambarkan selalu berpenampilan dengan pakaian jubah ungu dan kain halus dan hari-harinya adalah kesuka-riaan karena mampu menyajikan kemewahan yang hanya sedikit orang mampu melakukannya.
Bagi orang kaya selain berpakaian mahal tentunya tubuh dan lingkungannya bersih, harum dan indah. Selain itu di rumahnya tentu tersedia banyak makanan yang dikelola dan dilayani oleh banyak pelayan. Tidak hanya di rumah, dimanapun tempat yang dikehendaki untuk mendapatkan makanan enak dan mahal tentunya mudah didapatkannya. Seringkali orang kaya mengadakan jamuan makan di rumahnya bukan karena kemurahan hatinya namun sebenarnya untuk menunjukkan eksistensi diri demi mendapatkan penghormatan dan kemuliaan dari  yang diundang.
Jika kita menghadiri undangan makan dari orang kaya, dari begitu banyaknya makanan biasanya banyak yang tersisa karena tentunya prestise pengundang akan jatuh jika makanan yang disajikan pas-pasan atau bahkan kurang. Saat penyajian sampai pemberesan jamuan makan tentunya tidak dikerjakan sendiri oleh si kaya, melainkan menggunakan pelayan. Semakin banyak pelayan yang melayani semakin jelas bagi para undangan betapa kayanya dia.

Sekali waktu saya diundang jamuan makan di rumah seorang teman yang kaya raya di kawasan Tangerang. Undangan dalam rangka ulang tahun anaknya itu dihadiri banyak orang. Makanan yang disajikan dipesan melalui perusahaan penyedia jasa katering dan dilayani oleh beberapa petugasnya. Berbagai jenis makanan baik sekedar kudapan sampai makanan berat seperti steak dengan daging sapi impor langsung dari Australia tersedia saat itu. Minuman dan buahpun beraneka macam. Saking banyaknya saya bingung memilih mana yang harus dimakan karena seandainya satu-satupun dicicipi tentunya akan sangat mengenyangkan dan tidak semua bisa dinikmati. Selesai jamuan makan, para tamupun masih dibekali makanan untuk dibawa pulang karena memang masih banyak yang tersisa.
Dilain waktu sayapun pernah diundang ikut makan di sebuah restoran besar di kawasan Serpong Tangerang. Saat itu yang diajak makan siang lebih dari 40 orang. Semua makan dengan kenyang bahkan ada yang membawa makanan untuk dibawa pulang. Saya perkirakan saat itu sekali makan, pengundang menghabiskan dana lebih dari tujuh juta rupiah! Kekayaan memang membuat seseorang lebih leluasa menentukan pilihannya.

Perjanjian lama dan baru menegaskan bahwa kekayaan merupakan berkat atau berasal dari Tuhan (Ulangan 8 : 17-18; 1 Tawarikh 29:12). Tokoh Perjanjian Lama yaitu Abraham digambarkan kaya raya. Kejadian 24:35 merinci kekayaannya terdiri dari kambing, domba, lembu, sapi, unta dan keledai dalam jumlah besar juga memiliki emas dan perak serta budak-budak baik lelaki maupun perempuan. Tentunya di luar itu masih ada kepemilikan atas tanah yang luas.
Berkat kekayaan yang diyakini dari ALLAH diberikan agar dapat membantu yang miskin dan menghidupi keluarga besar serta abdi-abdinya. Ada suatu tanggung jawab yang berupa penyaluran berkat bagi orang orang disekelilingnya.

Perjanjian barupun menegaskan bahwa kekayaan diberikan untuk membantu yang miskin, namun demikian tentang kekayaan banyak diulas negatif karena dapat menjadi pameran kesombongan, menimbulkan ketidak adilan, dan menjauhkan manusia dari tujuan dasar kehidupannya yaitu memuliakan Allah.

Mari kita perhatikan dengan detil ayat demi ayat dalam perumpamaan ini khususnya tentang si kaya.
Ayat 19 tidak memberitahukan bagaimana orang kaya tersebut mendapatkan kekayaannya. Apakah dari menipu, memeras ataupun merampas. Tidak dicantumkan juga apa pekerjaan dari orang kaya tersebut. Di bagian akhir ayat 19 sekalipun digambarkan dia selalu bersukaria dalam kemewahannya setiap hari namun tidak ada disebutkan dalam kesukariaan tersebut dia mabuk-mabukan atau membuat orang lain mabuk.
Ayat 20 memperlihatkan sekalipun kaya raya namun dia tidak mengusir ataupun menyuruh mengusir bahkan melakukan kekerasan kepada pengemis yang berbaring dekat pintu rumahnya. Tentunya dia mengetahui jika ada pengemis di dekat pintu rumahnya. Kita bisa menduga bahwa orang kaya ini mungkin mengenal Lazarus atau sering melihatnya di depan rumahnya sehingga dia tidak mengusir Lazarus apalagi kondisinya yang menjijikan itu.

Pada ayat 21 disebutkan ada anjing-anjing datang dan menjilati borok Lazarus. Jika anjing-anjing tersebut bukan milik si kaya, tentunya dia akan segera menyuruh pelayan pelayannya untuk mengusir anjing-anjing tersebut karena selain mengganggu juga merupakan binatang yang najis bagi orang Israel. Anjing-anjing ini tentunya hewan peliharaan si kaya demi memperlihatkan prestisenya ataupun juga digunakan sebagai binatang pemburu untuk menyalurkan hobi atau kesenangannya.
Bayangkan, anjing yang adalah hewan najis, diberi makan dan dirawat dengan baik namun ironinya adalah anjing sendiri masih bisa meringankan borok Lazarus yang berdarah dan bernanah dengan menjilatinya!

Hal lain yang dapat kita lihat dari si kaya ini adalah bahwa tentunya dia bukanlah seorang ateis yang tidak percaya sama sekali akan adanya Allah karena pada ayat 24 dia memanggil Abraham dengan panggilan Bapa. Bagi orang Israel Abraham adalah Bapa leluhur bangsa Yahudi (Kejadian 11 – 25). Melalui Abrahamlah diturunkan bangsa Israel dan lewat Musa hukum Taurat diturunkan. Artinya si kaya mengetahui, mengakui dan besar kemungkinan juga mempelajari hukum taurat atau Firman Allah.
Selain itu, tentunya si kaya ini bukanlah dari kalangan Saduki, karena dalam pengisahan perumpamaan ini disebutkan kehidupan setelah kematian, sesuatu yang sangat ditentang oleh kaum ini. Orang Saduki tidak mengakui adanya kebangkitan dan keadaan yang akan datang setelah kematian.

Rincian tentang si kaya tentunya menimbulkan polemik bagi kita. Apakah Kekristenan melarang seseorang menjadi kaya?
Kaya bukanlah dosa karena Tuhan sendiri yang menyatakan bahwa kekayaan adalah berkat yang berasal dariNYA. Jika memang berasal dari Tuhan tentunya bukanlah dosa.
Berpenampilan kaya karena memang kaya seperti memakai baju mahal, perhiasan, memiliki rumah mewah atau beberapa rumah, menggunakan mobil mahal bahkan mungkin pesawat pribadi, deposito gemuk di beberapa bank, liburan ke luar negeri dan bentuk aktifitas yang mampu dilakukan karena memiliki kekayaan yang melimpah juga bukanlah dosa. Demikian pula bila kita bisa makan enak setiap hari baik di rumah maupun di restoran mahal bahkan sambil mengajak teman dan saudara juga bukanlah dosa. Jangan apriori terhadap kekayaan sebelum kita tahu darimana dan untuk apa kekayaan tersebut dimanfaatkan.
Bukankah jika kita kaya maka akan lebih mudah untuk bisa menjadi saluran berkat bagi orang lain? Pelayanan gereja juga akan lebih variatif dan leluasa jika tersedia dana yang dikumpulkan dari anggota-anggota jemaatnya yang kaya dan mengerti dengan baik bahwa kekayaannya didapatkan untuk kemudian menjadi alat kemuliaan Tuhan?

Sekarang mari kita lihat tentang si miskin Lazarus. Subyek dalam perikop ini bukanlah Lazarus saudara dari Maria dan Marta yang dibangkitkan oleh Yesus dalam Yohanes 11 dan 12. Tidak ada kaitan sama sekali antara kedua orang tersebut.
Nama Lazarus berasal dari kata Ibrani El Azar yang artinya God  has helped atau Allah telah menolong. Suatu nama yang tepat sekali jika kita merenungkan kisah perumpamaan ini secara utuh sampai akhirnya.

Lazarus dikisahkan adalah seorang pengemis (Beggar). Saking miskinnya, dia tidak memiliki apapun sehingga harus meminta-minta demi mempertahankan hidupnya dari hari ke hari.
Kata miskin dalam perikop ini menggunakan kata Yunani: Ptochos yaitu miskin yang sama sekali tidak memiliki apapun. Jika kita bandingkan dengan janda miskin pada Lukas 21 : 1-4, maka pada ayat 2 kata miskin yang digunakan adalah Penes karena dia masih memiliki 2 peser, namun ketika kedua peser tersebut sudah diserahkan maka pada ayat 3 digunakan kata Ptochos artinya miskin yang sudah tidak punya apa-apa lagi.

Miskinnya Lazarus adalah miskin yang sangat menderita karena selain tidak memiliki apapun, tubuhnya sakit bahkan disebutkan penuh borok terbuka yang bernanah. Jangankan untuk berobat, menyediakan perban untuk membalut boroknya saja dia tidak mampu, sedangkan untuk makan saja, dia mengandalkan remah-remah yang jatuh dari meja makan si kaya. Kelihatan di sini Yesus menggambarkan suatu penderitaan yang luarbiasa dalam kehidupan fana Lazarus. Tapi kisah tidak berhenti disini (ayat 23a)

Ayat 19 sampai 23a adalah pengisahan dalam kehidupan di dunia yang fana. Mulai ayat 23b kisah dilanjutkan pada kehidupan sesudah kematian. Proses memang penting namun hasil akhir adalah segalanya. Jauh lebih banyak ayat yang mengisahkan dalam kehidupan kekekalan dibandingkan saat di dunia. Begitu pentingnya untuk kita perhatikan, agar hidup ini diarahkan dan dijalani dengan fokus pada kehidupan abadi.

DIALOG DI ALAM SANA

Kisah di alam sana dimulai dari ayat 23b. Kristus menegaskan pada ayat ini bahwa ketika si kaya itu mati, maka serta merta atau langsung tanpa ada prosesi lainnya dia mengalami penderitaan yang luarbiasa sebagai akibat dari pilihan hidup semasa di dunia.
Bagian ini harus dicermati karena mengandung konsekuensi dogmatika yang sensitif berkaitan dengan dunia orang mati. Kristus menyatakan bahwa mereka yang mati dalam dosa segera langsung dihukum, tidak istirahat sejenak di alam kubur ataupun menunggu di suatu tempat tanpa terjadi apapun. Bagian ini tentunya merontokkan argumen para ateis yang tidak mempercayai adanya Tuhan, kaum Saduki yang menyatakan tidak ada kehidupan setelah kematian ataupun dogma yang mengajarkan bahwa karena Allah itu kasih maka tidak ada penghukuman kekal di alam sana. 2 Petrus 2:4 memang menyebutkan adanya hari penghakiman, dan malaikat-malaikat yang berdosa serta para pendosa akan dilemparkan ke dalam gua-gua yang gelap untuk disimpan sampai hari penghakiman. Perhatikan, penyimpanan ini bukan berarti belum dilakukannya penghukuman. Penyiksaan sudah langsung dilakukan saat pendosa mati dan hidup dalam penderitaan kekal. Demikian juga mereka yang diselamatkan, ketika mati langsung dibawa oleh para malaikat ke sorga. Artinya langsung mendapatkan penghiburan dan kebahagiaan kekal.

Matius 5:22, 29, 30; 8:12; 10:28; 18:9; 23:15, 33; Lukas 12:5; Yakobus 3:6 menyatakan bahwa tempat penghukuman tersebut adalah neraka (Hades), berada di bawah, sangat gelap, penuh dengan ratapan dan kertakan gigi dan tidak terseberangi/terhubung dengan tempat dimana Abraham digambarkan memangku Lazarus dan tempat tersebut adalah tempat penghiburan yang membahagiakan (sorga).

Menariknya adalah bahwa dari tempat penghukuman kekal tersebut, si kaya bisa melihat Lazarus dari kejauhan namun ditegaskan tidak terseberangi sehingga tidak mungkin yang berada di neraka untuk mendatangi sorga demikian pula sebaliknya. Bahkan Abraham sendiripun tidak dapat menyeberangi atau mendatangi tempat si kaya.

Dialog di alam sana dibuka dengan panggilan Bapa kepada Abraham oleh si kaya. Dari panggilan ini jelas membuktikan bahwa si kaya adalah dari keturunan Abraham walaupn tidak disebutkan dari suku apa. Sebagai keturungan Abraham tentunya dia pernah mendapatkan firman Tuhan. Abraham pun memanggil dia dengan sebutan Anak. Jika dia adalah anak Abraham, suatu ironi yang menyakitkan ketika seorang Bapa pun tidak bisa sama sekali untuk menolong anaknya yang sedang menderita kesakitan, bahkan hanya untuk sekedar memberikan setetes air!

Abraham melanjutkan, bahwa si kaya sudah menerima segala yang baik. Artinya segala yang enak, menyenangkan, membahagiakan, membanggakan dalam versi dunia. Tidak ada disebutkan secara signifikan tentang perbuatan jahat atau perlakuan jahat kepada sesamanya. Bagian dialog ini seharusnya membuat kita waspada dan instropeksi diri khususnya dalam hal menikmati dan mengelola segala berkat yang telah Tuhan berikan.
Bagian ini juga mengingatkan kita pada Matius 25:31-46 tentang penghakiman terakhir. Kristus memposisikan dirinya sebagai seorang lapar, haus, asing, telanjang, sakit dan dipenjara. Respon atau perlakuan terhadap orang-orang yang demikian menentukan kita sebagai domba atau kambing, ke sebelah kiri atau kanan, ke sorga atau neraka.

Dialog berikutnya adalah permintaan dalam rangka penyelamatan anggota keluarga si kaya yang masih hidup di dunia. Setelah gagal meminta tetesan air, disampaikan apa masalahnya sehingga ada di neraka, penegasan tidak adanya kemungkinan untuk menyeberang dari neraka ke sorga maka si kaya mencoba upaya terakhir yaitu meminta Abraham menyuruh Lazarus kembali ke dunia untuk mengingatkan saudara-saudaranya yang lain agar jangan dihukum seperti dirinya. Ini mengesankan suatu kebaikan dalam rangka penyelamatan. Sayangnya, niat baik inipun juga ternyata hanyalah kesia-siaan.

Dari dialog terakhir ini (ayat 27-31), ada beberapa hal yang sangat menarik dan perlu kita renungkan dengan mendalam karena merupakan pengajaran langsung oleh Kristus tentang dunia orang mati yaitu:

1.         Pengharapan atau permintaan apapun dari seorang terhukum tidak mungkin lagi akan dikabulkan. Ketika gerbang kematian datang, maka segala sesuatu yang menjadi permintaan dan pengharapan manusia baik bagi dirinya sendiri maupun orang lain tidak dapat lagi dilakukan. Sekaya apapun seseorang, pilihan bebasnya akan segala sesuatu yang sebelumnya dapat dilakukan karena kekayaannya, akan sia-sia dan lenyap (Lihat Yakobus 1:11).
2.          Tidak ada lagi hubungan apapun bentuknya antara yang hidup dengan yang mati. Dunia dipenuhi dengan berbagai agama dan aliran kepercayaan bahkan sinkretisme antara keduanya. Kebanyakan dari agama dan kepercayaan tersebut meyakini bahwa masih ada hubungan aktif maupun pasif antara yang hidup dan mati. Implementasi atas hal tersebut dilakukan berupa pengiriman doa bagi yang sudah mati, berbuat saleh agar orang tua yang sudah mati bisa terimbas atas pahala-pahala yang didapatkan oleh keturunannya yang masih hidup dan saleh, meminta berkat dari orang tua maupun nenek moyang yang sudah mati, menyediakan bangku khusus bagi orang tua yang sudah mati saat perjamuan makan, bahkan sampai ritual pemanggilan arwah dari keluarga yang sudah mati. Perikop ini telah tegas mengajarkan bahwa tidak ada lagi hubungan apapun bentuknya antara yang hidup dan yang mati, waspadalah, jangan tersesat dan disesatkan!
3.         Peringatan akan hukuman kekal, pekabaran Injil, penobatan seseorang tidak dapat dilakukan oleh mereka yang sudah mati. Siapapun yang menyatakan bahwa dia dibangkitkan dan diutus dari neraka atau sorga untuk mengingatkan yang hidup adalah kebohongan belaka. Hanya Tuhan sendiri yang karena kasihNYA datang dalam rupa manusia, disiksa, mati dan dikuburkan lalu bangkit pada hari ketiga dan berinteraksi dengan orang-orang yang dikehendakiNYA untuk menggenapkan kasih Allah bagi manusia dengan pengorbanan Kristus yang telah bangkit mengalahkan maut. Karena DIA Tuhan maka hanya DIA yang bisa melakukan ini, dan bagi yang percaya dan bertobat dan hidup sesuai dengan Firman Tuhan, maka dia akan mendapatkan keselamatan yang kekal.
4.         Klaim seseorang yang menyatakan dia pernah mati dan hidup kembali atau bahkan bolak-balik dari dunia ke alam sana, haruslah diwaspadai dan meminta hikmat dari Roh Kudus apakan hal semacam itu sesuai atau tidak dengan Firman Tuhan. Otoritas kebenaran sejati hanyalah milik Tuhan, termasuk juga dalam menilai pengajaran yang berkaitan dengan orang yang mati hidup kembali atau mengisahkan tentang perjalanannya ke alam sana. Ayat 29 menyatakan bahwa kesaksian Musa dan para Nabi serta Firman Tuhan dalam Alkitab serta tuntunan Roh Kudus sebenarnya sudah lebih dari cukup untuk mengingatkan yang hidup akan adanya hukuman kekal.

Begitu penting dan sensitifnya tentang kehidupan setelah kematian, maka mari kita belajar kebenaran Firman Tuhan dan hidup didalam kebenaran itu.

APA MASALAHNYA DENGAN KEKAYAAN?
Sudah ditandaskan bahwa menjadi kaya bukanlah dosa. Namun bagaimana menikmati dan mengelola kekayaan itulah yang menjadi masalahnya. Masalah dengan kekayaan biasanya menimbulkan hal-hal berikut ini:

Kekayaan memberikan godaan yang kuat dan besar kepada yang memilikinya karena kehidupan si kaya yang dalam kemewahan dan kenikmatan jasmaniah sering membuat lupa akan Allah dan kehidupan setelah kematian. Kekayaan membuat upaya peningkatan gaya hidup yang sehat ataupun penyembuhan atas sakit lebih leluasa untuk dilakukan. Sejatinya memang kesembuhan itu berasal dari Tuhan. Tiap kesembuhan ataupun umur panjang adalah dari Tuhan, namun logika sering pada akhirnya menjerat manusia pada cara pandang bahwa karena kemampuan menyediakan segala sesuatu demi menunjang kesehatan dan penyembuhan medis yang terbaik karena keleluasaan memilih pengobatan yang berbayar membuat manusia lupa akan Allah. Kekayaan membuat si kaya meletakkan kepercayaannya pada usaha sendiri maupun manusia lainnya (Amsal 11:28).

Kekayaanpun dapat menjadi sumber kesombongan. Bukankah ketika kita mempertontonkan kesuksesan hidup atau gaya hidup dengan benda-benda yang melambangkan kekayaan dan kemewahan merupakan kesombongan? Disaat disekeliling kita banyak orang miskin atau sederhana namun kita mempertontonkan kemewahan, sebenarnya kita sudah melakukan  pemisahan atau pembedaan terhadap manusia berdasarkan kekayaan dan  ini adalah kesombongan. Tuhan mengingatkan dalam Yeremia 9:23 agar orang kaya jangan bermegah karena kekayaannya, sedangkan Yehezkiel 28 : 1 – 10 mengingatkan bahwa kesombongan karena kekayaan akan berakhir dengan kematian.

Kekayaan identik dengan pesta pora. Berpesta berarti merayakan sesuatu dengan sukaria dan makan minum, sedang kan berpesta pora adalah suatu pesta yang besar dan meriah. Dalam pesta yang seperti ini yang diundang adalah kalangan tertentu yang memenuhi kriteria dan biasanya dikategorikan sama atau lebih statusnya dari pengundang. Pesta pora adalah prestise. Segala hal yang disiapkan, dirayakan dan dinikmati dalam pesta tersebut diupayakan menunjukkan status sosial si pengundang. Hanya orang-orang kaya atau yang berlagak kaya lah yang dapat melakukan pesta pora. Ketika pesta berlangsung biasanya segala sesuatu akan berlimpah-limpah. Jarang sekali mereka yang sedang berpesta pora ingat pada yang miskin dan menderita, sehingga tidak mungkin saat suatu pesta pora dilakukan, didalamnya juga diundang para gembel, anak jalanan, penyakitan, penghuni panti jompo dan panti asuhan bahkan pembantu rumah tangga pun mungkin hanya bisa di belakang dan tidak boleh nampak di hadapan para tamu. Kekayaan mengakomodir pesta pora dan anti pada keprihatinan, kemiskinan dan penderitaan! Lukas 21:34 mengingatkan supaya kita menjaga diri supaya hati ini jangan sarat oleh pesta pora dan kemabukan serta kepentingan-kepentingan duniawi dan supaya hari Tuhan jangan dengan tiba-tiba jatuh ke atas kita seperti suatu jerat.

Kekayaan memperbesar peluang seseorang melakukan percabulan, kecemaran, penyembahan berhala, perseteruan, perselisihan, roh pemecah, kedengkian, pembunuhan, menghalalkan segala cara, suap, dan perilaku manipulatif lainnya (Galatia 5 : 19 – 21).

Kekayaan pada akhirnya dapat menghimpit dan mengecilkan peluang manusia untuk berbuah bagi Tuhan. Perumpamaan tentang seorang penabur dalam Lukas 8 : 14 menyatakan bahwa kekuatiran, kekayaan dan kenikmatan hidup bagaikan semak duri yang menghimpit benih yang jatuh di dalamnya. Si kaya sudah mendapatkan benih dan benih itu tumbuh tapi tidak berbuah karena kekayaannya itu. Bagaimana akan memasuki kerajaan sorga ketika kekayaan itu tidak menjadi berkat atau tidak berbuah dalam kehidupannya di dunia ini.

Setelah diuraikan apa yang menjadi masalah dari kekayaan itu, maka pelajaran dan peringatan yang Tuhan Yesus ajarkan dari perumpamaan tentang orang kaya dan Lazarus adalah:

1.         Si kaya TIDAK PEDULI pada Lazarus. Ayat demi ayat tidak ada secara rinci dan tegas menyatakan jenis kejahatan yang dilakukan oleh si kaya. Persoalan utamanya hanyalah ketidakpeduliannya kepada si miskin.
2.         Si kaya TIDAK PERNAH SERIUS terhadap Firman Tuhan. Dia pernah mendengar, mempelajari bahkan hidup beragama namun dia melakukannya dengan serius dan benar.

Hal lainnya yang bisa kita dapatkan dari perumpamaan ini adalah:

1.         Kekayaan atau kemakmuran bukanlah tanda atau jaminan bahwa kita sudah diberkati dan berkenan di hadapan Tuhan, demikian pula kemiskinan bukanlah indikator yang membuktikan bahwa si miskin ditolak atau tidak diberkati Allah.
2.         Bagi yang kaya, akan kaya atau merasa kaya harus lebih waspada karena hidupnya dipenuhi oleh godaan yang mematikan.
3.         Jalanilah kehidupan ini dengan apapun kondisinya baik kaya atau miskin, sehat atau sakit, dengan berpegang teguh pada Firman Tuhan dan iman yang kokoh karena keselamatan kekal tidak ada di luar Tuhan Yesus Kristus.
Tuhan Yesus Memberkati, Amin.

*SP*

Selasa, 08 September 2015

BELAJAR YANG SEJATI


BELAJAR YANG SEJATI
 Mazmur 119, Yosua 22 : 5 dan Mazmur 63 : 9
SAOR R.S.S.S. PANJAITAN


Mengajar bukan hanya sekedar mentransfer ilmu pengetahuan bagi yg diajar. Mengajar memberi kesempatan emas kepada pengajar untuk mempersiapkan bahan ajar yg baik berdasarkan rencana pembelajaran yg jauh jauh hari telah disiapkan dan disosialisasikan kepada yang diajar. Disebutkan sebagai kesempatan emas karena persiapan bahan membuat pengajar harus belajar lagi, memperbarui ilmu yang dikuasai berdasarkan kemajuan jaman, menyiapkan strategi pengajaran yg metodis, aplikatif dan membuka kesempatan pada yang diajar untuk bertanya atau bahkan memberi argumen terbalik atas materi yg disampaikan.
Setelah proses persiapan dan penyampaian materi selesai, pengajar juga harus mengevaluasi performanya yang bisa didapatkan dari respon dari yang diajar di ruang belajar maupun nilai ujian yang dihasilkan. Merupakan keprihatinan yang mendalam bagi pengajar jika ternyata nilai akhir dari yang diajar mayoritas tidak memenuhi standar minimal yg dipersyaratkan, bahkan bagi pengajar yg baik, satu saja dari yang diajarnya tidak berhasil itu merupakan keprihatinan yg mendukakannya.
Ketidak berhasilan mungkin saja karena faktor kekurangmampuan akademik maupun ketidak mampuan menggunakan proses belajar dengan baik. Faktor ini tentunya dari yang diajar. Bisa juga karena ketidakmampuan pengajar dalam menjabarkan bahan ajar atau ketidak tegasan pengajar dalam membina dan memotivasi para terajar untuk berjuang menguasai materi ajar dengan baik.
Hal yang juga sangat memprihatinkan pengajar adalah saat proses pembelajaran berlangsung, yang diajar mengabaikan pengajaran yg diberikan. Respon seperti ini sebenarnya adalah suatu pengabaian yang menunjukkan kurang atau bahkan tiadanya respek yang diajar kepada pengajar. Tidak perlu menunggu sampai masa uji akhir dilakukan, bisa dipastikan hasil negatif akan diperoleh para terajar.
Dalam konteks rohani, Pengajar sejati yg maha benar dan sempurna tentunya memberi tuntunan baik berupa bahan bahan ajar dari lingkup alam semesta yang menguatkan kebenaran materi ajar dari Pengajar sejati, interaksi sesama terajar, logika dan hati nurani bahkan tersedianya bahan ajar yg telah terkodifikasi, hasil dari titah maupun perjalanan sejarah terajar yg didokumentasikan oleh para utusannya.
Menyedihkan bagi Pengajar sejati nan agung jika para terajar mengabaikan semua bahan ajar yg sudah dibeberkan didepan mata rohani dan iman para terajar. Lebih memprihatinkan lagi jika para terajar saling menggigit dan mencakar ketika proses pembelajaran sedang dijalani para terajar. Bagaimana mungkin dapat mengarahkan seluruh eksistensi diri kehadapan Pengajar sejati jika masih menyibukkan diri untuk mencakar diantara sesama terajar.
Andaikanpun saat proses belajar itu para terajar mengklaim sedang menghayati dan mengaplikasikan semua bahan ajar dari Pengajar sejati, pastilah itu hanya pepesan kosong berwarna kemunafikan dan seruan-seruan para terajar yg mencoba membela diri dengan meneriakkan bahwa mereka sedang mempraktikkan bahan ajar dari Pengajar sejati hanya akan terdengar bagaikan lolongan lirih yang dari kualitasnya pun jelas meragukan dan memprihatinkan.
Perhatikan: Bahan ajar dari Pengajar sejati dan agung hanya dapat dihayati dan diimplementasikan ketika kita betul betul melekat kepadaNYA.TYM.

*SP*